-*-*-*- Hari berlalu dan sore hampir tiba. Mama Gianna menghampiri kamar Gianna lagi dan kini berdiri di depan pintunya. Punggung jari-jari tangannya mulai kembali mengetukan dirinya ke pintu. “Jian?” panggil mamanya dengan nada pelan, takut mengagetkan anaknya kalau-kalau ia sedang tidur. Merasa tak ada jawaban, mama Gianna mencoba mendorong gagang pintu kamar Gianna dan ternyata tidak di kunci. Mamanya itu kemudian membuka pintu dan masuk perlahan. Saat di dalam, mama Gianna bisa melihat kamar yang berantakan. Hampir semua bantal terlempar ke sembarang arah, selimut yang berantakan, dan Gianna yang tertidur dalam posisi ketiduran. “Yaampun anak ini, sebenernya berantem separah apa sama pacarnya sampe kayak gini,” gumam mama Gianna begitu melihat keseluruhan kamar Gianna. Tubuh yang

