“Eeungg...” lenguhan kecil terdengar dari bibir mungil seorang gadis yang baru saja siuman. Bulu mata lentik gadis itu bergerak-gerak lucu tidak lama kelopak matanya terbuka, ia tampak mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang sangat terang dalam ruangan tersebut.
Ceklek
Seorang laki-laki yang menggunakan kaos hitam serta celana jeans masuk dengan satu plastik sedang berbagai makanan ringan serta minuman. Laki-laki itu belum menyadari jika gadis yang tengah berada di hospital bad telah siuman. Dengan langkah santai ia mendekat dan menaruh semua bawaannya tadi ke atas nakas.
“Kakak,” panggil gadis itu dengan suara pelan.
Orang yang di panggil gadis itu terkejut dan menatap gadis tersebut dengan mata yang berbinar. Tanpa menunggu laki-laki tersebut langsung memeluk gadis yang tengah menatapnya sembari tersenyum. Tipis.
“Syana kamu udah sadar Dek?” tanya Aldi dengan suara pelan dan memeluk adiknya dengan erat.
“Syana kamu bikin Kakak khawatir tahu gak, sebentar Kakak panggil dokter dulu yah,” ucap Aldi sambil mengecup kening Syana sedikit lama.
Aldi memencet tombol yang terdapat di samping hospital bad untuk memanggil dokter. Ia masih setia memeluk adiknya dan menghujani ciuman di wajah Syana. Saking bahagianya Aldi sampai lupa mengabari kedua orang tuanya.
Tidak lama kemudian seorang dokter laki- laki datang bersama satu suster. Membuat pelukan Aldi dan Syana terlepas. Dokter tersebut tersenyum ramah pada Syana dan Aldi. Tampak dokter tersebut tidak segera memeriksa Syana melainkan membaca kembali laporan kesehatan Syana lebih dahulu.
“Syana apa yang sedang kamu rasakan saat ini?” tanya dokter dengan nada lembut sedangkan Syana hanya menggeleng.
“Apa kamu merasa pusing atau merasa kan hal lain pada tubuh kamu?” tanya dokter lagi tetapi Syana hanya menjawab dengan gelengan.
Dokter tersebut tampak menghela napas kasar, entah apa hasil laporan kesehatan Syana kali ini tetapi Aldi merasa ini bukan kabar baik. Aldi menatap dokter tersebut lalu beralih ke Syana yang hanya diam dengan pandangan mata yang juga tengah menatapnya.
“Maaf untuk walinya bisa ikut ke ruangan saya ada hal penting yang perlu saya bahas dan untuk Syana jika merasakan pusing atau yang lain segera panggil suster yah,” ujar dokter tersebut tidak lupa senyum ramah yang selalu terpatri pada bibirnya.
Dokter tersebut memandang Aldi sejenak lalu mengangguk dan berpamitan untuk keluar dari ruang rawat Syana. Setelah dokter keluar Aldi mendekati Syana lalu mengelus pucuk kepala adiknya dengan pelan. Ia menatap Syana penuh arti ada pancaran kesedihan dari tatapan Aldi.
“Sya, Kakak tinggal dulu ke ruang dokter yah kalau ada apa apa pencet tombol darurat yah,” pamit Aldi lalu mengecup kening Syana dan tersenyum manis pada adiknya.
“Iya Kak,” jawab Syana dengan menyunggingkan senyum pada Aldi.
Aldi keluar dari ruang rawat Syana ia segera menuju ruangan dokter yang menangani adiknya. Sedangkan di dalam ruangan Syana terdiam, air matanya menetes tanpa permisi. Syana menghapus air matanya dengan kasar, dalam benak Syana kilasan masa lalu itu kembali berputar, kepalanya kembali merasakan sakit tetapi sebisa mungkin ia harus bisa menahan sakit itu.
“Bara siapa dia sebenarnya?” gumam Syana pelan saat nama itu memenuhi otaknya secara tiba-tiba.
“Aarrghh,” erang Syana sambil memegang kepalanya yang berdenyut hebat.
Syana mencoba memejamkan mata, ia berharap rasa sakit itu akan mereda. Selama lima belas menit Syana mencoba untuk tidur agar sakit kepalnya mereda dan itu berhasil. Ia menyadari jika kakaknya tak kunjung kembali, rasa bosan di ruang rawat sendiri Syana rasakan. Dengan perlahan Syana menuruni tempat tidur lalu meraih tiang infus dan mulai berjalan sambil mendorong tiang infus sendirian. Ia ingin duduk di depan ruangan agar tidak kesepian.
Saat Syana keluar ada siluet seseorang yang cukup mencuri pandangan Syana. Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam, masker dan juga topi. Merasa orang itu tidak asing Syana melangkah mendekat ke arah orang itu berada tetapi orang tersebut melarikan diri membuat Syana semakin penasaran. Syana berjalan tertatih sambil mendorong tiang infus hingga saat berada di belikan koridor rumah sakit ia menabrak seseorang.
Bruk
“Awwwssshhh,” pekik Syana yang sudah tersungkur di lantai membuat jarum infus terlepas dari pergelangan tangannya.
“Astaga maaf aku tidak memperhatikan jalan,” ucap orang yang tadi menabrak Syana.
“Eh infus kamu terlepas,” ucap orang itu dengan nada khawatir.
Syana mendongak menatap orang yang tadi menatapnya. Ternyata seorang laki-laki seumuran deangan kakaknya, Syana terpesona dengan wajah laki-laki yang tadi menabraknya dalam hati Syana memuji ketampanan laki-laki tersebut.
Laki-laki itu menatap Syana karena merasa di tatap intens oleh gadis tersebut. Ia bertanya pada Syana di mana ruang rawat dan ingin mengantar gadis itu kembali sebagai tanda permintaan maaf tapi ternyata sedari tadi gadis itu tampaknya melamun sambil menatap dirinya.
“Hallo Dek,” panggil laki-laki tersebut seraya menggerakkan kelima jarinya di depan wajah Syana untuk menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
“Hay kamu melamun ya?” tanya laki-laki itu sambil menepuk pundak Syana sedikit keras membuat gadis itu tersadar.
“Hah apa Kak?” tanya Syana kebingungan. Laki -laki itu justru terkekeh melihat tingkah lucu Syana.
“Ruangan kamu di mana biar aku antar, infus kamu juga terlepas itu,” ucap laki-laki itu sambil menunjuk ke arah pergelangan tangan Syana yang mengeluarkan darah.
Syana mengikuti arah jari telunjuk laki-laki tersebut, mata Syana membelalak ia tidak menyadari jika pergelangan tangannya sudah penuh dengan darah akibat jarum infus yang terlepas. Tubuh Syana menentang kala melihat darah itu, matanya mendadak kabur dan tiba-tiba semua menjadi gelap.
Bruk
Gadis itu pingsan membuat laki-laki yang tadi menabraknya panik. Laki-laki itu memanggil suster yang kebetulan lewat dan membopong tubuh mungil gadis itu mengikuti jalan yang di tunjukkan suster menuju ruangan VIP. Wajah laki-laki itu tampak makin panik ketika melihat wajah Syana yang memucat, sesekali laki-laki itu menatap Syana karena merasa tidak asing dengan wajah gedis yang memilik tubuh mungil itu tapi ia lupa.
“Ini ruangan nona Syana Pak,” ucap suster yang tadi menunjukkan ruangan Syana pada laki-laki yang membopong gadis itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Tanpa menunggu laki-laki itu membawa gadis itu masuk dan membaringkan pada hospital bad dan tidak lama suster yang tadi menunjukkan ruangan gadis itu masuk membawa infus, selang infus serta jarum yang masih baru. Dengan lihai suster itu kembali memasangkan infus itu membuat laki-laki yang menyaksikan itu bergidik ngeri. Meskipun laki-laki ia takut dengan jarum suntik.
Setelah selesai memasang infus suster tadi keluar meninggalkan laki-laki yang tadi menabrak Syana dan Syana sendiri yang masih belum sadar. Tatapan laki-laki itu semakin intens memandang wajah gadis bertubuh mungil di hadapannya, ia merasa jika gadis ini tidak asing baginya tapi siapa itu ia sendiri belum menemukan jawabannya.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka seorang dokter masuk bersama laki-laki yang mengenakan pakaian santai. Dokter itu terlihat panik, tidak lama seorang suster kembali masuk dan membawakan beberapa suntikan. Laki-laki yang tadi menabrak Syana mengernyit heran.
“Gadis ini sakit apa sebenarnya?” tanya laki- laki itu dalam hati.
“Tunggu, laki-laki ini kan Aldi rekan bisnis gue,” monolog laki-laki itu dalam hati.
Setelah selesai menyuntikkan obat itu pada infus gadis tersebut dokter itu segera pamit untuk keluar ruangan bersama suster. Aldi mendekat ke arah tempat tidur adiknya ia membela dengan pelan wajah adiknya yang kembali terpejam, Aldi belum menyadari jika di dalam ruangan itu ada orang lain. Saat Aldi mengecup lembut kening Syana ia tersentak karena mendengar deheman seseorang.
“Ekhm.”
Aldi menoleh mendapati laki-laki yang seusianya tengah berdiri sambil bersandar tembok. Aldi semakin kaget saat mengetahui siapa laki-laki itu. Wajah kebingungan serta tatapan penuh tanya Aldi tunjukkan pada laki-laki itu. Seolah paham dengan ekspresi Aldi, laki-laki itu mendekat dan menyapa Aldi.
“Hay Al apa kabar?” tanya laki-laki itu basa-basi dengan senyum ramah.
“Baik. Aras lo kok bisa ada di ruangan Adik gue?” tanya Aldi dengan rasa penasaran sekaligus terkejut.
“Oh jadi dia Adik Lo pantas tadi gue merasa tidak asing sama wajah gadis ini,” ucap Aras sambil menunjuk Syana dengan dagunya.
“Jadi bagaimana bisa lo ada di sini?” tanya Aldi dengan tatapan tajam menuntut penjelasan.
“Ok santai gue jelaskan. Jadi tadi gue datang ke rumah sakit mau jenguk teman karena terburu-buru gue jalan sambil chatting sama asisten gue jadi tidak memperhatikan jalan. Pas di belokan koridor gue nabrak Adik lo ini dan dia jatuh sampai jarum infusnya lepas. Pas gue kasih tahu pergelangan tangannya berdarah dia pingsan jadi gue minta tolong suster untuk menunjukkan di mana ruangannya dan gue bawa dia kesini,” ujar Aras dengan tenang menceritakan semua kejadian yang baru saja ia alami.
“Dia trauma dengan darah,” sahut Aldi sambil menatap adiknya sekilas lalu kembali menatap Aras.
“Hah? Dia ada pengalaman buruk mengenai darah atau terlibat kecelakaan?” tanya Aras lagi, entah kenapa Aras merasa tertarik mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.
“Iya dia dulu mengalami kecelakaan dan menyebabkan trauma serta menderita amnesia. Em terima kasih ya lo sudah menolong Adik gue,” ucap Aldi sambil menepuk pundak Aras dan tersenyum.
“Sama-sama itu sudah tugas gue,” jawab Aras.
Aras dan Aldi adalah rekan bisnis karena keluarga Herlambang mengajukan kerja sama dengan perusahaan milik Prasetyo. Aldi sudah mengenal Aras tetapi karena ia sendiri tinggal di luar negeri membuatnya jarang bertatap muka langsung dengan laki-laki bernama Aras tersebut.
Meraka berdua memutuskan duduk di sofa yang tersedia dalam ruangan tersebut lalu berbincang-bincang membahas mengenai proyek yang sedang berjalan. Keduanya larut dalam obrolan seputar pekerjaan lalu tanpa mereka berdua sadari dari pintu masuk ada seseorang yang mengawasi mereka.
“Sialan! Kenapa Aras ada di sini?” ucap seseorang itu dengan tangan yang terkepal.