8. Bertemu Bara

1615 Kata
Fajar menyapa, sinar putih di timur pertanda sang Surya akan menampakkan jati dirinya. Udara sejuk khas pagi hari menyapa memenuhi rongga hidup seorang gadis yang tengah berdiri di balkon kamarnya. Embun di daun membuat warna hijau semakin mengkilap seperti berlian. Pandangan gadis itu jatuh pada bunga mawar merah yang di tanam bundanya di taman tepat di bawah kamarnya. “Bunga itu seperti mengingatkan ku pada seseorang tapi siapa?” Gumam gadis itu dengan menautkan alisnya. “Ah sudahlah dari pada memikirkan hal tidak penting, lebih baik mandi keburu telat sekolah,” ucap gadis itu pada diri sendiri lalu melangkah masuk kamar dan mengunci pintu balkon. Ia segera menuju kamar mandi. Setelah lima belas menit berlalu gadis itu keluar dari kamar mandi sudah menggunakan seragam SMA dengan rapi. Ia lalu berjalan menuju meja rias dan memoleskan sedikit bedak dan lipsgloss pada bibir mungilnya. Selesai itu ia menata rambutnya yang di biarkan terurai. Selesai berdoa gadis tersebut segera keluar dari kamar menuju lantai bawah di mana kedua orang tua serta Kakak laki-lakinya menunggu untuk sarapan bersama. Hari ini di atas meja makan menu sarapannya cukup sederhana karena hanya ada nasi goreng, telur mata sapi dan ayam goreng mentega. “Sya hari ini kamu berangkat di antar sopir ya, soalnya Kakak sama Papa mau ada meeting pagi sayang,” ujar Danu sambi menyendok nasi goreng yang berada di hadapannya. “Iya Pah, tidak apa-apa,” jawab Syana sambil menikmati sarapan. “Dek nanti kalau ada orang asing nawarin tumpangan jangan mau yah, kamu harus hati-hati,” celetuk Aldi yang telah selesai makan nasi gorengnya. “Betul nak dan kalau kamu ada apa- apa telepon yah,” imbuh Danu. “Tenang saja Pah, Kak, Bund Syana tahu kok dan pasti akan berhati-hati sama orang asing,” jawab Syana sambil tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya. Selesai sarapan Syana segera berangkat sekolah di antar oleh sopir. Ia tidak pernah berangkat atau pulang menggunakan angkutan umum karena Danu melarangnya. Syana segera masuk ke dalam mobil hitam, ia duduk di kursi belakang sambil memainkan ponselnya. Mengabarkan pada teman-temannya bahwa hari ini ia akan masuk sekolah setelah tiga hari izin tidak masuk. Saat mobil Syana berhenti di lampu merah, gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala arah ia berharap bisa bertemu lagi dengan pengendara CBR itu. Tapi ternyata harapannya pupus, ia tidak menemukan pengendara itu. Lampu berubah hijau sopir yang mengantarkan Syana segera menjalankan mobilnya kembali menuju SMA TUNAS HARAPAN. Sesampainya di sekolah Syana buru-buru masuk karena lima menit lagi bel masuk akan berbunyi kalau ia tidak segera masuk akan di anggap telat oleh wali kelas. Syana berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya, sepanjang koridor banyak teman-teman serta adik kelas yang menyapanya. Dengan senang hati Syana akan membalas sapaan mereka. “Avki,” panggil Syana sambil berlari menghampiri Avki yang juga berjalan menuju kelas. “Syana gue kira lo sudah ada di kelas,” ucap Avki sambil menepuk pelan bahu sebelah kanan Syana. “Belum tadi di antar sopir jadi agak macet hehe,” sahut Syana dengan cengengesan. “Masuk yuk bentar lagi bel!” ajak Avki sambil menarik lengan Syana menuju kelas. Sesampainya di kelas sangat ramai karena banyak siswa yang tengah heboh mengerjakan tugas matematika. Syana yang sudah mengerjakan tugasnya hanya menatap jengah kehebohan teman sekelasnya. Tidak lama kemudian bel masuk terdengar, lalu seorang guru perempuan yang berumur tiga puluh lima tahunan masuk. Kelas Syana yang tadinya ramai mendadak hening. Pelajaran pertama matematika di mana guru yang mengajar mata pelajaran tersebut galak dan jika tidak mengerjakan tugas makan hukumannya selain membersihkan toilet juga di suruh lari mengitari lapangan basket. “Selamat pagi anak-anak,” ucap guru perempuan yang akrab di sapa Bu Dewi. “Selamat pagi Bu,” jawab semua siswa kelas Syana dengan serempak. “Minggu ini adalah Minggu terakhir saya mengajar di kelas XII IPS 1 ini karena Minggu depan kalian sudah ujian sekolah dan berlanjut ke UN,” ucap Bu Dewi dengan suara yang lantang semua murid hanya diam mendengarkan. Pelajaran matematika kali ini tidak di isi dengan materi melainkan dengan latihan soal karena untuk mematangkan persiapan semua murid menghadapi ujian. Syana yang masih belum sepenuhnya pulih mendadak merasa pusing tetapi ia tahan. Ia tidak mau menunda sekolah seperti dulu ketika ia akan masuk ke bangku SMA. Syana terpaksa menunda masuk SMA karena mengalami kecelakaan dan koma. Beruntung di SMA ini Syana memiliki sahabat baik seperti Avki dan Mutia yang dulu mereka adalah adik kelasnya di SMP kini menjadi teman satu angkatan sekaligus sahabatnya. Avki dan Mutia juga anak rekan bisnis Danu serta bunda mereka berdua sahabat Dinda jadi Syana sangat mengenal dua gadis itu. Syana menahan sakit di kepalanya ia tidak mau jika harus ketinggalan pelajaran lagi. Dengan sedikit memaksa Syana terus mengikuti pelajaran. Hingga jam pelajaran terus berjalan. Tiga jam kemudian pelajaran berakhir bel istirahat berbunyi. Kriiiingggggg Avki, Mutia dan Syana keluar kelas menuju kantin. Suasana koridor sekolah sangat ramai apalagi di kantin pasti sudah sangat antre untuk memesan makanan. Sesampainya di kantin seperti biasa Syana dan Avki mencari tempat duduk sedangkan Mutia memesan makanan untuk mereka. Setelah memperoleh tempat duduk Syana mengambil ponselnya yang berada di saku seragam. Ia melihat beberapa pesan masuk lalu berselancar ke akun sosial medianya begitu pun dengan Avki. “Hay hay pesanan mie ayam pangsitnya sudah datang,” ucap Avki yang membawa nampan berisi tiga porsi mie ayam serta es jeruk. “Wih tumben lo pesennya cepet Ti?” tanya Avki sambil mengambil satu mangkuk mie ayam dengan mata berbinar. “Hehe iya gue tadi sih nebeng adik kelas yang antre di depan heh,” jawab Mutia sambil menampilkan cengirannga. “Kebiasaan yah lo,” celetuk Syana sambil memutar bola matanya jengah. Ketiga gadis itu makan dengan tenang, tidak ada yang berbicara. Selesai makan mereka buru-buru pergi ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi. Bahkan Syana ingin menceritakan pada kedua sahabatnya tentang kado misterius itu pun tidak sempat. Sebelum ke kelas Syana izin ke kamar mandi ia ingin mencuci muka supaya lebih segar dan rasa katuknya hilang. “Ki, Ti gue ke kamar mandi dulu yah. Kalian duluan aja!” pamit Syana yang sudah berjalan mendahului kedua sahabatnya menuju kamar mandi. “Oke Sya,” jawab Avki sambil mengacungkan jempolnya dan sedikit berteriak. “Ih jangan teriak ya Ki ini jam masuk,” omel Mutia dengan menatap tajam Avki. Sedangkan yang di tatap seperti itu terlihat santai dan tidak memperdulikan tatapan Mutia. Di dalam kamar mandi Syana segera mencuci wajahnya, rasa segar ia rasakan pada kulit wajahnya. Ketika sedang merapikan baju seragamnya ponselnya berbunyi menandakan ada pesan pasuk, dengan cepat Syana melihat siapa yang mengirimnya pesan. Unknown Number Hay cantik kamu sudah sembuh ya. Sudah sekolah jangan lupa istirahat yang cukup yah setelah ujian Nasional nanti aku bakal jemput kamu sekaligus lamar kamu. Dari masa lalu mu. Syana lagi-lagi mendapat pesan dari nomor tidak di kenal itu. Gadis itu mengernyitkan keningnya tampak memikirkan sesuatu. Syana menduka orang itu juga bersekolah di tempat yang sama dengan dirinya mengingat saat di perpustakaan ia merasa di awasi hingga kali ini pesannya sangat menunjukkan bahwa dia mengetahui kegiatan Syana. “Sebenarnya siapa dia ini?” gumam Syana pelan. “Kalau dia adalah orang yang aku kenal kenapa aku tidak ingat apapun?” lanjut Syana sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Syana buru-buru keluar toilet dan mengedarkan pandangan ke sekitar, sepi tidak ada siapa pun. Dengan cepat Syana melangkah menuju kelas tetapi gadis itu tiba-tiba menghentikan langkahnya saat merasa ada yang tengah mengikutinya. Dengan cepat Syana menengok ke belakang tetapi kosong tidak ada siapa pun di koridor tersebut. Akhirnya Syana mengikuti jam pelajaran dengan tenang, kini jam pulang sekolah tiba. Ia dan kedua sahabatnya keluar kelas dan menuju parkiran mobil bersama. Saat berjalan Syana mengirim pesan pada sopirnya untuk segera menjemput. “Sya mending pulang bareng kita aja yuk!” ajak Mutia. “Makasih guys tapi gue di jemput sama sopir,” tolak Syana dengan halus. “Bilang aja Sya lo balik bareng gue, lagian sopir Lo belom sampai sini kan,” ujar Avki sambil menggoyang kan lengan Syana. “Bentar lagi sampai kok guys, sorry yah bukan tidak mau tapi gue juga mau ke kantor Kak Al dulu,” jawab Syana sambil menangkupkan kedua tangannya di depan d**a tanda permintaan maaf pada kedua sahabatnya. “Ya udah kalau gitu kita duluan yah Sya, tapi kalau ada apa-apa telepon aja oke,” ucap Mutia lalu gadis itu masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Avki. Setelah mobil Mutia melaju meninggalkan sekolah kini Syana duduk di dekat pos satpam untuk menunggu jemputan. Sudah lima belas menit tetapi sopirnya tidak mengabari hingga satu panggilan masuk dan ternyata itu dari sopirnya mengabarkan bahwa ban mobilnya kempes jadi harus mencari bengkel. Hal itu membuat Syana menghela napas dengan kasar lalu ia berencana meminta di jemput oleh kakaknya tetapi sudah sepuluh kali panggilan tidak ada jawaban. Tin tin Sebuah mobil sport hitam keluaran terbaru berhenti di hadapan Syana. Seorang laki-laki seumuran Aldi keluar, terlihat sangat tampan menggunakan setelan formal. Laki-laki itu mendekati Syana membuat gadis itu kebingungan sekaligus salah tingkah. “Belum pulang cantik?” tanya laki-laki itu pada Syana. “Eh anda bertanya pada saya?” Bukan menjawab justru Syana bertanya dengan formal. “Memangnya di sini ada orang selain kamu?” tanya laki-laki itu seraya mengulas senyum manisnya. “Oh belum masih menunggu jemputan,” jawab Syana sambil menunduk. “Bareng saya saja, saya teman Kakak kamu Aldi,” ucap laki-laki tersebut sambil membukakan pintu untuk Syana. “Tapi saya tidak mengenal anda,” jawab Syana dengan jujur. “Kenalkan saya Bara,” ucap laki-laki itu seraya mengulurkan tangannya pada Syana. Syana menerima uluran tangan tersebut lalu ia mendongak menatap laki-laki tampan di hadapannya. Manik mata mereka saling bertubrukan seketika Syana teringat sesorang yang ia jumpai di lampu merah. Deg
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN