Invitation

779 Kata
Sebuah ketukan pintu menggugah tidurku malam itu. Pasti Milli, pikirku. "Ya, masuk saja." Kataku sambil berdiri dan merapikan buku-buku yang entah dari kapan berada di sekitarku. Apa aku ketiduran? Aku tidak ingat sedang membawa buku sebelumnya. Ketika aku melihat ke arah pintu, ternyata bukan Milli yang muncul melainkan orang yang barusan kutemui. "Duke?" Duke Winterson! Buku yang kupegang terjatuh dan dengan wajahku memerah aku langsung memungut buku tadi. Apa yang dia lakukan di sini? Tunggu, aku baru sadar kalau ini bukan kamarku. Lebih tepatnya bukan di kediamanku! Dimana ini? Aku masih di istana? "Ada perlu apa Anda...?" Tanyaku setelah meletakkan buku tadi di atas meja. Aku terlihat salah tingkah. Dia lali menutup pintu kamar dan berjalan ke arahku.  "Apa maksudmu? Ini adalah kamarku." Mataku hampir mau keluar rasanya. Lalu, kenapa aku ada di sini? Pantas saja kamar ini sangat klasik. Hanya ada buku-buku dan lukisan mahal. "Tapi... Ini tidak mungkin". Ekspresinya sangat datar, ini membuatku jadi gugup, tapi kemudian sorot matanya berubah seperti singa mau menerkam seekor tikus kecil. Terakhir aku melihatnya seperti itu ketika mau menciumku. Jangan-jangan... "Ini juga kamarmu."  Aku tertawa kecil, "Maksud anda? kita? Maaf saya benar-benar tidak ingat apa-apa..." Seingatku pria itu benar-benar tidak ingin ada orang lain masuk ke kamarnya. Dulu aku menempati kamar tamu di lantai 1, sekarang dia malah menyuruh tidur di kamarnya ini? Bahkan aku ini belum menjadi istrinya! "Zia..." Dia kali ini memanggil nama panggilanku. Aku cukup tersentuh.  "Mulai sekarang panggil aku Leon." Dia mulai memegang tanganku lalu menggendongku dengan lembut. Dia benar-benar berbeda. Ini bukan Duke Winterson yang aku kenal. "Le...Leon?" Aku dibawa ke tempat tidur dengan lembut. Dia ternyata bisa baik seperti ini. Agak aneh rasanya memanggil langsung namanya.  "Ulangi sekali lagi." Aku tersenyum kecil dan menurutinya, "Leon?" Kataku sekali lagi sembari membuka topeng di wajahnya. Tanpa babibu dia langsung melahap bibirku. Aku juga menantikan saat-saat seperti ini.  "Aku tahu kau mencintai si b******k itu kan?!" Sontak dia membuatku kaget setengah mati dengan perkataannya barusan. Secara perlahan dia mencekik leherku sampai aku susah bernafas. Tidak! Tidak! Aku tidak mau mati lagi ditanganmu!  "Hah?!" Dan aku terbangun di tempt tidur yang biasa kutiduri. Aku sudah berada di kamarku? Kuperhatikan di sekelilingku, lalu menghela nafas panjang. Tadi itu mimpi? Aku menepuk jidatku kuat-kuat. "Auwww!" sakit sekali. Aku bahkan sampai memimpikannya. Lama-lama aku bisa gila. Kupegangi leherku, benar-benar tadi itu seperti nyata. Aku bisa merasakan sakitnya dicekik olehnya. Huft. Mungkinkah ini karma atas perbuatanku padanya dulu? Seolah dihantui dengan rasa bersalah. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi rasanya! Tidak bisa dibiarkan, pertunanganku harus cepat-cepat dibatalkan. Aku tidak mau dihantui terus begini. "Zia!" Sayup-sayup aku mendengar suara Ayah. 'Kenapa lagi?' batinku. Pagi-pagi sekali Ayah mendatangiku, pasti ada sesuatu yang penting. Pasti tentang pertunangan. Aku menghela nafas panjang. Dan benar, ayahku masuk ke kamar sembari melempar sepucuk surat yang ada di tangannya. Surat itu mendarat persis di depan pangkuanku. Ada cap istana di surat itu. "Apa sebenarnya yang kau lakukan semalam?!"  Wajah ayah terlihat jengkel, tapi aku tahu dia sedang menahan amarahnya. Semenjak Ibu tak ada dia cenderung uring-uringan, termasuk padaku, putri satu-satunya ini. Dengan sigap kubuka surat itu. Ah, ternyata ini adalah undangan ke istana. Besok aku harus ke istana?  "Kenapa tiba-tiba kau diundang ke istana?" "Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku hanya menolong Putra Mahkota..." "Ingat, jangan membuat masalah. Sampai saat ini kau masih tunangan Duke Winterson." "Tidak, Ayah. Aku sudah bilang aku tidak mau menikah dengannya." "Lalu kau mau menikah dengan siapa? Putra mahkota? Atau bangsawan lain?" Deg! Aku terdiam, perkataan itu seperti sebuah pisau menancap di jantungku.  "Jangan bermimpi. Hanya Duke Winterson yang bisa menjamin kehidupanmu kedepannya." "Tapi setidaknya biarkan aku memilih sendiri..." "Pergilah, selesaikan urusanmu dengan Pangeran itu." Ayah sepertinya sudah diracuni oleh Duke sialan itu. Pria nomor tiga di Barbaria itu hanya hidup seorang diri dengan kekayaan yang hampir menyamai Raja. Pasti harta rampasan hasil perang yang dia dapat sangat berlimpah. Raja Perang, itu julukannya. Tentu saja yang paling penting Ayah ingin meneruskan tradisi keluarga Dalcom yang terkenal akan keahlian berkuda dan memanahnya. Terlebih lagi aku tahu rencana Ayah dan Duke Winterson untuk menggulingkan Putra Mahkota. Kenapa Ayah tidak menyukai Pangeran Alpha? Aku tidak habis pikir. Apa karena keterampilan berpedangnya tidak sepandai Duke Winterson?  Yap, di Barbaria, seorang Raja bahkan ikut turun tangan dalam peperangan. Raja Dogge de Barbaria, yang juga merupakan ayah kandung Pangeran Alpha, berhasil memenangkan perang terakhir dengan kerajaan tetangga yang sekarang sudah menjadi Republik Golale.  Duke Winterson juga ikut ambil bagian dalam perang tersebutnya, makanya tidak diragukan lagi keahliannya sebagai pemimpin pasukan utama. Setelah perang usai mereka memilih berdamai tanpa mengganggu Barbaria lagi. Tidak ada perebutan kekuasaan lagi, tanah perbatasan kini dimiliki oleh Barbaria. Masing-masing sudah memiliki daerah kekuasaan sendiri. Aku hanya bisa menghela nafas setelah ditinggalkan Ayah begitu saja. Kini yang ada di pikiranku hanya menjauhi Duke Winterson. Maaf Ayah, aku tidak mau dia membunuhku kedua kalinya. Dalam mimpiku saja dia berusaha membunuhku. Sepertinya aku memang membutuhkan pertolongan Pangeran Alpha untuk membatalkan pertunangan ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN