Saat ini Alvaro baru saja sampai di kantornya. Ia langsung berjalan menuju ke ruangannya yang berada di lantai paling atas di kantornya itu. Langkah kakinya berjalan dengan cepat ketika mengingat ia sudah sangat terlambat untuk bertemu dengan kliennya itu. Suara sepatu pantofel memenuhi lorong sepi itu, karena di lantai tempat ruangannya berada sebagai seorang direktur ini hanya di khususkan mempunyai satu ruangan. Alvaro berjalan menuju ke arah meja sekretaris yang berada di depan ruangannya, Alvin yang baru saja keluar dari ruangan Alvaro langsung menunduk hormat ketika melihat Alvaro.
"Selamat pagi Pak." Ucap Alvin dengan sopan.
"Pagi. Apa klien dari Alexander Company masih di dalam?" Tanya Alvaro karena Alvin yang baru saja keluar dari ruangannya itu.
"Iya Pak. Pak Andi Alexander dan juga Sekretarisnya masih berada di dalam, dan sedang menunggu kedatangan anda."
Alvaro menghembuskan nafasnya penuh kelegaan. Ini mengenai proyek besar antara perusahaannya dan juga Alexander Company, dan ia tidak ingin menimbulkan kerugian yang sangat
besar jika ia lalai walaupun hanya sedikit saja. Mungkin jika tadi tidak ada masalah di jalan tadi, ia tidak akan terlambat seperti ini.
"Sekarang kamu ikut saya masuk kedalam ruangan saya."
"Baik Pak."
Alvaro masuk kedalam ruangannya, ia langsung menuju ke sofa yang di khususkan untuk menerima tamu di ikuti oleh Alvin yang berada di belakangnya. Andi dan sekretarisnya yang duduk di sofa langsung berdiri dan berjabat tangan dengan Alvaro.
"Maaf sebelumnya saya terlambat, karena sempat terjadi masalah kecil tadi saat saya masih di jalan." Ucap Alvaro kembali mempersilahkan Andi dan sekretarisnya untuk kembali duduk.
"Tidak apa-apa, saya tau anda termasuk orang yang sibuk sama seperti saya juga." Ucap Andi terkekeh kecil.
"Baik kalo begitu bisa kita langsung bicarakan tentang proyek kita yang sedang berjalan?" Tanya Alvaro tidak ingin lama-lama dalam berbasa-basi.
"Baik kalo begitu, kelihatannya anda sudah tidak sabar dengan pembicaraan kita tentang proyek yang sudah berjalan hampir sebulan ini."
Alvaro hanya menanggapi dengan senyuman saja perkataan dari Andi Alexander. Mereka berdua terlihat berbicara dengan begitu tenang membicarakan tentang perkembangan proyek yang sedang berlangsung serta dana yang sudah keluar selama hampir sebulan ini juga. Kedua sekertaris mereka turut serta memberikan saran ketika ada celah untuk mereka berbicara dan tidak lupa mereka menulis semua hal penting dari pembicaraan Alvaro maupun Andi Alexander. Waktu terus berjalan seiring pembicaraan mereka, dan saat ini mereka baru saja selesai membahas proyek kerja sama mereka.
"Baik pembicaraan kita sampai disini dulu. Saya pastikan perusahaan kami akan melakukan yang terbaik untuk kelancaran dari proyek bersama kita ini." Ucap Andi.
"Terima kasih Pak. Perusahaan kami juga akan melakukan yang terbaik untuk kelancaran proyek ini." Balas Alvaro.
"Kalau begitu saya permisi dulu, karena masih ada pertemuan yang harus saya hadiri." Ucap Andi menjabat tangan Alvaro.
"Mari saya antar sampai di bawa" Ucap Alvaro setelah melepaskan jabatan tangan mereka.
Setelah mengantarkan Andi dan sekretarisnya sampai di lantai bawa. Alvaro langsung kembali ke ruangannya. Alvaro melepaskan jas yang melekat di tubuhnya dan kemudian melonggarkan dasi yang di pakainya, ia duduk bersandar di kursi kebesarannya itu.
"Aku nggak habis pikir sama tuh cewe kok bisa songong amat gitu. Baru kali ini aku ketemu sama cewe yang berani ngerendahin aku di depan banyak orang lagi. Semoga aja nggak jadi sorotan para wartawan, malu-maluin banget."
"Sialan tuh cewe, gue ngomong baik-baik sama dia malah di katain." Decak Alvaro
"Awas aja kalo ketemu lagi sama gue."
Alvaro terus mengumpat dan mengeluarkan semua rasa kesalnya hingga ia lelah sendiri. Ia mulai membuka berbagai dokumen yang berada di mejanya. Dengan teliti ia membaca kata di setiap lembar dokumen tanpa ada yang terlewati dari dokumen tersebut. Ia harus mengetahui apa isi dari dokumen tersebut sebelum memberikan tanda tangan. Setelah semuanya selesai ia memilih untuk pulang ke rumahnya sebentar untuk mengambil beberapa dokumen yang tidak sempat ia bawa karena tadi ia yang terburu-buru.
***
Kenzo menghampiri Salsha dan juga Rachel yang nampak mengobrol di salah satu bangku kantin di kampus mereka.
"Halo sayang, halo Rachel." Ucap Kenzo dan tanpa malu mengecup kening Salsha. Salsha yang di cium oleh Kenzo kekasihnya itu hanya bisa tersipu malu, sedangkan Rachel hanya menatap kedua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu dengan pandangan biasa saja. Untung saat ini kekesalan Rachel karena insiden tadi pagi sudah berkurang. Kalo tidak, mungkin kedua sejoli tidak tahu tempat untuk bermesra-mesraan di depannya itu bisa mendapatkan kata-kata yang menusuk sampai ke hati darinya.
"Oh iya kalian berdua nggak ada janjian untuk keluar bareng kan hari ini?" Tanya Kenzo.
"Nggak ada kok, kalo lo mau jalan sama Salsha ya jalan aja." Ucap Rachel.
"Yaudah yaang entar pulang kampus kita jalan ya?" Tawar Kenzo pada Salsha.
"Iya, tapi mau jalan kemana?" Tanya Salsha.
"Kemana aja asalkan bareng kamu." Ucap Kenzo yang membuat Salsha kembali tersipu.
"Bisa aja kamu ih. Ra, coba lo cari pacar dong biar kita bisa double date gitu. Lagian lo betah amat jadi jomblo gini." Ucap Salsha dan di angguki oleh Kenzo.
"Ogah banget. Lagian masa gue cewek nyari cowo, kan nggak elite banget."
"Eh emang kenapa kalo lo yang nyari cowo. Lagian banyak tuh cewek yang nyari cowok duluan." Ucap Salsha.
"Maaf aja gue berbeda sama cewek-cewek itu yee. Jatuhin martabat gue aja kalo gue sampai ikutan kayak gitu."
"Eh tapi tanpa lo cari juga, di kampus ini banyak yang naksir sama lo. Jadi tanpa lo cari lagi sih, tinggal lo pilih mau cowok yang mana yang masuk ke hati lo." Ucap Kenzo membuka suara.
"Ken, lo kira kayak milih baju doang? Ngadi-ngadi lo mah, mana bisa gue milih cowok kek milih baju. Lagian dari semua cowok yang naksir sama gue di kampus ini, nggak ada yang termasuk cowok idaman gue." Ucap Rachel dengan santai.
"Astaga Rachel gue sebagai sahabat lo dari jaman SD, nggak habis pikir sama sikap lo itu deh." Ucap Salsha.
"Udah-udah mending kita makan aja sekarang, kalian berdua belum makan kan dari tadi?" Ucap Kenzo merelai topik yang tidak akan ada habis-habisnya itu. Salsha dan Rachel menggangguk ketika di tanya oleh Kenzo.
"Kalian berdua mau makan apa biar aku yang pesan?" Tanya Kenzo bersiap untuk memesan makanan mereka.
"Aku samain sama kamu aja deh sayang." Ucap Salsha tersenyum manis pada Kenzo. Kenzo mengelus kepala Salsha dengan sayang tidak lupa ia membalas senyuman Salsha. Rachel memutar kedua bola matanya dengan malas melihat tingkah menjijikan dua sejoli di depannya ini.
"Kalo lo mau pesan apa Ra?" Tanya Kenzo.
"Gue nasi goreng aja deh."
"Oke siap Bu bos."
Kenzo berlalu dari hadapan Salsha dan Rachel untuk memesan makanan mereka.
"Salsha." Panggil Rachel pada Salsha yang sedang memperhatikan Kenzo yang sedang memesan makanan.
"Eh kenapa?" Tanya Salsha.
"Kayaknya hubungan lo sama Kenzo awet juga ya, sekarang kita udah semester 8 dan hubungan kalian masih bertahan juga sampai sekarang." Ucap Rachel.
"Iya nih Ra, emang gue sama Kenzo kadang suka beratem sih, tapi yah gitulah kita berdua bisa menyelesaikan masalah kita berdua secara baik-baik." Cerita Salsha.
"Baguslah Sal, gue senang melihat lo sama Kenzo sampai sekarang masih bertahan, semoga lo berdua bisa terus bersama sampai married." Ucap Rachel yang langsung membuat Salsha tersipu malu dan membuat Rachel tertawa.
"Lo ngapain tersipu si Sal?" Tanya Rachel.
"Lo apaan sih Ra, nggak jelas banget tau nggak?" Decak Salsha pura-pura kesal.
"Oh jadi lo nggak ada niatan gitu bisa sampai married sama Kenzo?" Tanya Rachel.
"Ya pasti adalah, masa nggak. Tapi udah pasti belum sekarang dong, nanti gue di pecat sebagai anak lagi sama Nyokap gue. Kakak gue aja belum nikah sampai sekarang, jadi kemungkinan gue bakal nunggu kakak gue nikah dulu baru gue nikah."
Rachel tertawa mendengar perkataan dari Salsha. Tapi Salsha sepertinya sangat menyayangi kakaknya yang entah kapan bisa ia lihat batang hidungnya itu.
"Lo ngapain ketawa? Ah lo mah nyebelin Ra." Decak kesal Salsha karena Rachel menertawai dirinya.
Tidak lama kemudian Kenzo datang dengan membawa nampan berisi satu mangkok bakso dan satu piring berisikan nasi goreng dan tiga gelas jus jeruk beserta satu gelas air putih. Kenzo memberikan piring berisikan nasi goreng dan segelas air putih pada Rachel sedangkan satu mangkok bakso dan dua gelas jus jeruk di hadapannya dan Salsha.
"Wah lo emang sahabat gue yang terbaik deh Ken, lo tau aja kalo gue mau makan nasi goreng harus ada air putih."
"Kenzo gitu loh. Lagian kita udah jadi teman dari kita semester satu juga."
"Bener deh Sal, lo nggak salah terima Kenzo buat jadi pacar lo."
"Iya dong." Ucap Salsha dengan bangganya.
"Oh iya Ken, kok baksonya cuma satu mangkok doang? Tapi jus jeruknya dua." Tanya Salsha heran.
"Itu karena aku maunya kita makannya satu mangkok bareng."
"Tapi kan ada Rachel disini sayang, masa kamu nggak pikirin perasaan dia sih."
Rachel mencoba untuk tidak peduli dengan percakapan Salsha dan juga Kenzo. Ia memilih untuk terus menikmati makanannya dengan tenang. Tapi lama-kelamaan Rachel jengah dengan Salsha dan juga Kenzo yang terus berbisik-bisikkan sedari tadi tanpa memakan makanan mereka sama sekali.
"Lo berdua kalo mau makan ya makan aja, nggak usah bisik-bisikkan terus. Gue tau lo berdua hargain perasaan gue tapi kalo kalian yang kayak gini buat gue jadi risih tau nggak." Ucap Rachel dengan nada suara tidak bersahabat.
Rachel berdiri dari duduknya tanpa meneruskan kembali memakan makanan yang masih tersisa setengah itu. Nafsu makannya sudah hilang entah kemana.
"Lo mau kemana Ra?" Tanya Salsha dan Kenzo bersama.
"Bukan urusan kalian."