Once Again

763 Kata
Aku gelisah menunggu kereta kudaku yang tak kunjung datang. Beberapa menit setelah Duke Winterson meninggalkanku, aku memilih berdiri di dekat balkon istana. Pengawal yang berada dekat sana pasti juga tahu aku gelisah karena daritadi mondar-mandir tak jelas.  "Dokter masih memeriksa Putra Mahkota, apakah ada dokter lain untuk merawat luka Duke Winterson?" Tak sengaja aku mendengar dua pelayan istana sedang berbicara satu sama lain. "Kita tunggu saja Dokter Morgan selesai." "Tapi kau temui dulu Duke Winterson." "Apa? Kau yang bertugas melayaninya." "Kau ini..." "Maaf, apa aku bisa menemui Duke Winterson?" Aku akhirnya menberanikan menawarkan diri dan melerai mereka. Sepertinya mereka kesulitan mencari dokter atau tabib untuk memeriksa Duke Winterson. Lagipula ini salahku dan aku pun belum sempat berterima kasih padanya. Sejak sampai di istana kami hanya diam dan berpisah begitu saja. Aku sungguh merasa bersalah. "Ah, Nona belum pulang?" "Biar saya antarkan." Terlihat senyum sumringah muncul di wajah salah satu pelayan itu. Aku berjalan mengikutinya menuju sebuah ruangan di lantai dua istana. Aku tahu apa yang mereka rasakan jika harus bertemu dengan Duke Winterson. "Permisi, silakan Nona..." Aku memasuki ruangan itu dengan hati-hati, seperti masuk dalam kandang singa. Gugup dan entahlah perasaan apa ini, semacam takut tapi... ah sudahlah. Aku melihat pria bertopeng itu duduk dengan kepala menengadah ke atas sambil bersandar pada kursi yang didudukinya. Ketika melihatku dia agak kaget, lalu bersikap tenang lagi. Aku heran dia bisa begitu tenangnya. "Aku menunggu dokter kenapa kau yang datang?" Aku tahu maksudnya, dia pasti lelah dan ingin marah padaku. Aku pun menghela nafas sebelum membuka mulut. "Dokter masih memeriksa Yang Mulia Putra Mahkota, jadi saya yang akan membersihkan luka Anda." "Apa? Terakhir kali kau mau membunuhku." "Sekali lagi saya mohon maaf, bahkan saya belum sempat berterima kasih." "Apa kau bisa?" "Percayakan pada saya." Ugh, kalau bukan karena menyelamatkanku sudah kutinggal pria ini. Aku mengambil alkohol dan kain pembalut luka. Untung saja aku pernah diajarkan Milli cara mengobati luka dengan benar. Kuulangi semua ajaran Milli dan mengobati sambil berdiri. "Siap?"  Dia seolah bingung kenapa aku menanyakan kesiapannya. Yah, mungkin baginya tidak sakit, tapi luka dikenai minuman beralkohol pasti akan sakit sekali. Anehnya dia diam saja saat aku mengobatinya. Rasanya aku ingin minta tolong pada seseorang, tolong pecahkan keheningan ini, tapu aku harus tetap fokus. Sesekali aku menumpahkan alkohol di kakinya dan membuatnya menatap wajahku. Aku jadi gelagapan sendiri. Hampir setengah jam, akhirnya aku selesai menutup lukanya. Walaupun tidak serapi dokter tapi yah lumayan lah. Dia menggerak-gerakkan tangannya yang kulilit perban itu. Tak sengaja kulihat luka gores di lehernya. Astaga aku lupa akan luka itu. "Luka di leher Anda." Kataku pelan. Dia lalu menyentuh lehernya, sepertinya tidak terasa baginya, tapi tetap saja itu harus diobati.  Tanpa menunggu jawabannya aku mengelap luka itu dengan kain yang sudah kuberi alkohol, pelan sekali, saking pelannya seperti tidak menyentuh. Aku gugup sekali. Kalau salah-salah dia pasti meneriakiku. Beberapa kali usap, anehnya dia masih diam saja. Karena tidak fokus, tak sengaja aku menekan terlalu keras di bagian lehernya itu. "Ma-maaf!"  Dia tidak berkata apapun, hanya melihatku dengan sorotan mata yang dalam. Dia benar-benar ingin memakanku? Tolong katakan sesuatu. Bisa-bisa jantungku berhenti berdetak karena tatapannya itu. "Virenzia..." "Ya?" Aku sempat terdiam mendengarnya memanggil namaku. Ini pertama kalinya dia memanggilku dengan nama itu. Tiba-tiba dia memegang tanganku yang sedang menggenggam kain.  "Itu kan namamu?" "Ya..." "Ayo lanjutkan pertunangan ini." "Apa?"  Aku tidak salah dengar? Maksudnya dia sedang melamarku secara langsung? Belum sempat aku mencerna kata-katanya, dia menarik wajahku perlahan mendekati wajahnya. Jangan bilang dia mau menciumku lagi?! Refleks aku memejamkan mataku dan terasa rasa manis di bibirku. Bibirnya menyentuh bibir atasku, lalu bibir bawahku, begitu bergantian. Aku seperti dihanyutkan dalam gelombang laut yang tidak bisa kulawan. Entah kenapa badanku terdiam dan tanpa sadar aku sudah duduk di paha pria itu. Ketika aku membuka mataku, sepasang bola mata berwarna hitam gelap sedang menyorotiku.  "Apa yang kau lakukan?!" Oh gosh! Yang tadi itu hanya bayanganku saja? Kenapa aku sampai membayangkan berciuman dengannya? Sepertinya aku sudah gila. Jangan sampai dia berpikiran kalau aku sedang menggodanya! Wajahnya heran melihatku yang tiba-tiba duduk di atasnya itu. Aku langsung berdiri dan menjauhkan diri darinya. Jantungku serasa mau copot. Dekat dengannya saja sudah membuatku berpikiran yang tidak-tidak. Ada apa denganku? Seakan tubuhku sangat menginginkannya. Duh, dia berpikiran apa ya tentangku? Wajahku memanas dan pasti terlihat merah.  "Maaf! Aku benar-benar tidak bermaksud kurang ajar." "Lalu? Kenapa kau memejamkan mata barusan?" "Itu... sepertinya kakiku agak sakit karena di hutan tadi, jadi aku tidak tahan lagi dan terduduk... ya, seperti itu." Mulutku seperti berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Semoga dia tidak berpikir macam-macam. Kulihat dahinya mengkerut, aku lalu menunduk malu.  "Lu-luka anda sudah terobati semua, sepertinya saya sudah bisa pergi sekarang." Kakiku seperti sudah diatur untuk berlari keluar ruangan itu dengan segera. Aku sungguh tidak tahan melihat wajahnya lagi. Setengah wajahnya yang tersembunyi dengan topeng membuatku makin gugup. Curang, aku bahkan tidak bisa melihat ekspresi dibalik topeng itu. Perasaan apa ini? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN