Hari sudah siang ketika Dita sampai di salon. Dia yang selama ini selalu sabar nyatanya tidak bisa untuk hari itu. Entah apa yang membuat Dita begitu kesal dengan tunangannya?
Dita yang cemberut dan uring-uringan menarik perhatian karyawan lainnya. Mereka yang selalu melihat gadis itu penuh senyum, hari itu penuh kegalauan.
"Mbak Dita kenapa? Mbak Dita kelihatan kesal dan tidak bersemangat?" tanya salah satu karyawan yang melihat perubahan sikap Dita.
"Iya, Mbak Dita kenapa? Sejak mau menikah sukanya galau, galau terus. Apa ini yang namanya godaan sebelum menikah?" timpal yang lain.
Dita menghela nafas, dia menatap teman-teman yang perduli padanya, kemudian mengerucutkan bibirnya sendiri seperti orang yang kehilangan harapannya. "Aku hanya lelah," jawabnya tidak jujur kepada teman-teman kantornya. Tidak mungkin untuk seorang Dita menjelekan atau membicarakan aib calon suaminya kepada orang lain.
"Yah Mbak Dita tidak mau kasih tau. Jelas-jelas Mbak Dita galau gini," ucap seorang teman kerjanya dengan perhatian. Dita berterimakasih untuk itu, untuk rasa perduli mereka terhadapnya tetapi Dita tidak bisa menceritakan masalah pribadi terhadap orang lain terlebih kepada banyak orang.
Tidak mau menjadi fitnah, Dita memilih diam dan menyimpannya sendiri.
Dita kembali bekerja dengan profesional seperti biasanya. Tidak ada Ibu Diana membuat tanggung jawab Dita lebih besar. Dita mengurus sana-sini.
Tidak terasa sudah jam makan siang, Dita bersiap untuk makan tetapi ingat bahwa tunangannya belum makan apapun. Sebagai calon istri yang baik, Dita bergegas membeli makanan untuk kekasihnya.
Satu paper bag berisi makanan dan satu botol air sudah ditentengnya. Dia berencana untuk pergi ke kampus, dia ingin menemui tunangannya itu.
Dengan semangat Dita memesan taksi online. Dia menunggu di depan salon beberapa detik sampai mobilnya datang.
Tidak begitu lama menunggu, taksi online itu datang. "Dengan Mbak Dita?" tanya sopir itu yang dibalas anggukan oleh Dita. Gadis itu masuk kedalam taksi yang melaju cepat membawanya ke kampus Jeno.
Sudah beberapa menit, Dita sudah sampai di gedung universitas. Dia segera masuk, berharap kekasihnya akan menyukai surprise darinya. Dita berjalan memasuki gedung kampus, menyusuri koridor kampus dan sampai di depan kantor tempat dosen beristirahat.
"Permisi!"
Dita sangat sopan, dia disambut baik para dosen di tempat itu. "Ada yang bisa kami bantu nona?" tanya seorang dosen dengan ramah.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Juna. Apa Pak Juna ada di tempat?" tanya Dita dengan lembut.
"Oh Pak Juna saya lihat pergi ke taman kampus. Mungkin Pak Juna sedang bersantai atau membaca buku di sana," jawab seorang dosen yang melihat Jeno pergi ke arah taman.
"Terimakasih. Kalau begitu saya pamit dulu," ucapnya.
Dita meninggalkan kantor dosen, dia kembali menyusuri koridor untuk keluar kampus. Dita masih terus berjalan ke arah taman kampus sesuai informasi yang dia terima.
Na... Na... Na...
Sedikit bersenandung gadis itu berjalan ceria. Wajah cantiknya tidak kalah dengan kebanyakan mahasiswi cantik di tempat itu. Dita sudah berada di taman kampus, dia menoleh kanan-kiri mencari sosok Jeno. Dita yang belum menemukannya mencoba lebih masuk lagi ke taman itu.
Dita terus berjalan sampai akhirnya....
PRAAK!
Paper bag yang dia tenteng jatuh ke tanah, makanannya tumpah saat itu. Melihat Jeno dengan wanita lain dan terlihat mesra, hati Dita sakit. Dia tidak tahan melihat seseorang yang selama bertahun-tahun tumbuh besar bersama dan begitu dia cintai, pada kenyataannya Jeno mampu berbuat hal yang menyakiti hati Dita.
Tidak wajar jika perlakuan Jeno terhadap seorang wanita dengan begitu intim. Dita dengan matanya sendiri melihat calon suaminya menggenggam tangan wanita lain dan membelai rambutnya.
Dita pergi dengan kotak makanan yang dia biarkan jatuh tumpah di tempat itu.
Setelah Dita pergi, Jeno tidak tau bahwa tunangannya itu datang. Dia hanya sedang duduk santai dan Ara mendekatinya. Karena Ara mahasiswanya, tentu saja Jeno bersikap baik walau Jeno tidak menyukainya.
"Pak Juna, bapak sudah membuat hati saya berdebar begitu cepat. Saya tidak tau kenapa bisa begitu," kata Ara yang menggoda Jeno.
"Begitu ya? Memang banyak yang mengatakan itu kepada saya. Saya tidak tau harus bagaimana jadinya," jawab Jeno.
"Oya, saya harus makan siang. Sepertinya saya harus segera pergi," kata Jeno yang segera bangun dari kursi taman. Dia segera berjalan pergi meninggalkan Ara yang sepertinya menyukai Jeno.
Jeno memasuki kantor dosen, dia hendak ke ruangannya lebih dulu kemudian berpapasan dengan dosen lain.
"Pak Juna, tadi ada seorang wanita yang mencari Pak Juna. Apa bapak sudah bertemu orangnya? Namanya Mbak Dita," ucapnya.
"Dita?" Jeno kaget mengetahui Dita datang ke kampusnya.
"Iya namanya Mbak Dita." Dosen itu mengulangi dengan sabar dan jelas.
Merasa ada sesuatu yang salah, dan menyadari paper bag yang dia lihat tergeletak di taman, Jeno yakin itu adalah milik Dita. Gadis itu mungkin melihatnya di taman dengan wanita lain.
"Aduh gawat kalau sampai Dita ngadu sama papa. Tau sendiri kalau gadis itu suka mengadu orangnya," gumam Jeno.
Jeno naik kedalam mobil, dia bergegas ke arah salon tempat Dita bekerja. Tidak lama Jeno sudah datang di salon mamanya. Dia memarkir mobil dengan cepat kemudian masuk kedalam mencari-cari sosok Dita.
Jeno lihat Dita baru saja keluar dari ruang spa. Segera Jeno meraih lengannya dan memintanya untuk bicara.
"Ikut aku, Dita!" Jeno menarik lengan Dita. Gadis itu meronta karena masih marah dengan Jeno. Melihat bahwa calon suaminya berkencan dengan wanita lain membuat hatinya sangat terluka. Dita melepaskannya.
"Aku nggak mau ikut kamu, Jun. Kamu berubah sekarang!" Dita marah, dia menghempaskan tangan Jeno ke arah lain.
"Dita kamu apa-apaan sih. Udah deh berhenti ngambeknya. Kayak anak-anak saja pake marah segala. Udah dong, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kamu hanya salah paham, Dita. Apa yang kamu lihat tidak sepenuhnya benar.
"Jadi menurut kamu yang aku lihat itu keliru? Kamu pikir mataku rabun sampai tidak bisa membedakan perlakuan kamu terhadap wanita lain, hah?!" Dita marah-marah di dalam salon itu. Semua karyawan hanya maklum dan diam saja.
Jeno yang merasa malu, segera dia menarik Dita keluar dari salon untuk bicara. "Ayo bicara di tempat lain!" ajak Jeno kepada Dita.
Dita menolak tegas. Dia masih begitu kesal dengan calon suaminya. "Tidak mau, aku tidak mau pergi denganmu. Aku masih banyak pekerjaan dan lebih baik kamu kembali ke kampus," tolak Dita yang tidak bersedia ikut.
Dirasa waktu mengajar mata kuliahnya sebentar lagi, Jeno tidak bisa berbuat banyak selain benar-benar pergi dari tempat itu. Dia harus mengajar dan menunda penyelesaian masalahnya dengan Dita.
"Baiklah, aku pergi dulu. Nanti sore aku jemput," kata Jeno.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," jawab Dita dengan tegas.
"Kamu itu calon istriku, kamu harus belajar mendengarkan perintah calon suamimu. Kalau aku bilang jemput, kamu harus mau dan menurut," balas Jeno.
Pria itu pergi dari salon ke kampusnya. Dita mendesah pelan, tidak tau harus bagaimana menyikapi calon suaminya itu.
"Enak banget dia bilang bahwa istri harus menurut dan patuh kata suami. Lihat-lihat dulu kali suaminya model gimana? Suami nyebelin semacam Juna mana bisa aku turuti begitu saja," gumam Dita kepada calon suaminya, Jeno.