Alunan musik yang di hasilkan oleh petikan pada senar gitar memenuhi kamar dengan nuansa drak. Seorang gadis yang tengah terlelap merasa terusik karena suara alat musik tersebut. Perlahan kelopak matanya terbuka, ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Menyadari jika itu bukan kamarnya ia menengok ke arah suara gitar di mainkan. Di sana tampak laki-laki yang begitu tampan, rahang tegas postur tubuh atletis, alis tebal, hidung mancung serta bibir yang merah muda membuat gadis itu terhipnotis akan pesona laki-laki yang tengah bermain gitar.
“Sudah bangun cantik?” tanya laki-laki itu yang berhasil membuat gadis itu tersentak kaget.
“Hah? Em ya sa-saya ada di mana?” tanya gadis itu dengan gugup sekaligus salah tingkah.
“Di rumah ku.”
“Ka-kamu yang_,” belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya laki-laki tersebut dengan cepat memotong kalimatnya.
“Aku Bara yang tadi berkenalan denganmu di depan sekolah,” sahut Bara sambil tersenyum lebar.
Syana terdiam ia seperti tidak asing dengan nama tersebut, pernah mendengar tapi di mana. Tatapan Bara sangat mirip dengan laki-laki yang pernah ia jumpai di lampu merah beberapa hari lalu. Syana memberanikan diri menatap manik mata abu-abu milik Bara dengan lekat. Gadis itu dapat merasakan bahwa dalam tatapan bara ada rasa rindu, penyesalan bahkan kesedihan mendalam.
“Syana kamu sedang memikirkan apa?” tanya Bara dengan lembut sambil menyentuh tangan mungil Syana.
“Apa kita pernah akrab sebelumnya Kak Ba-Bara?” tanya Syana dengan hati-hati.
Siapa sangka Bara menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Syana tadi. Syana semakin bingung, jika ia dan Bara saling mengenal lantas kenapa ia tidak mengingat apa pun. Setiap kali a berusaha mengingat selalu muncul bayangan seorang laki-laki yang berlumuran darah bahkan ia sendiri tidak mengetahui wajahnya karena bayangan itu hanya hitam.
“Sya kamu baik-baik saja?” tanya Bara yang berhasil membuat Syana tersadar dari pikirannya sendiri.
“Ya aku baik-baik saja hehe. Em aku harus pulang ini sudah sore Kak pasti nanti Kak Al marah karena aku pulang telat,” ucap Syana yang langsung berusaha bangkit dari duduknya lalu hendak menuruni ranjang tetapi Bara dengan cepat mencegah.
“Kakak kamu tidak akan marah Sya, nanti aku yang akan berbicara padanya dan lagi kamu masih baru saja bangun dari pingsan sebaiknya kamu istirahat sebentar atau mandi dulu,” sahut Bara dengan mata yang terus menatap Syana, tatapan Bara kali ini sulit di artikan.
“Aku sudah baikan Kak kalau begitu aku mau mandi dan kalau tidak merepotkan bisakah Kak Bara antar aku pulang?” tanya Syana seraya menatap Bara yang juga menatapnya.
“Iya aku bakalan antar kamu pulang,” jawab Bara dengan senyum manis khasnya.
Syana tersenyum lebar dengan semangat ia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Bara masih duduk terdiam di pinggan ranjang dengan pandangan lurus ke depan. Ia masih ingat betul bagaimana Syana begitu kaget melihat dirinya dan tidak lama kemudian mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya lalu pingsan.
Beberapa jam lalu saat Bara bertemu Syana di depan sekolahnya. Bara awalnya tidak berniat untuk menghampiri gadis itu tetapi melihat gadis itu tampak risau akhirnya dia memutuskan untuk menghampiri. Mobil sport Bara berhenti di depan pos satpam, lalu ia turun dan menghampiri Syana yang tengah duduk sambil mengutak-atik ponselnya. Bara melangkah dengan penuh keyakinan menghampiri gadis itu lalu menyapanya dengan nada yang lembut.
“Belum pulang cantik?” tanya laki-laki itu pada Syana.
“Eh anda bertanya pada saya?” Bukan menjawab justru Syana bertanya dengan formal.
“Memangnya di sini ada orang selain kamu?” tanya laki-laki itu seraya mengulas senyum manisnya.
“Oh belum masih menunggu jemputan,” jawab Syana sambil menunduk.
“Bareng saya saja, saya teman Kakak kamu Aldi,” ucap laki-laki tersebut sambil membukakan pintu untuk Syana.
“Tapi saya tidak mengenal anda,” jawab Syana dengan jujur.
“Kenalkan saya Bara,” ucap laki-laki itu seraya mengulurkan tangannya pada Syana.
Syana menerima uluran tangan tersebut lalu ia mendongak menatap laki-laki tampan di hadapannya. Manik mata mereka saling bertubrukan seketika Syana teringat seseorang yang ia temui di lampu merah.
Deg
Tatapan terkejut yang Syana pancarkan dari matanya langsung di ketahui oleh Bara. Tidak lama kemudian gadis yang tadi menatapnya justru kembali menunduk sambil memegang kepalanya dan terdengar erangan kesakitan dari bibir gadis itu.
“Aaarrghhhh,” erang Syana sambil memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Bayangan itu kembali membuat Syana merasa pusing.
“Kepalaku sakit sekali,” keluh Syana yang sudah terduduk di tanah tidak lama kemudian Syana hilang kesadaran.
Bruk
Bara yang menyaksikan itu semua segera mengangkat tubuh mungil Syana ke dalam mobil. Ia khawatir sekaligus panik apalagi pelipis Syana di penuhi oleh keringat dingin. Pikiran Bara tidak tenang ia takut sesuatu terjadi padi gadis itu, dengan cepat ia melajukan mobilnya menuju rumah tidak lupa menelepon dokter pribadi agar segera ke rumahnya.
Sekitar sepuluh menit kini bara sudah sampai di rumahnya. Dengan langkah lebar Bara membawa Syana ke kamarnya, tidak lama kemudian seorang maid datang bersama dokter yang tadi Bara telepon untuk datang ke rumahnya. Dengan lihai dokter tersebut memeriksa Syana yang tampak pucat.
“Bagaimana Dok?” tanya Bara dengan nada khawatirkan.
“Kamu tenang saja Bar, gadis ini tidak apa-apa hanya butuh istirahat,” jelas Dokter tersebut.
“Kalau begitu saya pamit Bar, sampai jumpa lagi,” ucap dokter tersebut sambil berjabat tangan dengan Bara.
Saat ini Bara bisa bernapas lega karena gadis itu baik-baik saja. Ia pun mendudukkan dirinya di sofa sambil bermain gitar.
Drrttt drrttt
Ponsel yang berada di atas nakas membuyarkan lamunan Bara. Ia menatap sejenak ponsel milik Syana yang terus menyala layarnya. Bara melihat siapa yang tengah menelepon gadis cantik itu dan saat melihat layar ponselnya tertera nama penelepon ‘Kakak Al’. Mengetahui siapa yang menelepon Bara menampilkan seringaiannya lalu menerima panggilan tersebut.
“Sya kamu di mana ini sudah sore?” tanya Aldi dengan nada tinggi.
“Jangan membentak gadisku!” jawab Bara dengan ketus.
Hening sejenak, Bara yang mengetahui reaksi Aldi tersenyum penuh kemenangan.
“b******k! Di mana Syana hah?” tanya Aldi dengan nada penuh amarah.
“Dia bersamaku. Kau tenang saja Al dia baik-baik saja sekarang,” jawab Bara dengan santai.
“Gue tanya sekali lagi Bara di mana Syana sekarang?” tanya Aldi dengan tidak sabaran.
“Dia ada di rumahku sedang mandi karena kita habis bersenang-senang,” jawab Bara dengan enteng bahkan ia tersenyum penuh kemenangan.
“b******k SIALAN b******n LO BAR! GUE GAK AKAN MAAFKAN KALAU LO RUSAK ADEK GUE.” Maki Aldi dengan emosi yang tak bisa di bendung.
Tut
Bara segera mematikan panggilan sepihak ia segera menonaktifkan ponsel Syana lalu meletakkan di tempat semula. Bara merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya lalu memejamkan matanya. Ia puas bisa memancing emosi Aldi. Tidak lama terdengar suara pintu kamar mandi di buka.
Syana keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimono putih dengan rambut yang basah. Bara melihat pemandangan itu hanya menelan ludah dengan kasar. Bara laki-laki normal siapa yang tidak tergoda jika di hadapannya saat ini adalah gadis yang ia cintai tengah terlihat begitu menggoda.
“Kak em anu... aku boleh pinjam baju tidak?” tanya Syana pelan sambil menunduk takut-takut. Bara tersadar dari pikirannya lalu menatap Syana sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Sebentar aku ambilkan cantik,” jawab Bara sambil melangkah menuju almari pakaian.
Bara menatap isi almarinya sejenak lalu mengambil satu kemeja warna putih yang sedikit lebih besar. Ia berharap itu cukup untuk menutupi tubuh indah Syana agar ia bisa mengontrol diri. Bara mengambil kemeja tersebut lalu menghampiri Syana dan menyerahkan kemeja tersebut pada Syana.
“Ini Sya kamu pakai ini saja,” ucap Bara, tanpa menunggu Syana meraih kemeja tersebut lalu kembali ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Syana tidak segera berganti pakaian melainkan memegang dadanya sendiri. Ia merasakan jantungnya berdegup tidak biasa saat mendapat tatapan seperti itu dari Bara. Pipi Syana memanas ketika mengingat tatapan Bara begitu intens saat dirinya keluar dari kamar mandi tadi. Syana segera menggelengkan kepala mengenyahkan semua pikirannya tentang Bara.
“Kenapa tatapan kak Bara tidak asing bagiku?” gumam Syana pelan sambil mencoba mengingat kembali.
“Aku merasa de Javu saat berada di kamar ini, apa sebelumnya aku pernah kemari tapi kapan?” tanya Syana pada diri sendiri.
Tok tok tok
Syana terkesiap saat mendengar ketukan pintu kamar mandi. Ia tersadar bahwa dirinya belum juga ganti baju dengan cepat Syana langsung berganti pakaian dan merapikan kemeja yang ia pakai lalu meraih handle pintu dan membukanya ternyata Bara berdiri di depan pintu kamar mandi sambil bersedekap d**a dan menatapnya tajam membuat Syana menunduk takut.
“Kenapa lama sekali?” tanya Bara datar.
“Maaf tadi aku emm itu_,” belum sempat Syana menyelesaiakan kalimatnya Bara sudah membopong dirinya membuat Syana terpekik kaget.
“Aaaa Kak Bara!” pekik Syana sambil memukul d**a bidang laki-laki itu sedangkan yang di pukul hanya diam dan menampilkan wajah datar.
“Kamu bisa sakit kalau kelamaan di kamar mandi, kamu tidak bisa berada di ruangan lembab terlalu lama seperti kamar mandi bisa sakit kamu,” ujar Bara dengan menggebu, Syana melotot terkejut mendengar ucapan Bara barusan.
“Ka-kak Bara tahu itu?” tanya Syana dengan gugup.
“Tentu aku tahu semua tentang kamu ISYANA GHABRIELA PRASETYO,” jawab Bara dengan penuh kesungguhan.
Syana terdiam, ia semakin di buat tercengang dengan ucapan Bara yang harus saja terlontar. Gadis itu menatap dalam manik mata abu-abu milik Bara. Tatapan Bara juga semakin intens mereka berdua saling menyelami satu sama lain. Syana memutuskan tatapannya karena kilasana bayangan laki-laki itu kembali membuat kepalanya berdenyut.
“Aarggh,” keluh Syana sambil memegang kepalanya membuat Bara ikut panik.
“Sya kamu tidak apa-apa?” tanya Bara yang terlihat khawatir.
“Tidak Kak aku hanya lapar,” alibi Syana. Gadis itu berusaha untuk menahan rasa sakit pada kepalanya. Bara menghembuskan napasnya pelan ia lega karena gadisnya tidak mengalami hal serius.
“Tunggu kalau begitu aku ambilkan ma_,”
Brak
Bugh
Bugh