Bebek goreng dan bakar pesanan kami hampir sampai. Oke. Memang aku yang memesannya bukan Ical. Tapi dia sepertinya tidak menghargai usahaku. Dan sudah kuputuskan aku akan mengajarinya cara menghargai orang lain. Ingin rasanya aku tertawa jahat saat ini namun aku masih ingin di anggap waras olah orang-orang sekitar kami. Warung ini memang ramai namun tak membuat suasana gaduh. Malah terkesan romantis. Kenapa romantis? Karena kini aku berada di sini berasama Ical. Eh. Bibirku berkedut menahan senyum. Tapi buru-buru aku gigit agar senyumanku tak mengembang. "Lo kenapa si? Muka gue aneh yak?" Tanya Ical untuk kesekian kalinya. "Siapa yang liatin muka lo? Orang gue lagi liatin bebek kita dateng. Tuh. Mmm.. nggak sabar gue!" kataku menggebu-gebu. Setelah menghidangkan bebek di atas meja kami

