Sejam yang lalu aku masih bingung memakai baju apa untuk pergi ke istana dan pada akhirnya aku hanya memakai gaun simple berwarna krim yang tidak berkilauan. Aku tidak ingin terlihat terlalu berdandan karena akan menemui Putra Mahkota.
"Silakan duduk di sini, Lady. Saya akan memberitahu Yang Mulia akan kedatangan Anda."
Aku tersenyum pada pelayan istana yang cekatan itu. Aku diantarkan di sebuah ruangan yang sepertinya memang khusus untuk para tamu menunggu. Banyak sekali sofa besar mewah di sana dan aku duduk perlahan pada salah satu sofa itu.
Aku mulai gugup semenjak tiba di istana. Kira-kira apa yang akan dibicarakan? Pasti Pangeran Alpha memanggilku berkaitan dengan kejadian semalam. Tak lama pintu ruangan itu terbuka, aku langsung berdiri dan menunduk.
"Maaf membuat Anda menunggu, Lady Dalcom."
Aku mengangkat kepalaku perlahan dan memulai salam hormatku pada pria yang dipanggil Putra Mahkota itu.
"Suatu kehormatan bagi saya telah diundang ke istana oleh Yang Mulia Putra Mahkota."
"Silakan duduk."
Pria itu melirik dua pelayan yang berdiri di pintu, seperti memberi kode untuk pergi. Pelayan itu langsung meninggalkan kami berdua. Tunggu, hanya berdua? Apa yang mau dibicarakannya? Rahasia kah? Dia duduk di seberangku dengan santai dan tatapan ramah yang biasa dia pasang di wajahnya.
"Aku ingin berterima kasih padamu karena telah menolongku kemarin."
"Ah, itu kebetulan saja. Bagaimana dengan luka Anda?"
"Untungnya hanya sedikit menggores lenganku jadi aku sudah baikan. Bagaimana bisa anda tahu hal itu akan terjadi?"
"Saya melihatnya dari kejauhan waktu itu, seperti ada yang memperhatikan Yang Mulia."
"Kau bahkan mengejarnya. Apa semua Dalcom memiliki insting seperti itu?" Kini muncul seutas senyum di wajahnya. Aku sudah lama tidak melihat senyum itu. Sejenak aku terpana dibuatnya.
"Tapi syukurlah Duke Winterson berhasil menemukanmu."
"Terima kasih, Yang Mulia. Bagaimana dengan pelakunya?"
"Sedang dalam pemeriksaan. Sepertinya dia salah satu pemberontak dari Golale. Aku sudah menghubungi petinggi Golale tentang persoalan ini."
Jadi Golale masih berniat jahat pada Barbaria? Pastinya. Pasti ada pihak yang masih dendam pada kami setelah perang yang sudah lama terjadi itu. Apakah kini mereka akan memulai api lagi?
"Sepertinya Lady Dalcom tidak hanya pandai berkuda, tapi juga tertarik dengan politik." Perkataannya membuyarkan pikiranku saat itu. Aku hanya membalasnya dengan senyuman malu.
"Saya hanya tahu sedikit dibandingkan dengan Yang mulia."
"Oh ya, aku mengundangmu untuk makan malam bersama keluarga kerajaan sebagai balasan terima kasihku "
Makan malam kerajaan? Wah! Tidak terbayang olehku akan diundang untuk hal semacam itu oleh seoramg Putra Mahkota. Dia sepertinya berhutang budi padaku. Apa ini kesempatanku?
"Suatu kehormatan bagi saya, tapi saya tidak pantas hadir di sana, Yang mulia."
"Kenapa bilang begitu, kau adalaj orang yang menyelamatkanku, tentunya akan kuberi penghargaan untukmu."
"Yang Mulia terlalu berlebihan, tapi kalau boleh saya ingin mengajukan permintaan."
Aku memberanikan diri membuka mulut di depannya. Aku tahu ini tidak sopan, tapi Pangeran Alpha yang kutahu sangat baik dan bijaksana, dia pasti akan membantuku. Kulihat dia mengernyitkan dahinya saat itu.
"Kau ingin mengganti makan malam di istana dengan satu permintaan? Apa itu?"
Astaga, untuk mengatakannya saja aku rasanya takut, tapi mau tidak mau aku harus mencobanya. Semoga ini tidak menjadi masalah.
"Yang Mulia, tolong bantu saya untuk membatalkan pertunangan saya dengan Duke Winterson.."
Aku sengaja mengecilkan suaraku saking takutnya. Keadaan seketika hening. Aku mengulum bibirku, Apa yang sudah kulakukan?
"Maaf atas ketidaksopanan saya, tapi sepertinya tidak ada yang bisa membantu saya lagi."
"Kenapa? Sepertinya itu hubungan pribadi yang tidak bisa kubantu."
Wajahnya kini tampak bingung, tapi benar juga perkataannya barusan. Setidaknya dia bisa mempengaruhi Duke Winterson agar tidak jadi bertunangan denganku. Mengenalkan dengan bangsawan lain, misalnya. Duh, bagaimana mengatakannya pada pria yang ada di depanku ini ya?
"Ah, sepertinya lupakan saja permintaan saya tadi, Yang Mulia, saya benar-benar tidak tahu diri... Saya..."
"Baiklah, aku akan memikirkannya."
Aku sempat terkejut mendengar jawabannya itu, ditambah dengan senyumnya yang tulus, seolah dia tahu akan penderitaanku saat ini. Aku tahu kenapa aku sangat menyukainya sebelumnya, dia adalah satu-satunya penyelamatku. Aku tidak berharap untuk hidup bahagia dengannya, melihatnya tersenyum saja sudah membuatku senang.
"Sebelum Anda pergi silakan menikmati kue dan minuman terlebih dahulu. Aku harus pergi sekarang."
Pangeran Alpha berdiri sambil tersenyum, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu. Aku buru-buru bangkit dan menundukkan kepalaku padanya. Bersamaan dengan itu, dua orang pelayan datang dan membawakanku banyak kue dan teko berisi teh. Aku lalu duduk kembali, menyesali perkataanku tadi.
***
Aku bergegas keluar istana setelah meminum secangkir teh dan memakan satu potong kue. Lumayan, kini aku sudah agak tenang. Baru saja aku hendak menaiki kereta kuda yang sudah menungguku di halaman istana, aku dikejutkan oleh suara lembut yang menyapaku.
"Lady Dalcom?"
Aku menoleh ke arah suara berasal. Wanita cantik berambut coklat dalam balutan gaun berwarna emerald sudah ada di hadapanku. Berry Norman. Kenapa dia ada di sini? Dia diundang juga oleh Pangeran?
"Ah, Lady Norman rupanya. Apa kabar?"
"Baik, terima kasih. Apakah Anda diundang Yang Mulia Ratu juga?"
Ratu? Ah, aku lupa, rupanya Ratu sudah memulai ajang pemilihan untuk pasangan Putra Mahkota. Berry Norman merupakan kandidat pertama untuk dijadikan permaisuri. Semua bangsawan yang terpilih oleh Ratu akan dipanggil ke istana untuk mengikut beberapa ujian keterampilan dan lainnya. Tentunya aku tidak termasuk, aku adalah tunangan Duke Winterson. Kalau saja aku bukan tunangannya, apa Ratu juga mengundangku ya?
Apa sih yang kupikirkan?
"Tidak, saya... hanya berkunjung."
"Berkunjung? Ah, tentu saja Anda adalah tunangan Duke Winterson, tidak mungkin Ratu mengundang Anda sebagai kandidat Putri Mahkota." Aku tersenyum kecil.
"Apa hubungan Anda dengan Duke Winterson berjalan baik?" Dia mengecilkan suaranya, seperti sedang berbisik kepadaku.
"Ya... begitulah."
"Aku dengar beliau orang yang pendiam dan dingin, tapi, sepertinya kalian berdua sungguh cocok."
Cocok? Astaga, dia mengejekku atau bagaimana? Mau menyangkalnya pun sepertinya nanti jadi panjang lebar. Huft.
"Ah, Aku harus bergegas."
"Baiklah, senang bertemu Anda di sini."
"Semoga harimu menyenangkan." Katanya lagi.
"Terima kasih."
Wanita itu pun bergegas meninggalkanku. Dia sepertinya agak gugup hari ini, tapi tetap saja wajahnya yang cantik itu tidak pudar dalam keadaan apapun.
***