Makan malam

633 Kata
Setelah seharian menghabiskan waktunya di tempat yang akan di jadikan klinik,kini Vio pulang menuju rumahnya. mungkin membutuhkan waktu sekitar satu Minggu untuk menyelesaikan renovasi bangunan itu hingga sesuai menjadi bentuk yang Vio inginkan. Sampai di rumah kini Vio di sambut oleh Shelly dan para pelayannya di luar pintu. "Malam Nona..." sapa Selly "Malam Bi...Vio capek sekali" jawab Vio "Mari Nona,saya antar ke kamar anda dan saya akan menyediakan baju ganti Nona. Lebih baik nona langsung mandi setelah itu bisa makan malam" "Iya Bibi..." kemudian Vio menuju ke lantai Dua di mana letak kamarnya berada,dan bibi Shelly juga mengikuti Nona mudanya setelah tadi ia sempat meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam untuk mereka semua. Sampai di kamar Vio kemudian meletakkan tas nya di meja samping kasurnya kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Bibi Shelly juga menuju walk in closed untuk menyediakan baju ganti untuk nona mudanya itu.Shwlly memang 20tahun mengikuti Vio,bukan Vio memaksa Bibi Shelly Untuk mengikutinya tetapi itu memang kemauan Shelly sendiri. Shelly sendiri kini sudah berumur 45,sebenarnya sepantaran dengan Ibu Vio kalo saja masih hidup. Shelly pernah menikah,tetapi ia gagal dan bercerai dengan suaminya,dan anak mereka juga meninggal di umur 3th,itulah kenapa Shelly tak ingin menikah lagi,karena merasa trauma dengan pernikahan.karena dari perpisahannya Shelly jadi terlunta-lunta dengan anaknya dan menjadikan anaknya meninggal karena tidak ada tempat tinggal dan makanan untuk mereka. Hingga 1bln setelah kepergian sang anak,Shelly kemudian bertemu dengan mama Vio,dan menjadikannya teman. kemanapun Savita pergi di situlah Shelly selalu di ajak,hingga Savita menikah dengan Martin,Shelly juga turut di bawa dengan Savita. 20 menit telah berlalu,kini Vio keluar dari kamar mandi dengan masih memakai batrobe dan tentunya dengan wajah yang lebih segar. Vio kemudian menuju ke walk in closed untuk mengganti bajunya,di dalam walk in closed ternyata sudah ada Shelly yang menunggunya. "Mari Nona...biar saya bantu" kata Shelly "Iya Bibi..." kemudian Vio mendekat ke arah Shelly,dan Shelly langsung membantu sang nona untuk mengganti bajunya. Setelah mengganti baju dan juga menyisir rambutnya,kini Shelly mengajak Vio turun ke bawah untuk makan malam. Di meja makan,semua telah bersiap untuk makan malam bersama.mereka telah menduduki tempatnya masing-masing. "Maaf karena telah membuat kalian menunggu" sapa Vio dengan rasa tak enak "Tidak apa-apa nona..." jawab mereka serempak Kemudian Vio menuju tempat duduknya,kemudian ia menarik kursi dan mendudukkan Bo****nya di kursi. "Kemudian ia mengambil makanan di piringnya,sebelum memasukkan suapan ke mulutnya ia berucap "Selamat makan semuanya",kemudian mereka semu makan malam dengan tenang. Setelah menyelesaikan makan malamnya bersama para pelayan dan juga perawatnya,kini Vio menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Selama 20tahun tanpa melihat keluarganya,dan ia juga hidup tanpa kehadiran keluarga kini Vio dewasa makin merasa terbiasa. Bukan tak pernah ia berharap ingin sekali menemui keluarganya,hanya saja Vio sadar kalo memang ia memang tak pernah di harapkan,bahkan ia tak pernah di anggap oleh keluarganya. Menjadi penyebab kematian sang ibu,Vio sebenarnya sangat menyesal sekali.kalo saja di suruh memilih tentunya ia akan lebih memilih tidak di lahirkan daripada ia lahir dan harus membuat ibunya meninggalkannya untuk selamanya. Tapi apa mau di kata,di pilih pun tak bisa...karena sebenarnya itu memang sudah takdir dari sang pencipta. Jodoh rejeki maut adalah suratan yang tidak akan pernah bisa di rubah. Vio terkadang merasa iri dengan sang kakak-kakaknya,karena mereka bisa hidup dengan limpahan kasih sayang orang tua yang lengkap,ia yang hanya memiliki papa saja tak bisa sama sekali bertemu dengannya apalagi untuk memeluknya mungkin juga tak akan pernah mungkin. Selama 20 tahun,Vio hanya bisa memandangi foto keluarganya dari dalam internet saja...bukan merasa kangen,Vio cuma mau memastikan wajah-wajah keluarganya yang tega mengasingkannya seorang diri. Karena malam semakin larut,Vio tampak tertidur di atas kasur nyamannya dengan berbagai pemikiran di benaknya. Vio anak yang sangat cerdas,jadi tak mungkin ia akan larut terus menerus dengan kesedihan. Yang ada ia ingin bangkit dari keterpurukan,dan ingin membuktikan kepada keluarganya,bahwa anak yang selama ini mereka sia-siakan telah berdiri tegak meskipun penuh perjuangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN