"Aku engga bisa. Aku engga mau, tolong jangan suruh aku nurutin mau kamu meskipun ini permintaan terakhir." Pelita terisak, sibuk menutupi wajahnya yang basah karena air matanya tidak juga kunjung berhenti. Dua pria di ruangan itu, yang berbagi oksigen dengan nya memiliki ekspresi yang berbeda. Atala terus menatapnya dengan senyum sendu yang tidak Pelita sukai, sedangkan untuk Gibran, Pelita memilih untuk tidak melihat bagaimana reaksi yang sedang ditampakkan pria itu. Pria yang menurut Atala memiliki perasaan padanya, pria yang ternyata diam-diam menyukainya, setidaknya begitu lah menurut apa yang diucapkan oleh Atala. "Pernikahan ini engga bisa dibatalkan, Pel. Bukan soal biayanya yang akan terbuang sia-sia, tapi karena aku memang engga mau kalau pernikahan ini sampai dibatalkan. Tapi

