(Virenzia POV)
Baru kali ini aku bosan dengan buku-buku dan tehku. Badanku terasa kaku. Apa yang bisa kulakukan lagi? Mandi sudah, sarapan sudah, baca buku dan minum teh. Hmm... Aku jadi ingin latihan. Apa aku ke barrack saja? Aku pun sudah bosan latihan di kediamanku.
Tapi, bagaimana kalau aku bertemu dengan Duke Winterson? Duh, masalahnya aku tidak tahu harus berkata apa jika bertemu dengannya. Sepertinya aku harus bersikap dingin padanya. Jika bertemu dengannya aku akan diam saja.
Baiklah. Aku bergegas mengganti bajuku dan memerintahkan Milli untuk menyiapkan kereta untukku.
"Ahh sejuknya..."
Aku rindu udara di sekitar tempat latihan itu. Pepohonan yang rindang menyelimutinya. Benar-benar tempat yang menyenangkan bagiku. Dalam sekejap aku sudah sampai di sana. Kalau saja tidak ada Duke jahat itu, aku mungkin setiap hari ke sini, berlama-lama tentunya.
Baru saja aku menapakkan kakiku di sana, seorang pria paruh baya menyapaku dengan ramah. Cobalt, baru bertemu sekali saja dia sudah seperti teman lamaku. Dia orang yang ceria dan begitu menghibur.
"Lady Dalcom, Anda datang lagi."
"Tentu saja, aku sangat suka latihan di sini."
"Bagaiman kabar Anda?"
"Tentu saja baik, terima kasih."
Tak lama seorang wanita seusiaku mendekati kami. Aku baru melihat ada wanita selain diriku latihan di sini. Gadis berambut merah pendek sebahu itu lalu menunduk di depanku.
"Ah, dia adik saya, Lady. Dia juga sering berlatih di sini"
"Saya Noa, senang sekali bertemu dengan Anda, Lady."
Dia benar-benar gadis imut yang polos. Aku tersenyum padanya, senangnya, akhirnya ada teman wanita untuk latihan di sini.
"Panggil saja aku Zia." Kataku berusaha ramah.
"Apa?" Dia terlihat kaget.
"Tidak boleh, kau harus tetap memanggilnya Lady... Lady Zia boleh juga..." kata Cobalt memberitahu adiknya itu. Mereka kakak-beradik yang lucu, memiliki rambut yang sama-sama berwarna merah dan keduanya berhasil menghiburku.
Aku sampai tidak menyadari beberapa pasang mata memandang ke arah kami. Aku lalu menyapa prajurit yang ada di sana dengan senyuman. Untungnya mereka semua ramah-ramah. Benar-benar tempat yang menyenangkan. Tidak sulit bagiku untuk berbaur di sana karena aku sudah terbiasa latihan dengan para pria. Terlebih lagi kini ada Noa yang selalu bersamaku di barrack ini.
"Aku ingin melihat Anda memanah." Noa menarik tanganku pelan menuju tempat berlatih panahan. Baru bertemu tadi, tapi dia sudah menganggapku seperti kakaknya. Aku malah senang, karena aku tidak pernah punya saudara perempuan maupun laki-laki.
"Ayo berlatih bersamaku."
"Baiklah, tapi aku mau melihat keahlian Nona dulu."
Aku tersipu malu. Seolah-olah aku ini sudah profesional saja dalam memanah, memang sih selain berkuda, aku suka latihan menggunakan panah sejak kecil. Bagiku itu lebih menyenangkan dibandingkan latihan pedang.
Tidak jarang Noa dan prajurit yang sedang latihan di sekitar kami tertawa dan bertepuk tangan jika busurku tepat mengenai titik sasaran di pohon dekat sana. Inilah yang membuatku senang latihan di sini ketimbang di rumahku. Kicau burung dan suara air pun menambah semangatku. Namun, beberapa lama kemudian aku aku tudak sengaja melihat pengawal kerajaan di sekitar situ.
"Kenapa ada pengawal kerajaan di sini?"
"Yang Mulia Putra Mahkota datang, katanya sedang berkeliling." Sontak aku membulatkan mataku. Pangeran Alpha sedang berada di sini juga? Tadinya aku takut bertemu dengan Duke Winterson, sekarang Pangeran juga ada di sini.
Aku menurunkan panahku dan melihat ke arah pepohonan yang agak jauh di baratku. Rupanya sepasang mata sedang melihat ke arahku. Walaupun ketutupan pohon, tapi aku tahu siapa pria itu. Duke Winterson! Refleks aku berbalik. Noa sampai heran melihatku seperti itu.
"Ada apa?" Wajahku tiba-tiba panas, pasti terlihat merah.
"Ti-tidak apa-apa." Kenapa aku sekaget itu melihatnya? Bahkan kini jantungku berdegup lebih cepat. Astaga saking menyeramkannya aku sampai begini.
"Sepertinya Anda perlu istirahat dulu, Nona."
Aku mengikuti Noa yang mengambil panahku dan berjalan mendahuluiki. Kami kemudian duduk di bebatuan yang sering dijadikan tempat prajurit beristirahat.
"Sudah kubilang, panggil aku Zia."
Aku tersenyum dan berusaha mengurangi rasa tidak nyamanku tadi. Aku meneguk segelas air yang diberikan Noa dengan cepat. Lumayan membantu memulihkan kesadaranku. Wajahku sudah tidak panas seperti tadi.
"Ah sebentar, aku akan mengambilkan makanan untuk Anda." Noa melirik ke arah dapur barrack dan berjalan meninggalkanku. Aku menghela nafas panjang. Sebentar lagi aku harus pulang, pikirku.
"Rupanya Lady Dalcom juga di sini." Tiba-tiba suara pria mengagetkanku. Aku hampir berteriak.
"Ya-Yang Mulia..."
Aku buru-buru berdiri dan sedikit menundukkan kepalaku padanya. Astaga! Sial sekali aku hari ini, menghindari Duke Winterson malah bertemu dengan Pangeran Alpha.
"Sepertinya aku mengagetkanmu."
"Tidak, emm.. ya saya agak kaget sebenarnya."
"Mengenai permintaanmu kemarin..." dia seperti ragu-ragu mengatakannya.
"Saya mohon maaf, Yang Mulia, anggap saja saya tidak pernah mengatakan hal seperti itu..."
"Aku akan membantumu."
"Apa?"
Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar barusan. Pangeran Alpha akan membantu membatalkan pertunanganku? Bagaimana?
"Lady Dalcom, aku hanya penasaran saja kenapa kau sebenci itu dengan Duke Winterson?"
"Ah, bukan begitu, saya tidak memben..."
Omonganku terhenti karena pria yang kubicarakan tadi tiba-tiba muncul di hadapanku. Duke Winterson sepertinya sudah mengintai kami daritadi.
"Jawab pertanyaannya."
Jantungku hampir berhenti berdetak melihatnya sudah berada di belakang Pangeran. Sorot matanya seakan mau membunuhku saat itu juga. Aku terlalu fokus pada Pangeran atau aku yang memang tidak sadar akan kehadirannya? Bukan, yang lebih penting bagaimana aku menjawab pertanyaan itu?! Matilah aku.
Aku terpaku melihatnya, lidah dan semua anggota tubuhku tidak bisa digerakkan saat itu. Duke Wonterson melangkahkan kakinya mendekatiku. Aura menakutkannya membuatku merinding. Ingin rasanya aku berkata 'Berhenti di situ, jangan dekati aku', tapi tidak ada satu kata pub yang keluar dari mulutku. Pangeran Alpha juga sepertinya terkejut akan kehadirannya.
"Jadi kau membenciku?" Wajah pucatku tertuju pada pria yang sudah berada tepat di depan wajahku. Dia bahkan tidak menghiraukan Pangeran Alpha yang juga ada di dekatku.
"Kau bisa membuatnya mati ketakutan." Pangeran Alpha menarik lengannya agak kasar. Maksudnya agar pria itu tidak mendekatiku seperti penagih hutang. Tatapan Duke Winterson kini mengarah pada pria yang berada di sampingnya itu. Dia langsung melepaskan tangannya.
"Jangan campuri urusanku."
Suaranya kini lebih nyaring dari sebelumnya. Hampir semua prajurit yang berada di dekat sana menatap ke arah kami dan berbisik. Situasi apa ini sebenarnya?
Seseorang tolonglah! Aku hanya bisa berteriak dalam hati melihat kedua pria ini saling memberikan pandangan yang menusuk. Sepertinya pergi ke barrack hari ini bukan pilihan yang tepat.
"Ikut aku." Tanganku lalu ditarik dengan kasar oleh Duke Winterson, dia sepertinya sadar sedang menjadi pusat perhatian di sana.
Tenagaku hilang entah kemana saat itu. Aku langsung terseret ke arah pria bertopeng itu, dan tak menyadari saat pria itu tiba-tiba berhenti. Aku sampai menabrak tubuhnya.
Pengawal kerajaan rupanya mendekat dan menghadangnya! Astaga! Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini rasanya. Apa mereka tidak tahu semua orang sedang memandanginya? Dan ini bisa jadi rumor yang tidak sedap nantinya.
"Apa seperti ini perlakuanmu terhadap wanita?"
Pangeran Alpha rupanya berusaha menolongku yang terlihat menyedihkan ini, tapi pria yang mencengkeram tanganku ini tidak mengubrisnya, malah melanjutkan langkahnya.
Usaha mereka sia-sia dan aku pun diseretnya menuju bangunan utama barrack yang tak jauh dari sana. Aku sempat memandangi Pangeran yang hanya berdiri melihatku dengan bola matanya yang biru itu. Ekspresinya cukup datar di situasi seperti ini, tapi aku tidak bisa berlari padanya. Aku harus menghadapi takdirku, berhadapan dengan Duke Winterson. Bahkan Pangeran Alpha, seorang Putra Mahkota tidak bisa menolongku saat ini.
"Semuanya tanpa terkecuali, jika ada yang membuka mulut tentang kejadian ini, tak segan-segan akan kupotong lidahnya. Jangan sampai aku mendengar rumor setelah ini."
Sambil menyeretku, pria berambut hitam itu setengah berteriak pada semua orang di sana. Mereka pun terdiam dan saling pandang satu sama lain.
***