9. First Kiss

1638 Kata
Saat ini Alvaro sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Seperti yang ia katakan tadi pada sahabatnya Samuel, jika ia harus segera pulang. Saat ia akan berbelok menuju ke kompleks perumahannya, tiba-tiba seorang gadis dengan kantong kresek yang entah berisi apa, menyebrang jalan secara tiba-tiba membuat Alvaro mengerem mendadak mobilnya. Ia dengan cepat keluar dari mobilnya dan hendak ingin memarahi gadis yang menyebrang jalan dengan ceroboh tanpa melihat keadaan sekitar terlebih dahulu. "LO!!!" Teriak kaget Alvaro dan juga gadis yang hampir ia tabrak itu secara bersamaan. Tidak di sangka-sangka jika mereka akan bertemu lagi setelah pertemuan kedua mereka yang berakhir menjadi pertengkaran saling aduh mulut. "Astaga, kenapa hidup gue apes banget sih. Kenapa harus ketemu lagi sama nih om-om gila lagi." Gerutu gadis yang berada di depan Alvaro. "Eh seharusnya, yang ada gue tuh yang apes ketemu sama lo, cewek gila." Ucap Alvaro membalas karena tidak ingin kalah. Entah kenapa bisa-bisanya ia meladeni gadis di depannya ini. Padahal biasanya ia akan selalu cuek dengan siapa saja yang ingin mencari perhatiannya. Tapi apa mungkin ini karena berbeda dari sebelum-sebelumnya, karena gadis itu adalah orang pertama yang berteriak bahkan meremehkan dirinya. "Eh om, mulut tuh di jaga ya. Gue itu cewek waras dan bukan gila, lo tuh yang pantas di sebut gila. Dan mungkin juga lo m***m," ucap Rachel menunjuk ke arah Alvaro menggunakan jari telunjuknya. "Benar-benar lo ya, emangnya lo tau darimana kalo gue ini m***m?" Tanya Alvaro mulai berjalan mendekat ke arah Rachel, yang membuat Rachel melangkah mundur perlahan secara perlahan. "Ya---ya, lo mau ngapain? Jangan dekat-dekat." Ucap Rachel tanpa sadar jika telah berbicara dengan terbata bata. Alvaro tersenyum arrogant ketika melihat Rachel yang berbicara secara terbata-bata di depannya. "Lo nggak punya bukti buat bilang kalo gue ini pria m***m. Dan juga kalo gue pria m***m, udah sedari tadi gue udah apa-apain lo. Kenapa lo jalan mundur terus? Takut gue apa-apain lo ya?" Ucap Alvaro terus melangkah perlahan ke depan yang membuat Rachel semakin melangkah mundur. "Lo juga nggak punya bukti kan kalo gue cewek gila? Jadi kalo mau menjelekkan gue, harus tau dulu kejelekan gue itu apa. Jangan asal ngomong gini dong." Ucap Rachel meniru ucapan Alvaro, ia tidak kembali melangkah mundur karena ia berusaha memperlihatkan jika ia adalah gadis yang pemberani. Jarak di antara mereka sangat dekat hingga hembusan nafas dari masing-masing bisa mereka rasakan saling beradu. Rachel mendongak sedikit menatap Alvaro tajam, begitu pula sebaliknya dengan Alvaro. "Terserah lo," ucap Alvaro menyerah dan ingin segera pergi karena ia rasa jika ia lama-lama bersama gadis di depannya. Semuanya tidak akan ada akhirnya. Alvaro melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan Rachel. "Dasar om-om cemen. Gue bilang kayak gitu aja udah nggak bisa jawab, mungkin efek umur kali ya. Ya biasa menjelang menjadi perjaka tua kan lo om, gimana nggak jadi perjaka tua kalo kelakuannya aja kayak gitu. Mana ada cewek yang mau sama lo, om. Palingan cewek yang dekat sama lo, cuma suka duitnya aja nggak suka sama orangnya. Secara Tuan Alvaro yang katanya eh bukan katanya tapi kata lo sendiri adalah salah satu dari pengusaha-pengusaha sukses di negara ini kan galak dan juga sombong. Jadi nggak bakal heran kalo ada cewek yang hanya bakal suka sama uang lo. Tapi kalo jadi gue mah mau lo banyak uang tetap aja gue nggak bakal pernah mau sama lo." "Oh atau lo jangan-jangan ternyata gay ya om? Makanya lo suka galak sama cewek, secara lo galak banget sama gue sih." Rachel terus berceloteh yang membuat hawa di sekitar mereka terasa panas. Alvaro mengurungkan niatnya untuk menuju ke mobil, ia membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekat ke arah Rachel yang saat ini sedang tersenyum senang karena melihat kekesalan dari dirinya. Entah apa yang di pikirkan oleh Alvaro saat ini, saat ia dan Rachel sudah berjarak sangat dekat, seketika ia mencium bibir Rachel tiba-tiba dan hal itu membuat Rachel tentu sangat syok. Kantong kresek yang ia pegang seketika langsung terjatuh. Ini ciuman pertamanya dan orang yang menciumnya saat ini adalah orang yang paling ia benci. Jantung Rachel berpacu dengan begitu cepat, karena Alvaro bukan hanya menempelkan bibir mereka saja tapi juga menggerakkan bibirnya di atas bibir Rachel. "Sekarang lo mau ngatain gue gay lagi? Kalo gue gay, mana mungkin gue bisa cium lo kayak tadi." Ucap Alvaro setelah ia melepaskan ciumannya dan menjauhkan jarak di antara mereka berdua. "Lo jahat, gue benci sama lo! GUE BENCI!!!" Rachel memukul-mukul d**a Alvaro menggunakan kedua telapak tangannya, guna melampiaskan rasa kesalnya pada Alvaro karena sudah berani-berani mengambil ciuman pertamanya. "Gue tau lo anggap gue musuh lo, tapi apa nggak bisa lo nggak lakuin itu? Ciuman itu bukan ciuman yang gue harapin dari lo, dan lo dengan berani-beraninya ambil ciuman itu." Ucap Rachel kini dengan mata berkaca-kaca. Ia menahan agar air matanya tidak terjatuh. Ia bukannya lebay, tapi ini masalah tentang harga diri, ia merasa menjadi perempuan yang gampangan dengan cara di cium oleh orang yang bahkan baru tiga kali bertemu dengannya itu. "Gue benci sama lo, Alvaro. Gue benci banget sama lo." Ucap Rachel dan setelah itu berlari meninggalkan Alvaro tanpa mengambil kantong kreseknya yang terjatuh. "Apa tadi benar-benar merupakan ciuman pertama dia? Dia terlihat begitu terluka karena gue cium, tapi tadi juga merupakan ciuman pertama gue." Alvaro menunduk, mengambil kantong kresek Rachel yang tergeletak di aspal. Alvaro membuka kantong kresek itu dan melihat isinya yang terdapat 3 bungkus mie instan, 1 botol saos tomat kecil, 1 botol kecap kecil, dan 1 botol cuka berukuran kecil. Sepertinya gadis itu membeli ini untuk mengganjal laparnya di malam hari, tapi bisa-bisanya menunya seperti ia akan makan bakso saja pikir Alvaro. *** Didalam kamarnya Rachel terus menggerutu kesal karena tadi dengan gampangnya pria gila itu telah mengambil first kissnya. Ia telah dengan susah payah menjaga dirinya agar tidak di cium oleh sembarang orang, dan kini semuanya menjadi kacau. "Ah sial, kenapa harus di ambil sama dia sih?" "Gue nggak rela," "Bibir gue udah nggak suci lagi, gara-gara tuh om-om sialan." "Apes banget si gue, kenapa harus dia? Kalo orang yang gue cintai yang ambil ciuman pertama gue, gue nggak akan masalah. Tapi ini orang yang udah buat gue kesal setiap kali ketemu sama dia." "Gue benci banget sama lo, gue harap nggak akan pernah ketemu sama lo lagi. Lo cuma buat apes aja buat hidup gue." Rachel turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke kamar mandi. Ia ingin mencuci mukanya untuk menghilangkan bayangan Alvaro yang dengan tidak tahu dirinya telah menciumnya. Bayangan itu terus muncul dan membuatnya sangat kesal sekali. "Gue benci kalo ingat kejadian itu. Kejadian itu merupakan mimpi terburuk dalam hidup gue." Rachel menghela nafasnya, ia melihat pantulan wajahnya di cermin di dalam kamar mandi. "Oke Rachel, lo nggak usah pikiran lagi tentang kejadian itu. Anggap aja itu cuma mimpi buruk dan nggak pernah terjadi." Ucap Rachel pada dirinya, dan setelah itu ia keluar dari kamar mandi dan memilih untuk tidur karena besoknya ia ada jam kuliah pagi. Di lain tempat Alvaro kini sedang memandang keluar dari jendela kamarnya tanpa tahu harus melakukan apa. Semenjak kejadian tadi, bayangan bayangan saat apa yang ia lakukan pada Rachel terus menghantuinya. Semuanya terekam begitu jelas di otaknya, hingga untuk menutup matanya saja ia akan terpikirkan tentang ciuman tidak di sengajanya tadi, ralat sengaja karena ia melakukannya tanpa keraguan sama sekali. Entah apa yang sedang ia pikirkan hingga dengan berani-beraninya ia mencium gadis yang tanpa ia cintai sama sekali itu. AARRGGGHH "Bisa gila gue lama-lama kalo kalo gini terus. Bisa-bisanya tuh cewek penuhi pikiran gue kayak gini." Kesal Alvaro pada dirinya yang pikirannya masih terbayang-bayang akan kejadian saat di jalan tadi." Alvaro terus berbicara sendiri hingga ia lelah sendiri dan memilih untuk membuka laptopnya daripada ia terus-menerus berbicara layaknya orang gila. Sementara ia sedang sibuk berkutat dengan laptopnya. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Siapa?" Tanya Alvaro tanpa beranjak dari tempat tidurnya. "Ini aku Salsha, buka pintunya dong kak." Ucap suara yang terdengar dari luar. Alvaro meletakan laptopnya di tempat tidur dan beranjak dari duduknya untuk membuka pintu kamarnya. "Ada apa kamu ngetuk pintu kamar kakak malam-malam gini?" Tanya Alvaro setelah membuka pintunya. Ia tidak memperbolehkan adiknya itu untuk masuk kedalam kamar, jadi mereka hanya berbicara di depan pintu saja. "Besok teman aku mau main ke rumah, bolehkan?" Tanya Salsha dengan pandangan mata berharap jika Alvaro akan memberikan izin untuknya membawa teman ke rumah. "Boleh, lagian kenapa harus nanya sama kakak sih?" Tanya Alvaro merasa heran sendiri dengan adiknya itu. "Soalnya ini teman aku yang ini beda kak. Dia selalu jadi kesayangan Mama tiap dia kesini, jadi aku minta ijin dulu deh sama kak Alvaro karena kemungkinan---," ucap Salsha menggantung. "Kemungkinan apa?" Tanya Alvaro penasaran dengan maksud dari perkataan adiknya itu. Ia seketika merasa ambigu dengan kedatangan adiknya. "Pokoknya gitu deh, yang penting kakak kasih ijin buat teman aku kesini kan? Dulu dia sering kesini sebelum ada kakak sih, tapi semenjak ada kakak juga dia belum pernah kesini lagi. Dan biar kakak nggak kaget gitu jadi aku bilang aja biar besok nggak kaget kan karena tiba-tiba ada orang lain di rumah." Ucap Salsha memutar ucapannya yang hampir kecoplosan. Karena sebenarnya ia ada niat terselubung untuk besok, ia ingin memaksa Rachel untuk ke rumahnya agar sahabatnya itu bisa melihat kakaknya yang ganteng itu, dan siapa tahu mereka bisa berjodohkan. Ia tidak sabar rasanya menunggu besok. "Kamu ngapain senyum-senyum gitu?" Tanya Alvaro pada Salsha yang kini sibuk dengan pikirannya sendiri. "Eh nggak apa-apa kok kak, kalo gitu aku ke kamar dulu ya. Udah ngantuk banget dan pengen tidur, mana besok ada jam kuliah pagi lagi." Setelah berucap seperti itu, Salsha langsung berlari meninggalkan Alvaro yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu. Alvaro kembali masuk ke kamarnya dan membanting dirinya di sisi tempat tidur yang kosong di samping laptop yang ia letakkan tadi. Helaan nafasnya dapat terdengar dengan jelas, ia mencoba memejamkan matanya untuk sekedar tidur walaupun sebentar. Tapi hal itu tidak bisa terjadi, akhirnya ia hanya bisa memandang langit-langit kamarnya dalam diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN