"Kenapa lo dari kemaren diem aja?" tanyaku. "Gue beberapa kali udah mau jelasin ke elo di awal pertemuan kita Za, tapi lo nggak pernah mau dengerin." katanya. Matanya menerawang kedepan. Aku mengambil nafas lalu menghembuskannya. Aku labih memilih diam untuk kali ini. Akan ku biarkan dia bicara. Aku tidak akan menyela ceritanya. "Waktu itu tiba-tiba Mama sama Alm. Papa nyuruh gue naik mobil. Padahal gue udah rapih pake seragam mau jemput lo ke sekolah kayak biasa. Tapi mereka bilang kita mau pulang kampung jengukin nenek yang sakitnya makin parah. Waktu itu gue coba ngomong ke Mama kalo gue mau pamitan sama lo, tapi Mama bilang kita lagi buru-buru. Akhirnya gue nurut. Sampe di sana gue bingung. Barang-barang gue udah sampe sana semuanya, di situ gue baru tau kalau ternyata kita bukan

