"Hampir telat, Bang, hampir telat!" teriakku pada Ical. "Tangan hayati keburu merah." kataku. "Hahaha, maaf-maaf." katanya sambil terkikik. "Tadi tuh aku telpon kamu tapi hape kamu mati. Jadi ya gini deh. Aduh, sial banget si hidup aku. Niat cuci mata malah butekin mata." kataku terus menggerutu. Ical tertawa. "Hahaha iya hape aku mati. Maaf ya. Mau lari lagi atau kamu mau makan? Aku traktir deh." kata Ical. Mama! Perut Za kayak ada kupu-kupunya, Ma! Kenapa ya, Cal, kenapa perlakuan kamu itu so sweet banget? Aku kan jadi melting sendiri. Aku ngerasa kayak jadi pacar kamu gitu. Eh, nggak boleh! "Makan aja deh, Cal. Males juga aku lari, udah nggak pengen." kataku. "Bilang aja mumpung makan gratis." kata Ical. "Hahaha tau aja kamu, Cal. Yuk, ah cus!" kataku. Setengah berlari. Namun t

