Juna masih menunggu seseorang membuka pintu untuknya. Lama menunggu, Dita belum juga membukanya. Juna berbalik badan untuk pergi ke arah paviliun dan tidur di sana. Walau hanya ada satu sofa santai di tempat itu, setidaknya bisa dia gunakan untuk tidur. Juna bergegas pergi, Dita menekan gagang pintu tetapi tidak bisa terbuka, dia lupa jika pintu itu dikunci. Ketika Dita membuka kuncinya dan tiba-tiba saja, "kamu mau ke mana? Diluar dingin, Sayang." Jeno menghampirinya, dia memanggil Dita yang hendak membuka pintunya. Dita menoleh ke arah suara yang adalah suaminya. "Itu mas, tadi ada yang ketuk pintu. Dia juga panggil nama aku," jawab Dita dengan jujur. Jeno mengerutkan dahi, dia segera mendekat ke arah pintu, "benarkah?" Jeno ragu-ragu menatap Dita. "Beneran mas, aku tidak boh

