Pelita termenung di jalan pulangnya. Tangannya mendekap erat paper bag berisi sepatu yang akan dia kenakan di hari pernikahannya. Tidak disangka dari sekian banyak orang, dirinya malah bertemu dengan Gibran yang rasanya sudah lama sekali tidak dia temui. Pria itu baik-baik saja, mengobrol dengan akrab dengan seseorang yang dia kenalkan sebagai temannya. Teman curhat, jika mengutip pada ucapan gadis cantik yang duduk sambil memakan ayam goreng dengan Gibran. Dia pikir dirinya sudah baik-baik saja setelah lama tidak bertemu, pun karena belakangan Pelita cukup sibuk sehingga tidak pernah lagi memiliki waktu untuk memikirkan perasaan bodohnya. Baginya hanya Atala dan pernikahan mereka saja yang penting, perasaannya terhadap Gibran hanya bagian dari reaksi sementara karena dia kagum dengan ke

