2. Kesal

1528 Kata
Rachel telah tiba di Kampusnya, tapi karena ia datang terlambat membuat dirinya harus masuk kedalam kelas dengan diam-diam. Beruntungnya di setiap kelas di kampusnya mereka mempunyai dua pintu, yang satu di bagian depan dan yang satu lagi di bagian belakang. Seperti maling yang takut ketahuan tertangkap basah, Rachel berjalan mengendap-ngendap sambil menunduk untuk sampai di salah satu tempat duduk yang masih kosong yang berada di paling belakang. Dan yah ia berhasil duduk di tempat itu. Hadis itu pun mengikuti mata kuliah dari sang dosen di depannya dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Sekitar satu jam berada di dalam kelas, akhirnya jam dari dosen tersebut selesai. Sebenarnya jam dosen itu mengajar sampai dua jam, tapi Rachel yang terlambat satu jam hanya bisa mengikuti kelas itu selama satu jam. Rachel memasukkan buku catatan kedalam tas setelah itu ia beranjak keluar. Oh iya Rachel yang jutek membuat ia tidak banyak teman, bukannya tidak ada yang ingin berteman dengannya, tapi karena Rachel sendiri yang menghindar dari mereka karena suatu hal. Saat ini Rachel telah berada di kantin kampusnya, ia sedang memainkan ponselnya sambil menikmati jus Alvokat yang ia pesan tadi. Tidak lama kemudian seorang gadis menghampirinya. Siapa lagi jika bukan sahabat dari kecilnya yaitu Salsha. "Oy neng, sendirian aja nih." Salsha duduk di kursi depan yang berada di depan Rachel. "Yah emang gue sendiri. Terus lo maunya gue sama siapa?" Ketus Rachel, karena ia masih sangat kesal mengingat kejadian tadi pagi saat ia akan berangkat menuju ke kampus. "Eh ada apa nih? Kok bicaranya ketus gini? Huh makanya cari pacar dong biar nggak duduk sendiri terus. Apalagi ini sampai bicara kesal tanpa sebab lagi." Ucap Salsha sambil melihat Rachel yang sibuk memainkan ponselnya, dan sesekali meminum jus Alvokatnya menggunakan sedotan. "Males." Jawab singkat Rachel dan kembali memainkan ponselnya. "Ini nih sifat lo yang nggak gue suka, selain sifat menyeramkan lo itu." Rachel meletakan ponselnya di atas meja dan melihat ke arah Salsha. "Emang gue serem? Gue bukan hantu kali." Salsha tertawa garing mendengar perkataan Rachel, entah sahabatnya itu sedang melawak atau bagaimana. "Wah nggak nyadar nih anak. Lo kalo sampai marah, udah ngalahin guru BK tau nggak?" "Oh. Lo diam dulu jangan banyak omong karena lagi kesal." "Lo kesal kenapa sih? Jangan main rahasia-rahasiaan sama gue napa. Lo jahat kalo nggak mau cerita sama gue, padahal kita udah sahabatan dari kecil sampai sekarang tapi lo masih jahat aja sama gue. Ra." Rachel menatap jijik ekspresi wajah Salsha. "Idih baperan amat lo jadi cewek." "Gue bukannya baperan yaelah, lo kalo ada apa-apa cerita napa. Padahal lo udah tau sendiri kalo gue itu orangnya kepoan. Dan siapa tau gue bisa bantu lo gitu kan, MAKANYA CEPAT CERITA SEKARANG!" Ucap Salsha berteriak di akhir kalimatnya tanpa perduli dengan beberapa mahasiswa yang melihat ke arah mejanya dan Rachel. "Lo apa-apaan sih, malu-maluin gue aja." "Yaudah makanya sekarang cerita, gue maksa pokoknya gue maksa." Rachel menghembuskan nafasnya dan membuangnya secara perlahan. Ia memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi tadi pagi pada Salsha daripada sahabatnya itu akan berteriak-teriak tidak jelas lagi yang akan membuat mereka di tatap oleh seisi kantin. Rachel sedang butuh ketenangan dan tidak ingin menjadi pusat perhatian dari orang-orang. Sebelum menceritakan pada Salsha, Rachel kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu yang membuat dirinya naik darah karena di panggil adik oleh seorang pria arrogant yang tadinya mengatakan jika ia adalah seorang pengusaha terkenal. "Oke gue cerita tapi dengan satu syarat." Ucap Rachel yang membuat mata Salsha berbinar senang. "Apa-apa syaratnya?" Tanya Salsha tidak sabaran. "Nggak boleh motong saat gue lagi cerita." "Oke bos" Ucap Salsha sambil mengangkat satu tangannya dan memberi hormat kepada Rachel. Melihat apa yang di lakukan oleh sahabatnya itu, membuat Rachel memutar kedua bola matanya malas. Rachel mulai menceritakan semua apa yang terjadi tadi pagi tanpa melewatkan satupun. Jika menjelaskan pada Salsha harus secara detail karena sifat keponya itu akan membuat banyak pertanyaan dan ceritanya tidak akan selesai. Rachel selesai menceritakan apa yang terjadi tadi. Rasa kesalnya kembali meningkat setelah selesai menceritakan apa yang tejadi pada Salsha. "Itu cowoknya ganteng nggak?" Tanya Salsha. "Nggak." Ketus Rachel. "Nggak mungkin nggak ganteng Ra, apalagi lo bilang tadi dia itu pengusaha terkenal terus masih jomblo lagi." "Walaupun dia pengusaha terkenal juga, kalo di mata gue dia nggak ganteng, ya nggak gantenglah." Decak Rachel meminum sedikit sisa jus alvokatnya hingga tandas. "Astaga teman gue kenapa gini amat. Siapa tau itu jodoh dia malah di katain nggak ganteng, mimpi apa gue punya teman kayak gini." Ucap Salsha entah pada siapa. "Eh jangan ngasal ngomong lo, amit-amit jodoh gue itu si bujang lapuk." "Yang suka bilang amit-amit gini nih yang bahaya. Awas aja lo sampai berjodoh sama tuh orang, eh tapi mending lo sama kakak gue aja. Karena kakak gue di jamin ganteng pool." "Kakak gaib lo aja nggak pernah gue liat, mau lo jodohin sama gue. Mending gue jadi jomblo aja daripada di jodohin kek Siti Nurbaya aja." "Yee kakak gue udah mulai pulang-pulang ke rumah loh sekarang. Kalo dulu dia lebih suka tinggal di rumah nenek sama kakek gue karena nenek sama kakek cuma tinggal berdua aja di rumah. Tapi sekarang karena nenek dan kakek udah nggak ada, mama minta dia buat pulang ke rumah. Kapan-kapan gue kenalin deh, siapa tau lo bisa jadi kakak ipar gue nantinya." "Ngawur lo. Gue ogah punya adek ipar yang modelan kek loh gini. Malu-maluin kalo di ajak buat ke acara acara nanti." "Wah gue yang cantik jelita kayak gini di anggap remeh. Kenzo aja sampai terpesona sama kecantikan gue." Ucap Salsha dengan kepercayaan diri, ia mengibaskan rambutnya seakan menunjukkan pesona yang ada dalam dirinya. "Kalo yang gue liat sih, lo yang terpesona sama Kenzo. Soalnya bisa aja kan Kenzo dapat cewek lain, tapi lo yang terlalu ngebet sama dia dan karena dia kasihan makanya dia mau sama loh." "Astaga jahat banget lo Ra, gue salah apa sama lo ya ampun sampai lo bisa ngomong kayak gitu." "Drama di mulai." Ucap Rachel saat tahu apa yang akan sahabatnya itu lakukan setelah ini. Salsha langsung berpindah duduk di samping Rachel. "Eh tapi serius lo mau nggak kalo gue jodohin sama kakak gue?" Rachel tentu kaget karena ia pikir Salsha akan marah-marah karena kesal. Dan ternyata Salsha kembali berulah ingin menjodohkan dirinya dengan kakak sahabatnya yang seperti manusia gaib karena tidak pernah ia lihat setiap ia ke rumah Salsha. "Ogah gue Sal, kakak lo gaib gitu mau lo jodohin ke gue." Ucap Rachel yang langsung mendapatkan protes dari Salsha. "Enak aja lo ngatain kakak gue gaib, dia masih manusia yang ganteng dan banyak duit di katain gaib. Pokoknya lo nggak bakal nyesel deh kalo lo pacaran sama yang namanya Alvaro Gilinsky kakak paling ganteng gue itu." "Puji aja terus, karena dia kakak lo, coba aja bukan kakak lo, pasti nggak bakal di puji-puji gini." Salsha terkekeh karena yang di katakan oleh Rachel tidaklah salah, ia memang sering memuji-muji kakaknya itu di depan Rachel, yang selalu mendapatkan julukan kakak gaib dari Rachel.Tapi seakan tidak peduli, Salsha terus saja coba menghasut Rachel yang sampai sekarang tidak mempan. "Gue cuma mau bilang ke lo buat jangan terlalu berharap gue sama kakak gaib lo itu bisa berjodoh. Karena bisa aja jodoh gue belum lahir." Ucap asal Rachel. "Eh mana ada jodoh lo belum lahir. Masa nanti lo nikah pas udah jadi nenek nenek." "Yah biarin aja kalo udah nenek-nenek baru nikah, kalo suami gue nanti cinta gue apa adanya mau gue udah nenek nenek pun dia mau nikah sama gue." "Astaga kebanyakan halu nih loh." "Lo yang kebanyakan halu, bukan gue. Siapa tuh yang suka baca novel sampai suka nangis sendiri di kamar, nggak usah ngelak karena gue pernah liat lo nangis di kamar." Tawa Rachel pecah melihat Salsha yang terdiam dan tidak bisa mengelak karena apa yang di katakan oleh Rachel adalah sebuah kebenaran. "Iya-iya gue tau gue kebanyakan halu. Tapi setidaknya gue nggak jomblo kayak lo yee." Ejek Salsha tidak ingin kalah. "Biarin aja gue jomblo, karena secara gue ini cewek limited edition." "Limited edition apa kagak laku neng?" Tanya Salsha sambil mengedip-ngedipkan matanya sengaja ingin menggoda Rachel. "Asal aja bilang gue nggak laku, lo nggak liat banyak cowok yang deketin gue, tapi gue yang nggak mau. Dan alasannya simple aja karena gue nggak mau sakit hati. Karena kalo pacaran selain udah ribet harus ngasih kabar juga sangat mengganggu kenyamanan gue selama ini. Gue mending jomblo aja daripada harus sakit hati." "Aduh emang yah gue kalo lama-lama bicara sama lo bisa ikutan jadi jomblo dah lama-lama." Rachel tidak menanggapi perkataan dari Salsha karena ada satu notif pesan masuk dari ibunya. Salsha yang melihat Rachel sibuk dengan ponselnya langsung bertanya karena rasa penasarannya itu. "Ra, kenapa?" Tanya Salsha. Setelah membalas pesan dari ibunya, Rachel meletakan ponselnya di meja sebelum menjawab pertanyaan dari Salsha. "Itu dari Nyokap gue, katanya Kak Samuel bakal balik tinggal di rumah buat temanin gue selama Nyokap sama Bokap sibuk kerja di luar negeri." Salsha ber'o'riah mendengar jawaban dari Rachel. "Eh tapi nanti titip salam buat kak Sam ya." Ucap Salsha. "Ingat Bu udah punya pacar, jangan genit jadi cewek." "Ih siapa yang genit coba? Gue kan udah anggap Kak Sam kayak kakak gue juga." Ucap Salsha membela diri "Ah masa?" Tanya Rachel dengan ekspresi wajah yang terlihat menyebalkan di mata Salsha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN