Suasana di sebuah rumah mewah berlantai dua sangat nyaman membuat siapa saja betah untuk tinggal. Taman di samping rumah yang banyak di tumbuhi pohon rindang membuat udara sejuk meski siang hari. Sebuah mobil sport warna hitam bsru saja memasuki halaman rumah tersebut. Ada beberapa penjaga yang menyapa tuan rumah yang baru saja kembali dari kantor dan beberapa maid juga menyapa dengan sopan.
“Selamat siang Tuan,” sapa salah satu maid dengan kepala menunduk.
“Siang,” sahutnya dengan nada datar.
Laki-laki yang baru saja tiba itu melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu dengan langkah lebar. Ia menuju ruang keluarga di mana papanya biasa bersantai. Tepat seperti dugaannya saat memasuki ruang keluarga di sama terlihat laki-laki paruh baya tengah menonton televisi sambil meminum kopi serta memakan makanan ringan.
“Siang Pah,” sapanya dengan sopan lalu duduk di sofa yang berada di hadapan papanya.
“Siang Ras, tumben jam segini kamu sudah pulang,” sahut laki-laki paruh baya itu seraya menatap putranya dengan lekat.
“Papa tahu jika keluarga Prasetyo memiliki seorang putri yang cukup cantik?” tanya Aras tanpa basa-basi.
“Iya memang Danu Prasetyo memiliki seorang putri dia masih SMA. Memangnya ada apa?” tanya Herlambang pada putranya.
“Tidak ada apa-apa Pah. Tadi sewaktu Aras ke rumah sakit bertemu dengan gadis yang cantik ternyata itu Adik Aldi rekan bisnis Aras dan itu artinya dia merupakan Putri keluarga Prasetyo. Selama ini Aras tidak pernah tahu jika Aldi memiliki seorang Adik,” ujar Aras dengan santai.
“Setahuku putrinya Danu memang sangat di rahasiakan dari teman bisnisnya bahkan jarang di ajak menghadiri acara penting,” jelas Herlambang yang menampakkan raut serius.
Aras hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Saat ini ada beberapa pertanyaan mengenai Syana dalam benak Aras yang belum ia dapatkan jawabannya. Aras beranjak dari ruang keluarga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sesampainya di sebuah kamar dengan nuansa drak ia melepas pakaian formalnya lalu membersihkan diri. Selesai mandi Aras berjalan ke arah balkon sambil membawa segelas wine di tangannya.
Sejak mamanya meninggal Aras merasa kesepian. Ia merasa hidupnya hampa meskipun papanya selalu memberikan kehidupan yang mewah tetapi tetap berbeda. Selama ini ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Tatapan laki-laki itu menerawang jauh ke langit cerah berwarna biru. Sebuah buliran bening tanpa permisi meluruh membuat laki-laki itu memejamkan matanya.
Prangg
Ia membanting gelas wine di tangannya hingga pecah. Ia benci ketika mengingat mamanya selalu saja meneteskan air mata. Baginya pantang seorang laki-laki menangis. Aras berjalan memasuki kamar lalu ia meraih laptop untuk mengecek beberapa laporan kantornya sekaligus sebagai peralihan supaya ia tidak memikirkan mamanya yang sudah tiada.
Sekelebat bayangan Syana membuat Aras hilang fokus. Laki-laki itu memejamkan matanya lalu meraup wajahnya dengan kasar. Selama ini ia tidak mengetahui jika Aldi memiliki adik yang cukup menarik, selain wajahnya cantik gadis itu juga menggemaskan.
“Aaarrrgghhh,” erang Aras sambil mengacak rambutnya.
“Kenapa aku jadi memikirkan gadis itu?” tanyanya pada diri sendiri.
Aras memilih untuk tidur ia merasa tubuhnya lelah dan pikirannya mendadak tidak bisa fokus pada pekerjaan. Namun, belum sempat ia menuju dunia mimpi ponselnya berdering membuat ia semakin kesal. Dengan kasar Aras meraih ponsel yang berada di atas nakas.
“Sialan! Siapa lagi yang mengganggu waktu tidurku huh?” gerutunya seraya menatap layar ponsel yang menyala.
“Hallo,” sapa Aras dengan datar.
“Hallo sayang kamu di mana?” tanya seorang wanita di seberang telepon.
“Sedang sibuk dan aku lelah ingin istirahat sebentar,” jawab Aras lalu mematikan panggilan tersebut.
Aras melempar ponselnya ke tempat tidur sampingnya yang kosong. Ia memejamkan matanya, selama ini ia selalu bermain wanita hanya untuk memuaskan hasratnya. Anggap saja Aras bukan laki-laki baik tetapi ia seperti itu hanya sebagai pelampiasan karena tidak mendapatkan kasih sayang orang tuanya.
Perlahan Aras mulai meraih ketenangan dalam tidur, ia mulai menyusuri dunia mimpi yang indah. Hingga akhirnya ia benar-benar terlelap. Sudah tiga jam Aras tertidur tetapi ia tidak kunjung bangun ketika matahari sudah mulai rebah di ufuk barat, gelap mulai menyelimuti, rembulan menunjukkan eksistensinya dan tampak bersinar dengan sempurna.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu kamar Aras dengan kencang. Membuat penghuni kamar itu terkejut dan menyumpah serapahi orang yang berani mengganggu ketenangannya. Perlahan ia mulai bangkit dan berjalan menuju pintu meskipun matanya berat untuk membuka mata.
Ceklek
“Ada apa kemari?” tanya Aras saat mengetahui siapa orang yang mengusiknya.
“Maaf tuan tadi saya sudah menelepon Anda tetapi tidak ada jawaban lalu saya kemari karena malam ini anda ada pertemuan di club malam,” jawab pria yang bertubuh atletis dengan pakaian formal.
“Ya nanti saya pasti datang sekarang kamu pergi sebelum Papa mengetahui keberadaanmu!” Perintah Atas dengan tegas lalu menutup pintu kamarnya.
Aras kembali membanting tubuhnya di atas kasur berukuran king size ia kembali memejamkan mata. Ia masih tidak habis pikir kenapa tangan kanannya berani sekali mencarinya di rumah ini. Aras sudah mengatakan bahwa jangan datang ke rumah papanya tetapi tetap saja tangan kanannya itu datang secara diam-diam.
***
Langit telah gelap hanya ada sinar rembulan dan bintang yang menghiasi. Di sebuah rumah tua di tengah hutan yang tampak seram terdapat beberapa orang berpakaian hitam berjaga di luar dan dua orang berada di dalam rumah itu serta satu jasad manusia yang telah terpotong-potong.
Penjagaan di luar di lakukan secara tersembunyi jadi apabila ada orang yang lewat hanya akan melihat rumah tua itu kosong dan menyeramkan. Di dalam rumah tua itu aroma anyir darah memenuhi ruangan bahkan jika tidak tahan bisa muntah seketika apalagi melihat potongan tubuh manusia yang tercecer.
“Maaf tuan mengganggu kesenangan anda. Ini saya membawa laporan tentang Aras Tuan,” ucap seorang pria yang menggunakan setelan serba hitam serta lengan yang memiliki tato menyeramkan.
“Apa semua sudah lengkap?” tanya laki-laki berparas rupawan yang sedang menyesap wiski.
“Sudah Tuan. Malam ini menurut informasi yang saya dapat beliau akan ada pertemuan dengan klien di sebuah club malam,” jawab pria itu dengan sopan dan kepala yang menunduk hormat.
“Baiklah malam ini aku juga akan kesana untuk melihat siapa sebenarnya b******n yang berwajah malaikat itu,” ucap laki-laki rupawan itu lalu melangkah keluar dari rumah tua.
“Bereskan mayat itu!” Perintahnya sebelum melangkah melewati pintu. Dengan cepat orang yang di perintahkan mengangguk patuh.
Laki-laki rupawan itu memasuki mobil super car yang berasal dari negara Italia. Ia menjalankan mobilnya menuju jalan yang mengarah keluar hutan. Dengan cepat ia langsung menuju sebuah club malam yang lumayan terkenal. Ia sedikit risih saat memasuki club tersebut karena banyak wanita yang memakai pakaian kurang bahan dengan bebas menyentuh tubuhnya.
***
Di kediaman keluarga Prasetyo malam ini suasananya sungguh harmonis. Hari ini Syana di perbolehkan pulang meskipun ia harus menjalani terapi ke psikiater untuk menyembuhkan traumanya. Sore tadi Syana pulang di jemput kedua orang tuanya beserta Aldi. Senyum gadis itu tidak pernah luntur saat mengetahui bahwa ia sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit.
Malam ini Dinda sengaja menghidangkan menu makan malam spesial untuk keluarganya. Ia masak makanan kesukaan Danu suaminya, Aldi putra sulungnya serta Syana putri bungsunya. Mereka menikmati makan malam dengan bahagia bahkan sesekali Syana berceloteh yang mampu membuat yang lainnya tertawa.
Aldi bersyukur saat mengetahui jika ingatan Syana belum pulih. Ia tidak akan bisa membayangkan betapa hancurnya hati kedua orang tuanya jika sampai Syana teringat dengan asal mula ia memiliki trauma itu dan dapat di pastikan senyum pada bibir gadis itu tidak akan ada lagi.
“Sya setelah makan kamu harus istirahat yah biar cepat pulihnya!” ucap Danu memberi perintah pada putrinya.
“Iya Pah tenang saja, setelah ini Syana akan kembali ke kamar tapi di temani Kakak yah,” sahut Syana dengan menatap Aldi serta menampilkan raut wajah yang menggemaskan.
“Iya tenang aja Kakak temani,” jawab Aldi sambil mengacak rambut Syana dengan gemas di mana empunya sudah memberengut kesal lantaran rambutnya di acak-acak.
Tinggal random Syana itu selalu bisa membuat kedua orang tuanya serta kakanya tertawa. Gadis itu selalu ceria, murah senyum dan mudah bergaul. Di sekolah Syana memiliki banyak teman, selain parasnya yang memikat ia juga memiliki sifat yang baik sehingga banyak di sukai oleh teman-temannya.
Selesai makan malam Syana segera melangkah menuju kamarnya di ikuti oleh Aldi. Sedangkan Danu dan Dinda pergi ke ruang keluarga untuk menonton televisi bersama. Sesampainya di kamar pandangan Aldi langsung tertuju pada kotak kado besar yang terletak di atas meja belajar.
“Sya itu kado dari siapa?” tanya Aldi sambil menatap Syana penuh selidik.
“Em entahlah Kak, aku juga tidak tahu paket itu dari siapa. Paket itu tiba-tiba ada di kamar aku setelah itu aku merasa pusing dan pingsan lalu ketika aku bangun sudah ada di rumah sakit,” jelas Syana pada kakaknya dengan suara pelan dan kepala menunduk. Ia takut Aldi akan marah karena menerima paket yang tidak jelas siapa pengirimnya.
“Apa ada surat yang menunjukkan siapa pengirimnya?” tanya Aldi lagi dengan menatap Syana yang sedang menunduk.
“Hanya ada surat dan itu masih ada di dalam kotak itu. Paket itu berisi coklat kesukaanku kak dan entah kenapa ada bayangan seorang laki-laki setiap aku menatap coklat itu seolah aku merasakan de Javu,” jawab Syana sekaligus memberi penjelasan pada Aldi.
Aldi terdiam ia sudah tahu siapa pengirimnya. Selain keluarganya ada satu orang yang mengetahui apa yang Syana suka dan Syana benci. Tetapi sayang orang itu masuk dalam catatan orang berbahaya untuk Syana. Aldi diam-diam mengepalkan tangannya. Ia berjanji dalam hati pada diri sendiri akan melindungi Syana meskipun harus dengan nyawanya.