Rachel dan juga Salsha kini sedang berada di kantin kampus. Karena tidak ada jam mata kuliah lagi, jadi mereka berdua memutuskan untuk makan terlebih dahulu, barulah mereka akan pulang setelahnya. Kenzo tidak bersama dengan mereka berdua hari ini, karena pria itu izin tidak masuk karena ada urusan keluarga.
"Ra," panggil Salsha setelah ia selesai mengunyah dan juga menelan makanannya.
"Hmm." Gumam Rachel yang sedang sibuk memakan makanannya.
"Mama katanya pengen lo ke rumah. Udah rindu masak bareng sama calon menantu kata Mama." Ucap Salsha sengaja ingin menggoda Rachel, tapi Rachel hanya memutar bola matanya malas ketika mendengar perkataan Salsha barusan.
"Kapan?" Tanya Rachel.
"Sekarang lo bisa kan?" Tanya balik Salsha.
"Yaudah," singkat Rachel dan kembali fokus menghabiskan sisa makanannya yang sudah hampir habis itu.
"Yes. Abis makan ini kita langsung ke rumah gue ya?" Ucap Salsha merasa sangat senang.
"Tapi nanti lo yang bayar argo taksinya ya?" Ucap Rachel yang sebenarnya hanya bercanda.
"Dasar orang kaya pelit lo." Ucap Salsha pada Rachel yang menunjukan wajah tanpa dosanya itu.
"Mana ada gue kaya. Gue nggak kaya, tapi bokap sama nyokap tuh yang kaya." Ucap Rachel yang membuat Salsha jadi gemas ingin menyentil ginjal sahabatnya itu.
"Dahlah, gue aja yang bayarin. Kelamaan kalo nunggu lo buat bayarin. Ke buru sore entar lo nggak bisa lama-lama di rumah dan berakhir gue yang di marahin."
Mendengar perkataan Salsha barusan membuat Rachel di buat tertawa. Sebenarnya ia juga cukup heran dengan Ibu sahabatnya itu yang suka sekali menghabiskan waktu bersamanya. Bahkan sampai pernah ia dengan terang-terangan di katakan cocok untuk menjadi menantu di keluarga Salsha. Tentu saja Rachel hanya bisa tersenyum waktu itu terjadi.
"Lagian Sal, kalo gue nggak pelit kan gue nggak bisa kaya. Dan juga soal lo kalo tiba-tiba di marahin sih, itu bukan urusan gue."
"Omongan lo tuh ya, Nyokap sama Bokap lo aja nggak pelit, kok bisa ya dapat anak yang pelit kayak lo." Ucap Salsha yang membuat Rachel tertawa. "Dan juga tega bener lo sama gue, Mama gue kalo marah tuh serem tau. Eh bukan marah sih sama gue, tapi tetap aja suka buat mikir yang anak lo apa gue sih? Bisa-bisanya Mama gue suka banget sama lo." Tambah Salsha lagi.
Rachel hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu. Ia tidak membalas perkataan Salsha dan memilih untuk menghabiskan sisa minumannya hingga tandas.
"Eh iya Ra, kebetulan kakak gue bakal pulang lagi ke rumah hari ini." Ucap Salsha tiba-tiba menjadi antusias sendiri.
"Terus hubungannya sama gue apa kalo kakak lo pulang ke rumah?" Tanya Rachel belum mengerti arah jalan pembicaraannya bersama Salsha itu.
"Ya nanti lo kenalan sama kakak gue dong. Siapa tau nyantol ke hati lo kan."
"Nggak usah menggada-ngada deh. Gue aja udah pusing sama nih tugas kuliah." Ucap Rachel yang sudah mengerti tujuan dari perkataan Salsha itu.
"Ya ampun, cuma kenalan doang kok Ra. Ya untuk urusan hati kan ya kalo emang jodoh bisa ajalah gaskan." Ucap Salsha masih belum ingin menyerah.
Rachel tidak menanggapi perkataan Salsha itu, ia berdiri dari duduknya dan memakai ransel di punggungnya.
"Lo udah selesai makan kan? Kita berangkat sekarang ke rumah lo, atau nggak usah aja kalo lo banyak ngomong terus." Ucap Rachel setelah itu berjalan meninggalkan Salsha yang langsung buru-buru menyusul Rachel. Untung saja tadi mereka sudah membayar makanan mereka tadi hingga Salsha bisa langsung menyusul Rachel.
"Tungguin gue oy." Teriak Salsha menyusul Rachel yang berjalan dengan santai di koridor kampus itu.
***
Saat ini mereka telah sampai di rumah Salsha dan sekarang Salsha dengan begitu heboh sedang mengetuk pintu rumahnya itu membuat Rachel menutup telinganya menggunakan kedua telapak tangannya. Untung saja Nyonya Andin bisa tahan dengan anaknya yang modelan seperti ini. Sekitar satu menit Salsha mengetuk dengan begitu heboh, akhirnya rumah itu terbuka dan menampilkan seorang wanita yang masih kelihatan awet muda yang terlihat kesal karena tingkah Salsha.
"Salsha kenapa harus ketuk pintu segala sih, kan udah tau kalo pintu nggak di kunci." Ucap Nyonya Andin belum sadar akan kehadiran Rachel di samping anaknya itu.
"Hehehe. Sekali-sekali pengen ngerasain gimana ngetuk pintu di rumah sendiri Ma." Ucap Salsha sambil cengengesan.
"Oh iya ini aku pulang sama Rachel, Ma." Ucap Salsha yang langsung membuat Rachel tersenyum sopan ke arah Nyonya Andin yang saat ini telah memperhatikannya.
"Ya ampun Rachel, Tante kangen banget sama kamu." Ucap Nyonya Andin, langsung memeluk Rachel.
"Kamu kok baru datang lagi ke rumah Tante sih? Tante udah kangen tau buat masak bareng kamu lagi." Ucap Nyonya Andin yang membuat Rachel hanya bisa tersenyum. Ia bingung harus berkata apa.
"Ma, masuk dulu yuk. Masa tamu di biarin gini." Sindir halus Salsha pada Ibunya itu yang suka lupa tempat jika sudah bersama dengan Rachel.
"Eh iya, kan sampai lupa segala buat ajak kalian masuk." Ucap Nyonya Andin, ia langsung menarik Rachel untuk masuk kedalam dan membiarkan Salsha yang tertinggal di belakang.
"Fix! Rachel harus jadi kakak ipar gue. Mama suka banget sama Rachel sampai anaknya di anggurin gini." Batin Salsha sebelum ia ikut masuk kedalam rumah.
"Jadi gimana kuliah kamu nak?" Tanya Nyonya Andin ketika mereka berdua dan di susul oleh Salsha, telah duduk di sofa ruang tengah.
"Baik kok Tante. Tante apa kabar?"
"Tante baik-baik aja kok, cuma ya Tante kangen masak sama kamu. Udah sekitar 2 bulan kan kita nggak pernah masak bareng." Ucap Nyonya Andin lagi yang membuat Rachel hanya bisa tersenyum.
"Maaf Tante, aku lagi sibuk sama tugas-tugas kuliah soalnya. Jadinya aku baru sekarang deh bisa sempatin buat datang ke rumah Tante." Ucap Rachel yang di angguki oleh Nyonya Andin.
"Alasan itu Ma, dianya yang nggak mau datang kesini." Ucap Salsha kompor yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Rachel.
"Salsha, nggak baik ngomong kayak gitu." Ucap Nyonya Andin yang langsung membuat Rachel tersenyum penuh kemenangan.
"Ah Mamaku bucin sama sahabat aku sendiri. Sampai anaknya sendiri nggak boleh salah ngomong sedikit tentang sahabatnya langsung di tegur." Ucap Salsha mendramatisir yang membuat Nyonya Andin menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak bungsunya itu.
"Udah ah, aku mau ke kamar dulu. Mau telponan sama pujaan hati." Ucap Salsha berdiri dari duduknya dan mengambil ranselnya. Sebelum ia pergi dari ruangan itu, Salsha memberikan kecupan singkat di pipi Ibunya.
"Selamat menikmati waktu kalian berdua" Teriak Salsha menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Rachel dan juga Nyonya Andin hanya bisa tertawa ketika melihat tingkah Salsha yang sudah bukan merupakan hal baru lagi
"Permisi," ucap seorang asisten rumah tangga yang membawa nampan berisi 2 gelas berisi orange juice dan juga kue ringan.
"Di minum sama di makan dulu sayang," ajak Nyonya Andin yang di angguki oleh Rachel. Ia mengambil salah satu minuman dan meminumnya hingga setengah, ia juga memakan beberapa potong kue ringan untuk menghormati Nyonya Andin.
"Oh iya kamu nanti makan malam disini aja. Eh sekalian nginap juga aja ya." Ucap Nyonya Andin penuh harap jika Rachel akan mengiyakan apa yang ia katakan tadi.
"Tapi Tante nanti ada kak Samuel yang nunggu aku pulang." Ucap Rachel yang sebenarnya hanya sebuah alasan. Karena malam ini, kakaknya meminta ijin untuk tidak pulang karena masih ada pekerjaan di kantor. Dan alhasil hanya ia dan juga pembantu dan juga pengawal yang berada di rumah.
"Kalo soal kakak kamu itu soal gampang. Nanti Tante yang akan menghubungi dia, kebetulan kakak kamu itu kan temannya anak Tante yang paling tua." Ucap Nyonya Andin yang langsung membuat Rachel jadi bertanya-tanya, siapa kakaknya Salsha ini hingga bisa berteman dengan kakaknya. Nyonya Andin yang melihat Rachel terdiam, tersenyum. Ia tahu jika pasti Rachel belum tahu jika anaknya dan kakak Rachel bersahabat.
"Kamu pasti kaget kan, tapi kakak kamu dan anak Tante udah lama menjadi teman sayang." Rachel hanya bisa menggangguk ketika mendengar ucapan Nyonya Andin barusan.
"Yaudah kamu tunggu disini, Tante mau hubungi kakak kamu dulu buat minta ijin." Ucap Nyonya Andin berlalu meninggalkan Rachel sendirian yang masih bertanya-tanya siapa kakaknya Salsha itu. Belum lagi kakaknya Samuel, tidak pernah bercerita jika kakaknya Salsha merupakan sahabat kakaknya.
Beberapa menit kemudian, Nyonya Andin telah kembali dengan senyuman cerah. Rachel bisa menebak jika apa yang diinginkan oleh Nyonya Andin telah terkabulkan. Pasti Kakaknya itu langsung mengiyakan kemauan Nyonya Andin tanpa harus di paksa. Apalagi ketika mengetahui fakta yang baru ia ketahui sendiri.
"Kakak kamu udah kasih ijin buat kamu nginap disini, nanti kamu pakai pakaian Salsha aja seperti biasa kamu nginap disini." Ucap Nyonya Andin yang di iyakan oleh Rachel.
"Tante katanya kan kangen masak bareng aku, kita masak buat makan malam yuk." Ajak Rachel yang langsung di iyakan dengan antusias oleh Nyonya Andin.
"Ayo Ra, kita masak makanan yang enak-enak untuk makan malam nanti."
Mereka berdua, layaknya Ibu dan anak yang bahagia menuju ke dapur untuk memasak. Sesampainya di dapur mereka mengambil semua bahan- bahan yang akan di gunakan di kulkas dan mulai menata setiap bahan-bahan makanan itu di atas meja.
"Kamu bagian cuci sayuran, biar nanti Tante yang bagian potong-potong" Ucap Nyonya Andin.
"Biar aku aja yang cuci dan potong sayurannya Tante. Tante bagian siapin bumbu-bumbunya aja." Ucap Rachel memberi tawaran.
"Kamu memang bisa aja buat Tante senang ya. Yaudah Tante yang siapin bumbu-bumbunya."
"Tapi nanti aku yang masak ya?" Ucap Rachel yang di angguki oleh Nyonya Andin.
"Nanti pas masak ikan, gantian kamu yang siapin bumbunya ya, biar nanti Tante yang bersihin dan juga potong- potong ikannya. Terus Tante yang masak." Ucap Nyonya Andin.
"Kok kebanyakan di Tante? Masa aku cuma siapin bumbu aja." Protes Rachel karena ia tidak ingin jika ia hanya membantu sedikit saja.
"Nanti tangan kamu jadi kasar sayang kalo kebanyakan masak." Ucap Nyonya Andin.
"Ya nggak apa-apa Tante, aku nggak masalah kalo tangan aku jadi kasar karena masak." Ucap Rachel merasa tidak keberatan.
"Nggak boleh, kamu itu satu-satunya perempuan yang membuat Tante berharap bisa menjadi menantu Tante nantinya."
Rachel terdiam tidak tahu harus berkata apa. Kalimat itu seperti kalimat keramat untuk dirinya. Rachel mencoba untuk tidak memikirkan yang dikatakan oleh Nyonya Andin tadi dan sekarang ia kembali sibuk memasak bersama dengan Nyonya Andin. Mereka berdua sangat menikmati kebersamaan mereka berdua dalam memasak.
Malam Harinya....
Rachel telah selesai mandi dan saat ini ia sedang berada di ruang tengah menonton tv selagi menunggu jam makan malam tiba. Ia tidak tahan jika harus bersama dengan Salsha di dalam kamar di jam seperti ini, karena sahabatnya itu sedang berteleponan bersama dengan Kenzo yang membuat bulu kuduk Rachel merinding saking jijik dengan pembicaraan Salsha dan Kenzo. Dan untuk Nyonya Andin, wanita itu sedang berada di kamarnya entah sedang apa Rachel tidak tahu.
Sekitar sepuluh menit kemudian, terdengar suara derap langkah kaki yang berjalan mendekat ke arah ruang tengah. Tapi tidak membuat Rachel menoleh dan beranggapan jika yang mendekat ke arahnya pasti Salsha yang telah selesai melepas rindu bersama sang kekasih untuk ke berapa kalinya di hari ini, hanya karena Kenzo tidak masuk kuliah satu hari.
"Salsha, Mama mana?" Tanya suara berat itu menyentuh punggung Rachel yang membuat Rachel kaget sekaligus merasa heran. Mungkin karena ia yang menggunakan pakaian Salsha hingga membuat suara berat yang ia yakini adalah kakaknya Salsha itu mengganggap dirinya Salsha. Tapi suara berat ini terasa familiar di telinga Rachel, ia membalikkan tubuhnya dan melihat siapa pemilik suara berat itu.
"LO?" Teriak mereka berdua secara bersamaan.