Puisi Cinta

1446 Kata
Setelah menempuh waktu sekitar satu jam dari kampus. Akhirnya kami sampai disebuah Cafe yg populer di kalangan anak muda Jogja. Yaitu Roaster and Bear Cafe. Cafe kekinian dg interior kayu dan desain yg modern. Boneka-boneka beruang yg menghiasi di setiap sudutnya menambah kesan cute dan menggemaskan. Tak heran Cafe ini menjadi idola anak muda millenial. Lalu kami duduk di meja yg ternyata sudah di reservasi Satria. Yaa mungkin Satria sudah merencanakan semua ini. Ntah lah, aku mencoba untuk tetap positif thinking. Kami pun memesan makanan. Aku memesan croissant smoke salmon scrumble. Sedangkan Satria memesan Ham & cheese sandwich. Untuk minumannya, aku memesan ice green tea latte. Satria sendiri memesan Cafe latte. Sambil menunggu pesanan datang. Kami mengobrol banyak hal. Satria yg memulai pembicaraan dg menceritakan tentang dirinya. Aku menyimak dg sangat seksama. Seperti murid yg sedang mendengarkan penjelasan gurunya. Kadang kami pun saling melempar senyum satu sama lain. Baiklah aku akan menceritakan apa yg Satria ceritakan padaku tentang dirinya. Yaa Satria Maharprana. Dia adalah anak tunggal dari pasangan Devan Maharprana dan Zea Zaira. Ternyata aku dan Satria sama sama anak tunggal. Ayah Satria bekerja sebagai direktur keuangan di salah satu perusahaan di Jogja. Sedangkan ibunya bekerja sebagai dosen di universitas yg sama dg universitas tempat ku dan Satria menuntut ilmu sekarang. Ternyata Satria bukan dari keluarga sembarangan. Bisa dibilang dia dari keluarga yg berada dan berpendidikan. Tapi gayanya sangat sederhana dan tidak neko-neko (macem-macem). Sikapnya pun sangat baik dan sopan. Jauh dari sikap arogan seperti anak anak muda yg orang tuanya kaya raya. Dari semua cerita itu. Aku semakin kagum padanya. Malah semakin mencintainya. Makanan pun datang. Tiba tiba pelayan yg mengantarkan makanan itu memberikan secarik kertas untukku. Aku hanya mengerutkan kening karena tidak mengerti maksudnya. Pelayan itu bukannya menjelaskan, malah pamit undur diri. Aku jadi semakin bingung di buatnya. Tiba tiba Satria berkata.. " Baca aja Aya. " kata Satria sambil tersenyum melihat ku Lalu aku pun membuka kertas itu dan membacanya. Ternyata Satria memberi ku sebuah puisi. Ayara Minara Burung burung menyuarakan kata cinta.. Embun pagi teteskan rasa rindu.. Aku dan kamu yg selalu di pertemukan semesta.. Membuat ku jatuh hati padamu.. Keindahan di dunia.. Tak kan lebih indah darimu.. Istimewanya kota.. Lebihlah istimewa dirimu.. Kaulah Ayara Minara.. Puisi Pencuri hati ku.. Yg dalam sekejap mampu menumbuhkan rasa.. Hingga hatiku terkunci hanya untukmu.. Satria Maharprana Aku tersenyum membacanya. Puisi yg sangat indah. Baru pernah aku di beri puisi seindah ini oleh laki laki. Yaa gimana ngga baru pernah. Orang deket sama laki laki juga ini yg pertama kali. Aku ngga tau harus gimana dan jawab apa. Aku hanya melipat kembali kertas itu dan menatap Satria. Satria yg sedari tadi memperhatikan ku pun tersenyum saat aku menatapnya. " Ngga perlu di jawab Aya. Aku hanya ingin mengungkapkan isi hati. " kata Satria " Makasih Satria. Makasih buat puisinya. Puisinya sangat indah. Makasih juga buat ungkapan hati kamu. Tapi aku... " jawabku yg masih menggantung " Aku apa Aya? " tanya Satria " Aku.. aku belum bisa membalasnya. " jawabku sambil menundukkan kepala " It's Oke Aya ngga papa. Kan aku tadi bilang, aku ngga butuh jawaban atau balasan. Aku hanya ingin mengungkapkan isi hati. " kata Satria sambil tetap tersenyum. Senyum ketulusan Yaa mungkin Satria kecewa dg pernyataan ku. Tapi aku harus jawab apa lagi? Aku memang belum bisa membalas puisinya. Untuk perasaannya, jujur aku memang memiliki rasa yg sama. Tapi aku malu untuk mengakui. Dan aku takut akan mengecewakannya nanti, karena aku yg belum pernah berpacaran sebelumnya. Selain itu aku juga ingin melihat kesungguhan Satria pada ku. Intinya adalah banyak hal yg harus aku pertimbangkan sebelum memulai hubungan. " Maafin aku Satria. " kataku lirih sambil menatap nya " Ngga papa Ayara. Ayoo kita makan. " jawab Satria yg mencoba untuk tetap biasa saja. Meskipun aku tau, dia pasti kecewa Aku dan Satria pun makan dalam suasana yg semakin canggung. Awalnya kami sudah bisa bertukar cerita tentang diri masing masing. Sekarang harus kembali seperti orang asing karena puisi itu. Maafin aku Satria. Aku harus mempersiapkan hati ku dulu. Ucapku dalam hati saat mencoba meliriknya. Satria terlihat sangat fokus dg makanannya. Selesai makan. Aku meletakkan kertas puisi itu ke dalam tas. Aku berniat untuk mengajak pulang. Belum juga aku mengatakannya, Satria sudah lebih dulu menanyakannya padaku. " Aya, mau kemana lagi? Atau mau langsung pulang? " tanya Satria sambil merapikan bajunya " Langsung pulang aja yaa Sat. Tapi anterin aku ke kampus ambil mobil. " jawabku sambil tersenyum " Kirain udah lupa sama mobilnya. Hehehehe. " kata Satria sambil tertawa kecil Akhirnya aku melihat tawa Satria walaupun hanya tertawa kecil. Karena tawa itu jugalah yg membuatku jatuh hati padanya. Mungkin Satria ingin mencairkan rasa canggung diantara kami. " Abis kena omel dong nanti aku sama Papah kalo sampe lupa. Hehehehe. " jawabku sambil tertawa kecil juga " Emang Papah kamu galak banget yaa? " tanya Satria " Iyaa makannya sampe sekarang aku belum pernah pacaran. " kataku lalu menutup mulutku karena sadar aku telah kelepasan bicara Satria membulatkan matanya saat mendengar ucapan ku. Sebelum Satria menanyakan hal hal lain, aku segera beranjak dari tempat duduk dan mengajak Satria pulang. " Ayoo Sat. Udah sore nih. " ucapku mengalihkan pembicaraan. Lalu aku berjalan meninggalkan Satria Satria pun ikut beranjak dan berjalan di belakang ku. Di dalam hati Satria berkata.. " Belum pernah pacaran? Aku ngga salah denger kan yaa? Pantes aja si kalo belum pernah pacaran. Keliatan dari tingkahnya. Dan pantes aja dia ngga mau langsung menjawab puisi ku. Ayara, ternyata semakin aku mengenal mu, semakin banyak kejutan yg aku dapatkan. Ngebuat aku semakin suka dan penasaran. Ternyata aku ngga salah menilai dan memilih mu, Ayara. " ucap Satria dalam hati sambil tersenyum dan berjalan menuju kasir Setelah membayar, Satria mengambil mobil dan menghampiri ku yg sudah berada di depan sejak tadi. Aku berdiri menghadap jalan dan melihat lalu lalang kendaraan. Aku sampai tidak menyadari kalo mobil Satria sudah ada di depan ku. Yaa mungkin aku sedikit melamun. Tapi ntah apa yg aku lamunkan hehehehe. " Tiiinn.. " Suara klakson mobil Satria menyadarkan lamunanku " Udah Aya, ngga usah mikirin aku Mulu. Jadi pulang ngga? " kata Satria sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya " Iiiiihhhh Pede banget. Sejak kapan kamu jadi narsis Sat? " tanyaku sambil memutar bola mata malas " Sejak barusan, Hehehehe. " ucapnya sambil menunjukkan gigi putihnya. Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum. Satria pun tersenyum dan menatapku intens Mobil pun melaju menuju kampus. Sampai di kampus, aku turun dari mobil Satria dan berjalan menuju mobil ku. Aku menaiki mobil dan mulai menyalakan mesin. Aku liat dari kaca spion, ternyata mobil Satria masih berada di tempat yg sama saat aku turun. Lalu aku menjalankan mobil menghampiri mobil Satria. Aku membuka kaca mobil. " Makasih yaa Sat, sekali lagi aku minta maaf kalo ada sikap atau kata yg bikin kamu sakit hati. Aku duluan yaa, Bye. Assalamualaikum. " ucapku sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Lalu menutup kembali kaca mobil ku " Waalaikumsallam, Aya. " jawab Satria singkat sambil tersenyum Mobil ku pun keluar area kampus. Aku menjalankan mobil dg kecepatan sedang. Aku mengendarai mobil sambil menyalakan musik. Saking asiknya menyetir, aku sampai ngga sadar kalo ternyata ada mobil yg mengikuti ku dari tadi di belakang. Yaa siapa lagi kalo bukan mobil Satria. Saat di lampu merah, aku mencoba memberanikan diri menghubungi Satria untuk menanyakan maksudnya mengikuti ku dari belakang. Karena jujur aku takut kalo sampai Satria melakukan perbuatan yg tak terduga. Bagaimana pun aku baru mengenalnya, dan belum tau tentang dirinya yg sesungguhnya. Baru aku mau menekan nomornya. Ternyata Satria mengirimkan pesan terlebih dahulu. Satria : Maaf aku mengikuti mu, Aya. Aku mengikuti mu karena aku ingin memastikan kamu baik baik aja sampai rumah. Yaa karena kamu ngga mau aku anter pulang satu mobil, jadi aku anter dg cara seperti ini. Maaf kalo kamu ngga nyaman dg sikap aku. Tapi aku ngelakuin ini benar benar tulus, bukan ingin melakukan kejahatan. Karena aku yakin, pas kamu sadar di ikuti, pasti kamu ngira aku akan berbuat jahat kan? Hehehehe (emot senyum) Aku tersenyum membaca pesan Satria. Satria tau aja apa yg aku pikirkan. Dan aku juga ngga nyangka kalo Satria itu sangat romantis. Romantis? Iyaa menurut ku yg belum pernah sama sekali pacaran, hal itu sangat lah romantis. Dia menghargai keputusan pasangannya. Tapi dia juga bertanggung jawab meski harus dg cara mengikuti dari belakang. Setidaknya Satria sudah menunjukkan bahwa dia benar-benar mencintai dan menyayangi ku. Aku semakin merasakan ketulusan Satria. Setiap sikapnya menunjukkan kesungguhan cintanya pada ku. Dia sampai melakukan apapun untukku. Itu semua membuatku semakin jatuh hati padanya. Tapi aku sendiri masih belum yakin dg hatiku. Lebih tepatnya, aku takut terluka dan melukainya. Karena aku yg ngga ada pengalaman sama sekali dalam hal berpacaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN