(Duke Winterson POV)
Pagi-pagi sekali aku sudah tiba di barrack. Hari ini adalah hunting day, hari yang sangat dinantikan para pria di Barbaria. Kompetisi berburu dengan hadiah yang tidak sedikit. Tahun ini Raja menyiapkan 100.000 Chop sebagai hadiah utama. Uang sebanyak itu tentunya bisa membeli perhiasan dan barang mahal lainnya.
Sayangnya, sebagai pemimpin pasukan kerajaan aku tidak dibolehkan ikut serta, begitu pula Putra Mahkota dan petinggi lain. Hunting day akan dipimpin oleh Putra Mahkota sendiri dan aku sebagai pengawas. Tidak diperbolehkan melukai peserta satu sama lain, jika ada yang berkelahi akan didiskualifikasi. Sebagai pengawas, sudah tugasku untuk melihat gerak-gerik peserta dan meminimalisir adanya kecurangan dan pelanggaran.
"Putra Mahkota tiba, Sir."
Aku berjalan menghampiri kereta kuda berwarna coklat keemasan yang datang saat itu.
"Selamat datang, Yang Mulia."
Aku berusaha bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Kejadian dua hari yang lalu membuatku tidak enak padanya, padahal itu adalah urusan pribadiku dengan wanita aneh yang tidak lain adalah Lady Dalcom itu. Dia selalu membuat masalah, sepertinya tidak berurusan dengannya adalah pilihan yang tepat. Setelah semua pekerjaanku selesai aku akan menemui Marquess Dalcom. Sepertinya wanita itu tidak tahu kalau ayahnya sampai memohon-mohon padaku untuk bertunangan dengannya. Malah putrinya sendiri ingjn membatalkan pertunangan itu.
"Bagaimana kabarmu?" Alpha tersenyum ke arahku. Aku tahu dia juga pasti sudah melupakan kejadian lalu.
"Sangat baik, terima kasih, Yang Mulia."
Aku lalu menyiapkan kuda terbaik untuknya dan menyerahkan padanya. Matahari sudah mulai tinggi, sepertinya semua peserta sudah berkumpul di barrack. Acara biasanya akan di mulai setengah jam lagi dan dibuka dengan sambutan Putra Mahkota. Tampaknya peserta kali ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. Banyak wajah baru yang kulihat, semoga tidak banyak masalah kali ini.
"Perburuan hari ini... Dimulai!"
Bersamaan dengan seruan Putra Mahkota semua kuda mulai berpacu memasuki hutan yang ada di timur barrack. Aku yang sedang duduk di atas kudaku mengamati dari jauh para peserta yang berbondong-bondong menjauhiku itu. Di sampingku tampak Alpha sedang ikut mengamati keseruan perburuan kali ini. Setelah semua memasuki hutan, aku mulai bergerak, diikuti dengan Hawk dan prajurit pilihanku.
"Apa masalahmu dengan Lady Dalcom sudah selesai?"
Tiba-tiba aku terhenti mendengar pertanyaan yang muncul dari pria yang berada tidak jauh dariku itu. Kenapa dia penasaran sekali? Dia bukan tipe orang yang suka ikut campur begini.
"Masalah apa yang Anda maksud?"
"Entahlah, Lady Dalcom sepertinya sangat tertekan dengan pertunangan kalian. Sebaiknya jangan terlalu memaksakannya."
"Tertekan?"
"Kau masih saja tidak peka."
"Mungkin Anda yang terlalu peka sampai mengurusi urusan pribadi saya. Saya jalan dulu, Yang mulia."
Aku memilih untuk tidak beragumen dengannya lagi. Bisa-bisa aku ketinggalan jejak semua peserta, tetapi aku bisa merasakan ekor matanya masih membuntutiku. Sorotan matanya berbeda, apa dugaanku benar? Sepertinya dia tertarik dengan putri Dalcom itu.
Aku teringat tatapannya ketika melihat wanita itu di barrack. Tatapan kagum atau entahlah, yang pasti wanita itu tengah menarik perhatiannya. Yah, dibilang spesial juga tidak, tapi sepertinya diantara wanita bangsawan lain hanya dia yang cukup pandai berkelahi. Apa karena dia dari keluarga Dalcom?
"Hyaaak!" Aku mulai memacu kudaku ke arah hutan. Dengan cepat aku memberi kode pada prajuritku untuk menyebar. Angin yang berhembus tidak terlalu kencang itu kuharap bisa menyapu semua pikiranku saat ini.
Tidak lama memasuki hutan, aku mengamati tiga orang peserta sedang berburu hewan liar di sana, bahkan ada yang menemukan musang besar di sekitarku. Sejauh ini tidak ada yang menimbulkan kegaduhan.
Aku mulai berjalan lagi dan melihat seseorang dengan kuda yang berlari sangat cepat sedang mengejar anjing liar yang berlari di depannya. Yah, perburuan ini memang seseru itu karena semua berlomba-lomba untuk membunuh.
Selama hidupku mengikuti hunting day, aku hanya kalah sekali saat usiaku masih 18 tahun, kira-kira 8 tahun yang lalu. Jadi wajar jika aku hidup sendiri dengan harta yang berlimpah dan aku mulai menjadi pengawas sejak lima tahun yang lalu, semenjak aku diangkat menjadi pemimpin pasukan kerajaan.
Aku mengikuti kuda tadi dari kejauhan. Dua ekor anjing hutan rupanya sudah mati di hadapannya. Tangkas juga orang itu. Dia sengaja mencari area sepi agar bisa berburu tanpa adanya orang lain. Faktanya memang semakin dalam memasuki hutan, semakin banyak hewan buruan yang bisa di dapat. Tentunya juga semakin berbahaya hewan itu.
Aku kini berbalik arah untuk mengamati peserta lain. Tak jauh dari sana terdengar suara dentuman keras. Aku buru-buru mencari sumber suara. Benar dugaanku, dua peserta sedang adu tinju dan terlihat sedang merebutkan kambing hutan yang sudah tertusuk panah.
"Berhenti!"
Suaraku cukup membuat mereka terkejut. Aku tidak heran dengan hal itu. Pasti mendengar suaraku saja mereka langsung diam tidak berkutik. Aku menarik pedang besar yang ada di pinggangku.
"Kalian didiskualifikasi."
Mereka terlihat memisahkan diri dan terduduk di hadapanku. Kalau saja ada yang berani mengabaikanku, akan kutebas lehernya. Mereka pun tahu itu.
Aku turun dari kudaku dan mengayunkan pedang ke arah kambing hutan yang tergeletak di sana. Aku membelahnya menjadi dua dan melemparkan masing-masing 1 pada peserta yang berkelahi tadi.
Tanpa membuka mulut, aku menunggangi kudaku lagi. Peraturannya, jika peserta yang telah didiskualifikasi berkelahi lagi, dirinya tidak akan diijinkan mengikuti hunting day di tahun berikutnya. Tidak sedikit juga yang pernah melakukannya. Aku menyimpan pedangku dan memacu kudaku lagi.
Kini aku menuju ke arah semak-semak rindang. Daerah ini lebih sepi. Hewan apa yang bisa didapat di dekat sini, pikirku. Baru saja aku hendak berbalik, sepintas aku melihat seorang peserta yang menjalankan kudanya dengan pelan. Dia mengenakan jubah bertudung berwarna coklat tua. Kenapa dia memakai jubah yang hampir sama denganku? Bukankah hanya pengawas yang mengenakannya?
Tunggu, kenapa dia santai sekali? Dia pikir sedang berjalan-jalan di sini? Aku memperhatikan bawaannya, satu buruan pun tidak ada. Apa dia memang tidak minat berburu? Yang lain berebut, dia malah santai berjalan-jalan.
Perlahan aku mengikutinya dari kejauhan. Mencurigakan, dia hanya membawa panah, tidak kulihat pedang didekatnya, terlebih lagi jubahnya itu, apa dia penyusup dari Golale?
Seakan tahu diikuti, dia menoleh ke belakang dan mengamati keadaan sekitar. Dia melirik ke arahku yang berjalan perlahan mendekatinya, tapi tak disangka dia malah memacu kudanya dan mencoba melarikan diri. Siapa dia? Dia pasti penyusup!
Aku pun mengejarnya tanpa berkata satu kata pun. Dia seperti maling yang ketahuan, kudanya berlari kencang sekali, seakan takut tertangkap olehku. Apa dia tahu aku sedang mengawasinya dari tadi?
Aku mengambil jalan pintas ke kiri, sedangkan dia jalan terus ke depan. Berburu dan mengejar tentunya adalah keahlianku. Dia tidak akan bisa lari dariku. Benar saja, aku mengagetkannya yang berlari mulai pelan, dia pasti menduga aku tidak lagi mengejarnya.
Ketika hanpir mendekatinya, dia memacu kudanya lagi sembari melihat kearahku dengan wajah pucatnya. Jubahnya terkibas angin dan terlihat beberapa helai rambut hitamnya keluar dari tutup kepalanya. Setahuku tidak banyak yang memiliki rambut hitam sepertiku. Rata-rata rakyat Barbaria memiliki rambut coklat atau pirang.
"Siapa kau?! Berhenti!"
Aku mulai berteriak padanya!walaupun jarak kami tidak jauh. Dia mengabaikanku. Sialan! Akan kubunuh dia!
Aku memacu kudaku lagi dan berusaha meraih orang itu. Sepertinya kuda miliknya sudah kelelahan akhirnya dia memelan dan kutarik badannya. Dia sempat melawanku, tapi tak disadari kami pun terjatuh ke tanah bersamaan.
Kuda-kuda itu refleks berdiri menghindar agar tidak ikut tersungkur. Orang itu jatuh tepat di atasku, baru saja dia akan bangun, kutahan lehernya dan tanpa sengaja aku meyentuh dadanya. Dia terus memberontak, tapi...
Apa-apaan ini? Aku seperti sedang memegangi.. d**a wanita?! Aku merasakan banyak lemak di dadanya. Seorang pria tidak mungkin memiliki d**a seperti ini. Badannya pun sangat ramping untuk ukuran seorang pria. Apa dia memang benar-benar wanita?
Aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia membelakangiku. Aku sempat lengah dan dia menggigit tanganku bersamaan saat aku menekan dadanya lagi. Sial!
Aku terpaksa melepaskan tanganku, tapi aku berhasil menarik jubahnya ketika dia bergerak menjauhiku. Ringan. Badannya sangat ringan sehingga tidak susah untukku menjatuhkannya. Dia berusaha melepaskan jubahnya dan tersungkur saat itu juga. Kepalanya tepat mengenai batu besar di dekat sana.
Ketika aku berdiri dan mendekatinya, darah sudah mengucur di dahinya kanannya. Dia hendak bangun sambil memegangi kepalanya, tapi sayangnya dia tidak bisa berdiri dengan benar. Rambutnya yang digulung sedikit terurai. Benar saja, dia adalah seorang wanita! dan orang ini... jelas-jelas aku tahu siapa dia... Lady Dalcom?!!
"Apa yang kau lakukan di sini?!"
Aku membantunya berdiri dengan kasar dan baru saja aku mau menginterogasinya, kepalanya sudah terjatuh ke bahuku. Dia pingsan?
Apa-apaan wanita ini??!
***