-*-*-*- Rafael terdiam di atas kasurnya setelah menerima telepon dari ‘mantan’nya itu. Ekspresi wajahnya tak menunjukkan banyak ekspresi, tetapi terlihat jelas kalau ia merasa sedih. Sedih karena menyesali semua perbuatannya sendiri. “Hah agensi sialan!” umpatnya seraya menghempaskan tubuhnya dan menutup mata dengan lengannya. Seandainya, seandainya … kata-kata itu kembali keluar dari bibirnya. Terlihat jelas kalau ia benar-benar merasa tersiksa. * “Kita mau main kemana?” tanya Gianna. Terlihat kini di sofa ia ada Geno dan juga Rafael. Sudah beberapa menit berlalu sejak ia menunggu Gianna untuk mengajaknya pergi. Gianna sendiri kini nampak sibuk mencoba membuat gulungan yang rapih pada lengannya karena ia memakai lengan panjang. “Liat aja nanti,” senyum Rafael melihat gadisnya t

