Tunangan Pengganti

1054 Kata
Dita keluar dari ruang make up menyusuri lorong panjang di gedung itu. Tak henti dia tersenyum dengan kibasan ekor gaunnya. Terkadang dia mengingat kembali bagaimana Juna melamarnya sebelum acara beberapa hari yang lalu tepat di hari ulang tahunnya yang ke-20. Bahkan lamaran non formal itu dilakukan Juna ketika makan malam di salah satu restoran. Juna menyiapkan dinner romantis untuknya dan melamarnya di depan pengunjung yang lain. Will you marry me? Ah, mengingatnya saja membuat Dita ingin melompat kegirangan. Tak hanya sekali, Juna mengulang pertanyaan itu sebelum ada jawaban iya darinya. Rasa bahagia yang tidak tertahan membuat Dita lupa jika dirinya sedang berjalan. Tentu saja kecerobohannya itu membuatnya terpeleset di lantai licin. Untungnya dua gadis yang menemaninya di belakang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Dita selamat tetapi gelang mutiara yang diberikan Juna terputus dan berserakan ke sembarang arah, dan itu akibat cengkraman seorang gadis yang menahan tangannya. "Ah, gelang milikku. Bagaimana ini?" Dita menyisir pandangannya ke arah mutiara-mutiara itu. Dia harus mengumpulkan dan mengambilnya kembali. Walau bukan mutiara asli tetapi gelang itu dari Juna bahkan Juna sendiri yang merangkainya sewaktu mereka masih kecil. Melihat Dita panik dan sedih, gadis yang bernama Mina menawarkan diri untuk dia saja yang mengumpulkan mutiara itu. "Ini kesalahan saya jadi biarkan saya yang membereskan gelang milik nona," kata Mina. "Kamu yakin mau melakukannya?" "Tentu nona. Nona pergi saja ke tempat acara karena para tamu menunggu nona di sana." "Baiklah. Terima kasih Mina untuk bantuannya." Dita mengakhiri ucapannya dengan berterima kasih kemudian berjalan ke tempat acara. Tak butuh waktu lama, Dita sampai di tempat yang didekorasi dengan indah. Dia lihat calon ayah mertuanya sedang menerima tamu undangan. Namun aneh, nampak kesedihan di wajah pria gagah dan berwibawa itu. Dita yang penasaran mendekati Pak Artama, sejenak heran karena Ibu Diana dan Juna tidak ada di sana. Dita mendekat dan menyentuh bahu Pak Artama. Gadis itu sejak kecil dirawat Pak Artama, sudah pasti hubungan keduanya sangat dekat. Dita tidak sungkan kepadanya. "Pa, di mana mama?" tanya Dita dengan heran. Pak Artama menoleh ke arah Dita. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan gadis itu melainkan terdiam beberapa saat. Pria itu bingung harus berkata apa dan menjawab apa. "Papa kenapa? Kenapa tidak jawab pertanyaan Dita?" tanyanya lagi mendesak calon mertuanya yang terlihat linglung dan kosong di tengah keramaian. Pak Artama menatap wajah Dita seksama. Bagaimanapun dia harus menyampaikan kebenaran tentang Juna yang kecelakaan. Bahkan menurut istrinya, kondisi putra mereka tengah koma akibat keretakan di tempurung kepala. Juna pun mendapatkan luka serius dan mengalami pendarahan hebat. Pak Artama dengan terpaksa masih berada di tempat acara untuk menghormati tamu undangan dan mencari cara untuk pembatalan acara pertunangan itu. Sementara Ibu Diana berada di rumah sakit setelah mendapat kabar dari Mbok Anik. Sekali lagi Pak Artama menatap gadis polos di depannya. Gadis yang dia bawa 14 tahun yang lalu karena terlunta-lunta di jalanan. Gadis yang saat itu baru berusia 6 tahun. Dan kini, Adistia Indira Kamania yang ada di depannya sudah beranjak dewasa dan akan menjadi menantunya. Namun sayang, calon suaminya yang akan bertunangan hari ini tengah koma dan parahnya Dita tidak tau hal itu. Dita yang aneh melihat gelagat Pak Artama hanya mampu terdiam dan menunggu pria itu berbicara. Pak Artama yang faham perasaan Dita, dia pun berjalan ke tengah ruangan dan mengambil mic. Pak Artama harus mengumumkan kecelakaan yang menimpa putranya sekaligus mengumumkan pembatalan pertunangan. Namun, saat Pak Artama hendak membuka suaranya. Sosok pria tinggi dan gagah menghentikannya. "Maaf sudah membuat kalian menunggu lama." Suara lantang pria muda itu menggema di seisi ruangan membuat Pak Artama tidak jadi menyampaikan pengumuman. Semua yang ada di tempat itu menatap ke arah pria gagah yang sedang berjalan menghampiri Pak Artama dan juga Dita. Para tamu undangan sangat terpesona dengan kehadiran pria itu termasuk Dita. Gadis itu senang dan lega karena wajah yang tidak asing itu sudah muncul. Pria pujaan hatinya sudah kembali untuk acara pertunangan mereka. Tapi sikap sebaliknya justru tersirat di wajah Pak Artama, pria itu tau jika pria yang ada di gedung saat ini bukanlah Juna. Dia sedikit bingung, bagaimana bisa pria muda itu hadir begitu saja tanpa sepengetahuannya. Pria itu adalah Jeno Artama yang adalah kembaran Juna. Jeno yang selama ini dirahasiakan dari keluarga akhirnya kembali. Sejak kecil Jeno tinggal dengan neneknya di Amerika. Bukan tanpa alasan Jeno berada di sana, Jeno harus melakukan pengobatan. Sejak kecil Jeno didiagnosis menderita kelainan hati, karena itulah Jeno tinggal di Amerika dengan sang nenek. Jeno mendekat ke arah Pak Artama yang terdiam kaku. Pria itu tau apa yang ada di dalam pikiran ayahnya. "Papa jangan khawatir karena aku akan menggantikan kakak atas keinginan mama. Aku yang akan menjadi Kak Juna dan bertunangan dengan wanita itu," bisik Jeno. Mendengar apa yang diucapkan Jeno, Pak Artama tidak bisa berbuat apa-apa selain menyetujuinya terlebih semua itu atas inisiatif istrinya, Diana. Pak Artama tersenyum kemudian memeluk Jeno yang juga putra kesayangannya. Selama ini, Jeno memang dirahasiakan dari Dita dan gadis itu tidak pernah tau jika Juna memiliki saudara kembar. Dita mendekat untuk ikut bergabung dengan bapak dan anak itu. Entah bagaimana, Dita merasa tiba-tiba asing dengan sorot mata kekasihnya. Tetapi Dita tidak ambil pusing, dia beranggapan bahwa Juna nervous karena banyak orang. Selang beberapa waktu acara pertunangan itu berlangsung. Jeno yang di mata Dita adalah Juna sedang menyematkan cincin di jari manis wanita itu. Karena Jeno tidak menyukai Dita, dia memasangkan cincin itu dengan asal dan tanpa perasaan. Tidak ada ekspresi atau sedikit senyuman di wajahnya. Sekali lagi Dita merasakan ada yang aneh tetapi dia tidak mengerti apa itu? karena yang ada di depannya adalah Juna bukan orang lain tetapi sikapnya seperti orang lain. Kini Dita yang hendak menyematkan cincin di jari manis pria itu. Namun Jeno tidak peka dan tidak juga mengulurkan jari tangannya. Dita inisiatif memberi isyarat kedipan mata tetapi Jeno tidak mengerti. "Ulurkan tanganmu," pinta Dita yang akhirnya membuka mulutnya. "Untuk apa?" tanya Jeno. "Aku harus menyematkan cincin ini di jarimu," jawab Dita dengan kesal sembari mengeratkan giginya. "Oh...." Jeno dengan santainya mengulurkan tangannya dan Dita segera memasangkan cincin itu. Ini adalah pertama kalinya Dita kesal kepada kekasihnya. Baginya, Juna memang jail tetapi Juna adalah pria lembut dan penuh perhatian. Entah obat apa yang diminum kekasihnya saat itu sampai membuatnya sangat berbeda. Suara tepuk tangan menandakan pertunangan mereka sudah resmi. Dita dan Jeno resmi bertunangan hari itu. Senyum bahagia tersemat indah, yang Dita tau tunangannya adalah Juna. To be continued reader...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN