Aku seperti dilempar ke sebuah kursi kayu oleh Duke Winterson. Dia membawaku ke ruang kerja yang terletak di lantai dua bangunan barrack. Hanya ada kami berdua di sana. Pria itu benar-benar kasar, sayangnya aku hanya bisa menjerit dalam hati.
Dia lalu duduk di hadapanku sambil menyilangkan tangannya. Mungkin kalau aku ini bawahannya pasti sudah dihajar habis-habisan olehnya. Aku tahu dia membawaku ke sini untuk menghindari keributan lebih lanjut di luar sana.
Bagaimana dengan Pangeran? Pasti mereka berpikir Duke Winterson tidak menghormati Putra Mahkota dan telah bersikap tidak sopan padanya. Astaga, sempat-sempatnya aku memikirkan dia, padahal sorot mata pria yang ada di depanku sekarang sedang menghujamku.
Aku menggigit bibirku, menghela nafas setenang mungkin. Duke Winterson masih diam dengan wajah kesal di balik topengnya itu, dia sepertinya sedang mengontrol amarahnya.
"Begini, saya memang ingin membatalkan pertunangan, tapi saya tidak membenci Anda sama sekali..." Aku memberanikan diri membuka mulut agar bisa lari dari sini secepat mungkin.
"Kau pikir aku menginginkan pertunangan ini?"
Kali ini dia agak tenang dan cara bicaranya juga tidak sekasar tadi. Jangan sampai aku membangunkan singa yang sedang tidur lagi.
"Saya mohon maaf sudah bersikap tidak sopan, tapi saya benar-benar belum siap menjadi tunangan Anda." Aku menundukkan wajahku, tak berani memandanginya di saat seperti ini. Tak lama pintu ruangan itu terbuka, Pangeran Alpha sudah berdiri di sana.
"Aku akan kembali ke istana, sepertinya ada hal yang harus kalian selesaikan."
Duke Winterson menatapnya dengan wajah datar, lalu dia terpaksa berdiri dan sedikit menunduk tanpa berkata apa-apa. Semua yang ada di sana termasuk pengawal kerajaan juga tahu kalau pria itu sedang tidak ingin diganggu saat ini.
"Tolong bereskan kejadian tadi, jangan sampai tersebar kemana-mana. Aku tidak mau ini terulang lagi." Pangeran Alpha lalu berbalik tanpa sedikitpun melihatku. Dia pergi begitu saja, diikuti oleh pengawalnya. Dua prajurit yang ada di belakangnya pun mengantar kepergiannya. Ketika pintu itu tertutup, aku masih terdiam, bingung harus bicara apa lagi. Kini Duke Winterson kembali menatapku.
"Aku akan bicara langsung dengan Marquess Dalcom mengenai hal ini, tapi setelah ini aku tidak mau melihat kau muncul lagi di sini."
Apa? Dia mau membatalkan pertunangan tapi sebagai gantinya aku tidak boleh ke sini lagi? Licik sekali orang ini. Dipikir-pikir aku bisa bebas masuk ke sini karena aku adalah tunangan Duke Winterson. Huft. Baiklah, mau tidak mau.
"Baiklah, terima kasih atas kebaikan Anda."
"Berkemaslah. Kau bisa pulang dengan keretaku."
Apa dia sangat marah padaku? Aku pun menundukkan kepalaku dan segera keluar dari ruangan itu. Dia tidak menatap kepergianku sama sekali. Rasanya lega mendengarnya akan membatalkan pertunangan denganku, tapi ada rasa sedih juga yang muncul dalam diriku. Apa karena tidak bisa ke barrack lagi? Atau karena tatapan Duke Winterson tadi berubah?
Aku pun berpamitan dengan Noa dan prajurit lain yang ada dekat tangga bangunan utama itu. Tentu saja aku tidak bilang kalau aku tidak akan ke sini lagi. Kalau mereka tahu pasti akan jadi berita heboh. Cukup aku saja yang sedih.
"Jangan lupa, Nona, lusa adalah hunting day."
Seorang prajurit berusaha menghiburku. Hunting day adalah hari dimana semua orang di Barbaria ikut serta dalam kompetisi berburu binatang di hutan timur barrack. Mereka yang berburu paling banyak atau membawa buruan paling besar nilainya lah yang menang dan tentu saja ada hadiah yang tidak sedikit jumlahnya. Aku hanya bisa tersenyum, padahal aku sangat ingin ikut serta dalam kompetisi itu dari dulu.
"Wah, aku juga akan ikut kalau begitu."
Noa membulatkan matanya dan terlihat senang.
"Hanya untuk pria, asal kau tahu."
Pria ya? Tiba-tiba muncul ide gila di benakku. Bersamaan dengan itu kereta yang dipersiapkan untukku sudah muncul di hadapanku. Aku pun terpaksa menaikinya.
***
Aku bergegas turun dari kereta kuda dan langsung menuju kamarku.
"Ada apa Nona? Kenapa gelisah begitu?"
Milli heran melihatku mondar-mandir sendirian di kamarku. Biasanya setelah latihan aku langsung mandi dan ganti baju, tapi kali ini aku bahkan tidak sempat berpikir untuk melakukannya.
"Milli, bantu aku..." Aku langsung menarik Milli duduk di sofa yang ada di dekatku itu.
"Aku mohon jangan bilang Ayah atau siapapun."
Aku mulai berbicara sepelan mungkin sembari memperhatikan apakah ada orang lain di sana. Milli hanya mengangguk ragu. Sepertinya dia tahu aku akan minta sesuatu yang aneh.
"Carikan aku pakaian pria."
"Buat apa Nona?"
"Carikan saja dulu dan apakah kau bisa mendandaniku seperti laki-laki?"
"Nona! Jangan bilang Anda..." Milli terkejut dan hampir berteriak, untungnya aku langsung menutup mulutnya dengan tanganku.
"Sstt, bantu aku kali ini... Kudengar dua hari lagi adalah hunting day, jadi aku ingin menyamar jadi laki-laki dan hadir di acara itu."
"Tidak! Maaf Nona, kali ini saya tidak bisa, ini sangat berbahaya."
"Tolonglah... kali ini saja..." Aku merengek padanya seperti anak kecil. Dia satu-satunya orang yang bisa kupercaya. Aku tahu ini ide gila. Aku jadi melupakan kejadian di barrack barusan gara-gara persoalan hunting day ini. Dari kecil aku ingin sekali menyaksikan acara itu, tapi selalu tidak dibolehkan.
"Aku cuma ingin menyaksikannya."
"Kenapa harus berdandan seperti laki-laki?"
"Duh, bagaimana aku menceritakannya ya... Tadi aku sudah meminta Duke Winterson membatalkan pertunangan..."
"Be-benarkah Nona?"
"Dia akan mencoba berbicara pada Ayah nanti, tapi aku tidak boleh lagi pergi ke barrack... Jangan bilang pada siapapun tentang hal ini!"
"Iya, kapan sih saya membocorkan rahasia Nona."
"Kalau begitu sekarang bantu aku ya..."
"Aduh, tapi kalau yang itu... Anda bisa dalam masalah besar kalau ketahuan."
"Makanya jangan sampai ketahuan."
Aku terus membujuk Milli dan menyogoknya dengan beberapa makanan. Milli lebih dewasa dariku, dia tentunya mengerti maksudku. Aku tahu pasti dia akan sulit dibujuk untuk mewujudkan ide gilaku ini, tapi aku harus berusaha.
"Baiklah..."
"Aaaa, terima kasih Milli, kau memang yang terbaik."
"Tapi..."
"Tapi apa?"
"Saya tidak mau menanggung resikonya."
"Tentu saja! Aku jamin aku akan pulang dengan selamat."
Aku memeluknya dengan senyuman paling lebar. Yang pertama aku senang karena sudah berhasil membuat Duke Winterson membatalkan pertunangan kami. Kedua, aku akan ikut hunting day dua hari lagi! Dia boleh melarangku ke barrack, tapi aku punya beberapa trik untuk diam-diam pergi ke sana.
***