(Duke Winterson POV)
"Sir Duke, Yang Mulia Putra Mahkota sedang menuju ke sini dengan rombongannya."
Aku yang sedang berjalan di sekitar lapangan tempat latihan itu berhenti sejenak. Kupandangi Hawk yang berada tepat di belakangku itu, dari raut wajahnya dia tampak tidak berbohong. Kemudian aku berjalan lagi, kali ini menuju ruanganku di lantai dua bangunan barrack itu.
Ada angin apa Alpha datang ke sini? Hanya melihat-lihat saja? Bukan seperti dirinya. Jelas-jelas dia sudah menyerahkan barrack seutuhnya di bawah kelolaku.
"Siapkan ruangan untuk Yang Mulia." Hawk dengan gesit meninggalkan ruanganku, dia tahu apa yang harus disiapkan ketika Putra Mahkota datang berkunjung.
"Tuan..."
"Apa lagi?"
Hobs, pengawal yang berdiri di sampingku, tiba-tiba membuka mulut. Aku hanya meliriknya.
"Sepertinya Lady Dalcom ada di sini sejak tadi pagi."
Alisku sedikit terangkat. Sudah lama sekali sejak kejadian di danau waktu itu dia tidak pernah datang lagi ke barrack. Mungkin dia sudah melupakan kejadian itu. Aku hanya diam, tidak berkata apa-apa.
Semenjak kejadian itu pandanganku terhadap Lady Dalcon berbeda. Aku pikir dia hanya gadis manjanya si tua Dalcom, tapi ternyata dia cukup menarik. Kemampuannya yang cukup hebat di kalangan wanita bangsawan sempat membuatku takjub. Dia bahkan ikut mengejar pemberontak yang melukai Putra Mahkota waktu itu. Sungguh berani.
Namun, aku bingung jika berhadapan dengannya, masih ada rasa bersalahku saat tiba-tiba menciumnya, semoga dia tidak membenciku. Aneh, aku sudah biasa dibenci orang tapi tidak olehnya, aku tidak ingin dia memandangku dengan penuh kebencian. Di sisi lain, tingkahnya yang selalu aneh dan gelagapan jika berhadapan denganku membuatku penasaran. Apa yang sebenarnya yang aku pikirkan?
Sejenak saat aku memikirkannya, Hawk datang ke hadapanku dan mengisyaratkan bahwa Putra Mahkota sudah sampai di tempat ini. Aku segera bangkit dan turun dari ruanganku, diikuti dengan Hawk dan Hobs.
"Selamat datang Yang Mulia." Tidak lupa salam hormat kutujukan padanya. Walaupun dia merupakan temanku sejak kecil, tapi tetap saja dia seorang Putra Mahkota Barbaria. Faktanya, di luar istana kami sepakat berbicara nonformal.
"Lama tak melihatmu, kawan."
Aku membalas senyumannya seperlunya.
"Ada perlu apa datang ke sini?"
"Hanya ingin saja. Sudah lama aku tidak ke sini."
"Ayo, aku sudah menyiapkanmu teh."
"Tidak, aku justru ingin berkeliling di sini."
Aku mengernyitkan dahiku. Tumben sekali dia mengajakku berkeliling barrack. Apa yang dilihat di sini? Apa ada sesuatu yang ingin dibicarakan? Aku menaiki kudaku dan berjalan perlahan bersamanya yang sedang menunggangi kudanya juga.
"Duke Winterson, apa kau tidak ingin menikah lagi?"
Aku agak terkejut dengan pertanyaannya, sejak kapan dia mengurusi kehidupan pribadiku begini. Sial! Mentang-mentang dia sedang memilih calon pendampingnya.
"Sepertinya itu bukan urusan Anda."
"Aku penasaran saja. Pertunanganmu yang kemarin batal bukan?"
"Sejak kapan kau tertarik dengan kehidupanku?"
"Aku berencana menjodohkanmu dengan bangsawan dari Golale."
Aku menghentikan kudaku. Begitu juga dia. Dia memandangku dengan wajah polos, seolah tidak tahu apa-apa.
"Kau mau jadikan aku sebagai umpan hah? Kenapa tidak kau saja?"
"Hei, kau kan juga tahu istriku saja dipilih oleh Ratu, bukan aku sendiri. Kalau kau setuju, aku akan mengundangnya ke istana."
"Kau sudah gila."
Aku mengalihkan pandanganku darinya. Seketika mataku menangkap seorang wanita berambut gelap sedang membidik panahnya ke arah pohon di depannya. Pemandangan itu jadi mengingatkanku dengan kejadian di danau waktu itu.
"Bukankah itu Lady Dalcom?" Ternyata Alpha pun sedang memperhatikannya.
Apa aku seperti itu saat melihat wanita itu? Aku sempat mengamati Alpha yang sedang melihat Lady Dalcom dari kejauhan. Di wajahnya terlihat ekspresi kagum, takjub, entah apa itu.
Apa Lady Dalcom seistimewa itu sampai semua lelaki seperti kagum padanya? Dan anehnya lagi, aku seakan tidak suka caranya memandanginya. Ada apa denganku sebenarnya? Aku terganggu hanya dengan ini?
"Dia memang sering latihan di sini." Kataku berusaha mengalihkannya.
"Oh... Kudengar hubunganmu dengannya tidak baik."
"Apa? Siapa yang mengatakannya?"
"Hanya sepenglihatanku saja." Dia mulai bercanda denganku, tapi jujur aku tidak suka dia sok tahu seperti ini.
"Bagaimana kalau kau kukenalkan dengan putri perdana menteri Golale yang cantik itu."
"Berhentilah ikut campur, jangan kau ucapkan kata-kata itu lagi."
Aku sedikit muak mendengarnya. Aku memacu kudaku lagi dan berjalan di depannya. Sebenarnya apa rencananya sampai mau mengenalkanku pada seorang wanita? Menjengkelkan. Sepintas aku melirik ke arah Lady Dalcom lagi. Entah kenapa seperti ada magnet pada dirinya sehingga aku betah lama-lama melihatnya.
Apa dia memang secantik ini?
Tanpa sadar aku bahkan memujinya dalam hati. Benar-benar seperti bukan diriku. Seolah tahu sedang ada yang memperhatikan, mata wanita itu tiba-tiba menangkap mataku. Hanya beberapa detik, lalu dia mengalihkan pandangannya dariku dan menghentikan panahnya.
Apa dia sungguh membenciku? Aku dan Alpha kembali ke bangunan utama setelah berkeliling di lapangan itu. Aku terduduk di kursiku sambil memikirkan banyak hal. Salah satunya wanita itu, Lady Dalcom. Semenjak bertemu dengannya entah kenapa pikiranku jadi kacau. Aku tidak pernah sepusing ini memikirkan sesuatu. Aku lebih suka langsung melakukan tindakan. Aku beranjak dari dudukku dan berjalan menuju ruangan di samping ruanganku. Tidak kutemukan satu orang pun di sana.
"Dimana Yang Mulia?"
Tidak lama setelah berkeliling, Alpha ingin berisitirahat di ruangan yang disediakan untuknya, tapi dia tidak ada di sana. Pergi kemana dia?
"Yang Mulia sepertinya berkeliling lagi." Hawk menyahutku dengan lugas.
Aku mendekati jendela di dekat sana. Mencari-cari sosok Alpha yang menghilang tanpa bilang padaku. Tidak susah mencarinya, mataku langsung mengarah ke tempat latihan panas di bawah sana. Dia sedang bersama Lady Dalcom?!
Apa yang dilakukannya? Apakah Alpha sengaja menyapanya? Atau... Seketika aku menjadi kesal. Aku tahu aku tidak suka melihat pemandangan itu.
***