Menutup Rapat Rahasia

1028 Kata
Pesta pertunangan sudah usai. Satu persatu tamu undangan sudah pulang dan hanya tersisa beberapa orang saja. Dita yang kehilangan Juna di sampingnya, dia mencarinya. Sepanjang mata mencari tetapi Juna tidak terlihat. Tak lama ponsel miliknya bergetar menunjukan notifikasi pesan w******p. Pesan itu dari Pak Artama yang mengabari bahwa dia sudah pergi lebih dulu karena ada urusan mendadak. Dita memahaminya dengan langsung membalas jika dia tidak apa-apa dengan menyematkan emoticon semangat untuk calon mertuanya. Dita kembali mencari Juna setelah membalas pesan. Setiap tempat dan lorong yang dilewatinya tidak ada Juna ataupun bayangannya. Pria itu menghilang begitu saja entah kemana.   Dita heran, tidak biasanya Juna bersikap seperti itu padanya apalagi meninggalkannya begitu saja tanpa kabar. Tapi kini, Juna benar-benar melakukan hal itu di hari pertama mereka bertunangan. Rasa kesal mulai menjalari darah gadis itu. Dia tidak percaya Juna berubah sangat aneh. "Juna kerasukan apa sebenarnya? Kenapa mendadak aneh dan menyebalkan gini?" Dita menggerutu sendiri. Merasa Juna sudah pergi dari gedung itu, dia memutuskan memesan taksi online untuk mengantarnya pulang. Dita sedikit sedih karena orang-orang terdekatnya meninggalkan dirinya saat itu. Ibu Diana bahkan tidak hadir di hari pertunangan itu. Dita tidak tau apa alasan calon ibu mertuanya pergi begitu saja tanpa pesan apapun. Dia semakin dibuat penasaran atas bungkamnya Pak Artama ketika dia mempertanyakan Ibu Diana. Dita berdiri di depan gedung sembari melihat-lihat layar ponselnya. Dia berharap Juna menghubunginya. Beberapa kali memeriksa sampai matanya lelah, Juna tidak juga menghubungi. Merasa capek, dia memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tas. Saat dia hampir menangis kesal tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Dita antusias mengira itu Juna, dia buru-buru membalik badan untuk melihatnya. Sekali lagi Dita menelan kekecewaan karena yang menepuk pundaknya adalah Mina. Wanita itu adalah salah satu karyawan di salon Ibu Diana yang juga rekan kerjanya. Ya, karena Dita ikut bantu-bantu di sana. Lebih tepatnya Dita adalah asisten Ibu Diana di salon. "Mina? Aku pikir siapa tadi?" Dita tersenyum pupus saat melihat Mina. Bukan tidak suka melihat gadis itu hanya saja berharap itu Juna. "Maaf mengagetkan nona. Saya melihat nona berdiri sendirian dan saya teringat gelang mutiara milik nona," kata Mina dengan sopan. "Oh, bagaimana dengan gelang ku?" tanya Dita yang mengingat gelang yang tercecer sebelumnya. "Saya mengumpulkannya dan memeriksa dengan teliti. Saya sudah pastikan tidak ada lagi yang tertinggal. Nona bisa memeriksanya," jawab Mina sembari menyodorkan butir-butir mutiara yang dia letakan di kantong kecil transparan. Dita mengambilnya dengan senang hati. Sesaat dia lupa kesedihannya karena Juna meninggalkannya sendirian di gedung pertunangan. Setelah Mina berpamitan pergi, Dita kembali sendirian meratapi nasibnya yang memilukan. Namun semua itu tidak berlangsung lama karena taksi online yang dipesannya sudah datang menjemput. "Dengan Nona Adistia?" tanya supir taksi untuk memastikan penumpangnya. Dita hanya mengangguk dan naik ke dalam mobil itu kemudian kembali melamun nyaman. Mobil melaju membawanya untuk pulang ke pondok indah, tempat tinggalnya bersama keluarga Artama Adi Jaya. Sekitar 30 menit berlalu, dia sampai di depan rumah. Dita bergegas turun dan membayar taksi itu lewat aplikasi. Gadis itu tersenyum menyapa Mang Udin dan Mang Udin menyambutnya dengan ramah sembari membuka gerbang. Satpam itu tidak menunjukan gelagat aneh dan tidak bercerita apapun. Begitu juga ketika Dita memasuki rumah, semuanya nampak normal dan baik-baik saja. Mbok Anik yang menyambut kedatangannya terlihat seperti biasanya. Dita tidak curiga sedikit pun. Semuanya sudah di setting dengan rapi oleh Jeno. Pria itu pulang lebih dulu untuk mengatur semuanya supaya terlihat tidak ada kejadian apapun di rumah itu. Tentu saja dengan memberikan pengarahan kepada Mang Udin dan Mbok Anik untuk tutup mulut. Sungguh luar biasa tuan muda Jeno yang satu ini. Dia mampu menutup rapat peristiwa yang dialami Juna dari Dita. "Mbok, mama ada di rumah?" tanya Dita. "Ibu tidak di rumah, Non. Kata Den Juna ada seminar penting di luar kota." "Ada seminar dan mama tidak mengabari apapun ke Dita. Mama kenapa, ya, mbok?" Belum sempat Mbok Anik menjawab pertanyaan Dita, suara teriakan terdengar dari kamar atas memanggil nama Dita. "Dita!!!" Suara itu seperti hendak memecahkan gendang telinga penghuni rumah. Dita mengerutkan wajahnya kemudian menatap Mbok Anik. Gadis itu menghela nafas kemudian menaiki anak-anak tangga ke arah kamar.  Dita mengetuk pintu beberapa kali, terdengar suara malas Jeno menyuruhnya masuk. Pria itu meliriknya dan tersenyum arogan. Tanpa basa-basi Jeno melemparkan selimut di kamar itu ke tubuh Dita. Gadis itu reflek menangkapnya dengan sedikit terhuyung. Selimut itu sangat lebar dan besar, bobotnya juga berat karena tebal. "Cuci selimut itu dan beri aku gantinya!" Kata Jeno dengan entengnya. Dita membelalak tidak percaya dengan kelakuan dosen magang itu. Kemana Juna yang lembut dan sopan yang dia kenal. Dita sungguh tidak bisa mencerna kelakuan arogan Juna. "Sebelum tunangan panggilnya calon makmum tapi setelah tunangan panggilnya hei Dita...." Suara Dita yang bernada penuh protes tidak digubris Jeno. Pria itu belum mampu menjadi pria lembut seperti kakaknya. Dita tidak menyerah melihat pria yang dicintainya cuek-cuek saja. Dia berinisiatif berdiri dari tempatnya dan membangkang perintah pria itu. "Kenapa masih di situ? Aku capek jadi mengertilah, Honey." Dita menggaruk kepala mendengar ucapan lembut yang dilontarkan padanya terlebih memanggilnya honey. Seingatnya, tunangannya itu tidak pernah memanggil honey. "Kamu kenapa calon imam? Aku nggak ngerti dengan semua ini. Kamu berubah sangat drastis. Apa kamu itu mutan yang bisa berubah-ubah?" "Hah? Calon imam?" Jeno terkekeh. "Kan, kamu gitu lagi. Kamu aneh banget sejak pertunangan kita. Apa aku salah?" tanya Dita. Jeno menyadari sikapnya jauh berbeda dengan Juna. Dia juga bingung harus bagaimana? Seperti perang batin, Jeno tidak nyaman jika harus menjadi kakaknya. Apa boleh buat, Jeno harus sedikit merubah sikapnya lebih mirip Juna supaya Dita tidak semakin curiga. Dita yang terlihat tidak nyaman dan kesal membuat wajahnya prustasi. Melihat itu, segera Jeno berdiri mendekati tunangannya. "Aku becanda, Honey." Jeno tersenyum lembut seolah-olah sikapnya beberapa waktu lalu adalah sebuah candaan untuk tunangannya. Usahanya berhasil, Dita benar-benar mempercayainya. "Kamu sengaja melakukan ini padaku? Jangan lagi-lagi, aku tidak suka dengan sikap arogan seperti itu. Kamu seorang pendidik yang akan menjadi contoh." "Iya, maaf calon mak... Jeno berhenti, dia berpikir keras namun gagal. "Eh, apa itu tadi? Mak- makmur ya?" tanya Jeno yang benar-benar tidak ingat. Di Amerika, Jeno kurang pendidikan agama terlebih hari-harinya banyak dia habiskan di rumah sakit. "Makmum," jawab Dita dengan lembut. Dita yang awalnya kesal akhirnya tertawa kecil karena kenakalan tunangannya. To be continued reader....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN