( Beberapa hari kemudian )
Pagi hari aku bangun seperti biasa. Rasanya seperti mimpi kalo semalam Satria menghubungi ku. Lalu aku tersenyum sendiri. Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Kemudian aku mandi dan bersiap-siap untuk kuliah.
Selesai mempersiapkan diri. Aku keluar untuk menuju meja makan. Dan benar saja Mamah Papah sudah ada di meja makan. Kami selalu menyempatkan waktu untuk sarapan pagi bersama. Karena malam harinya, kami akan jarang bertemu. Hanya saat weekend, kami menghabiskan waktu bersama full time untuk quality time. Yaa semua itu karena kami memiliki kesibukan masing-masing.
" Pagi Mah Pah. " sapa ku sambil mencium pipi Mamah Papah bergantian
" Pagi sayang. " jawab Mamah
" Mau berangkat sama Papah lagi ngga? " tanya Papah sambil mengoles selai pada selembar roti
" Ngga pah, Aya berangkat sendiri aja. Kan berangkat barengnya Senin doang sama weekend kalo ada kelas hehehehe. " jawabku sambil tersenyum
" Oh Oke kalo gitu. " jawab Papah sambil menganggukkan kepala
Kemudian kami makan bersama dg tenang dan tanpa suara. Aku menyelesaikan sarapan lebih dulu dari yg lain. Lalu aku pamit berangkat ke kampus.
" Mah, Pah Aya berangkat yaa. " pamit ku sambil mencium tangan Mamah dan Papah
" Buru buru banget kayaknya sayang. " kata Mamah
" Iyaa mah dosen kali ini killer banget. " jawabku sambil mengambil tas lalu menggendongnya
" Hati hati yaa sayang. " kata Mamah lagi
" Iyaa Mah, Assalamualaikum mah pah. " salam ku sambil melambaikan tangan
" Waalaikumsallam. " jawab Mamah dan Papah kompak
Aku melajukan mobil ku ke kampus. Di parkiran, saat aku keluar mobil. Aku melihat ada seseorang yg baru keluar dari mobil juga. Yaa dia adalah Satria. Lalu dia menghampiri ku.
" Assalamualaikum Aya. Baru dateng juga yaa? " tanya Satria sambil menganggukkan kepala dan tersenyum
" Waalaikumsallam. Iyaa Sat. " jawabku singkat sambil membalas senyumnya
" Ayoo Aya masuk bareng. " ajak Satria sambil mempersilahkan ku jalan duluan
" Makasih. " jawabku singkat sambil tetap menyunggingkan senyum
Kemudian kami berdua masuk ke kampus bersama. Saat berjalan, semua mata tertuju pada kami. Tak jarang di setiap gerombolan anak anak pada berbisik bisik. Yaa mungkin mereka sedang membicarakan tentang Aku dan Satria. Bukannya seudzon, tapi setiap kami lewat pasti ada aja yg bisik bisik sambil melirik kami. Yaa wajar aja si, secara Satria itu kan salah satu Mahasiswa idola di kampus. Mungkin mereka heran kenapa Satria mau jalan sama aku?
Aku yg mendapat perlakuan seperti itu, aku jadi semakin merasa gimana gitu. Akhirnya aku memutuskan untuk jalan lebih cepat dan meninggalkan Satria jauh di belakang.
" Aya tunggu Aya. " kata Satria sambil berlari mengejarku dan berhasil menyamai langkah ku
" Maaf Sat, Aku duluan yaa. " jawabku sambil melihat jam tangan lalu mempercepat lagi langkah ku
Saat baru melangkahkan kaki satu langkah, tanganku di pegang Satria. Langkah ku pun terhenti.
" Aya tunggu. Kamu kenapa si jalannya cepet banget? Kamu ngga lagi coba menghindari aku kan? " tanya Satria sambil menatapku tajam dan masih memegang tanganku erat
" Maaf Sat, tapi aku buru buru harus masuk kelas. Aku ngga bermaksud menghindari kamu ko. Ngga enak aja kalo kita jalan berdua doang. " jawabku sambil menghela nafas panjang lalu melepaskan tanganku dari genggamannya
" Eh maaf Aya, aku ngga bermaksud megang megang kamu. Kamu pasti mikirin anak anak yg pada bisik bisik yaa? Biarin aja ngga usah di pikirin dan ngga usah di liat. Anggep aja mereka ngga ada. " kata Satria yg seolah mengerti apa yg aku maksud
" Tapi Sat, aku beneran lagi buru buru. Yaa walaupun emang aku ngga enak karena jadi bahan pembicaraan anak anak yg lain. Tapi sekarang aku beneran harus masuk kelas. Aku duluan yaa Sat, Assalamualaikum. " jawabku lalu pergi dg buru buru
" Waalaikumsallam. " jawab Satria lirih dan merasa sedikit kecewa lagi
Yaa selain aku merasa ngga enak hati dg gunjingan anak anak. Aku juga harus masuk kelas sebelum dosen killer itu masuk. Atau aku yg akan kena hukuman. Karena dosen itu ngga suka dg mahasiswa yg terlambat walau hanya semenit saja.
Satria masih diam mematung sambil terus menatap ku. Mungkin ia heran kenapa ada wanita seperti ku yg sangat cuek. Bahkan terkesan selalu menghindarinya setiap bertemu langsung. Padahal aku ngga bermaksud begitu. Mungkin memang keadaan dan semesta yg belum benar benar mendekatkan ku dg Satria, meskipun kita sudah sering bertemu. Jujur aku pun merasa bersalah dan kasihan padan Satria. Tapi bagaimanapun untuk kali ini aku harus mengutamakan mata kuliah ku.
Mungkin nanti jika waktunya pas dan semesta telah memberikan kesempatan, maka aku akan mencoba memperbaiki semuanya. Jika memang Satria menaruh hati pada ku. Semoga dia masih bisa bertahan dg sikapku dan mau menunggu ku. Karena sebenarnya aku sudah jatuh cinta padanya. Memang terkesan egois. Tapi aku juga butuh melihat kesungguhan dan kegigihannya. Dan saat itu tiba, aku akan mulai memberikan kesempatan padanya dan memperbaiki sikap ku.
(di dalam kelas)
Akhirnya aku masuk tepat waktu. Aku duduk di tempat dudukku. Kemudian aku melirik jam tangan. Tidak biasanya dosen killer itu terlambat. Biarkan saja, setidaknya bukan aku yg terlambat. Saat aku sedang mengambil alat tulis dari dalam tas. Tiba-tiba Fay mencondongkan tubuhnya kearah ku dan berbisik.
" Aya Aya. Emang bener yaa kamu berangkat Satria? Tadi aku ngga sengaja denger anak anak pada ngegosip. " bisik Fay dg suara lirih
" Ngga, aku cuma ngga sengaja ketemu di parkiran. Terus jalan bareng pas masuk kampusnya. " jawabku sambil menoleh padanya
" Ah boong. Beneran berangkat bareng juga ngga papa ko. Aku malah seneng dan mendukung kalo kamu Satria. " kata Fay sambil tersenyum lebar
" Apaan si Fay. Aku ngga boong. Aku emang ngga sengaja ketemu di parkiran terus baru masukny barengan. " jelasku lagi
" Huuusssttt huuusssttt. " Tiba tiba Freya menyela obrolan aku dan Fay sambil mengkodekan matanya ke arah depan
Aku pun terkejut karena ternyata dosen killer itu sudah ada di depan. Ternyata dia dari tadi memperhatikan ku dan Fay.
" Ekhem ekhem.. Saya akan mulai kelas. Tapi sebelumnya saya tekankan, saya tidak suka jika saya sudah memasuki kelas masih ada yg mengobrol. Jelas semuanya. " kata dosen killer itu menyindir ku dan Fay
" Jelas pak. " jawab semua mahasiswa. Aku dan Fay hanya menundukkan kepala
Kelas pun di mulai. Waktu terasa begitu lambat jika yg mengajar adalah dosen killer. Kata orang, jika waktu yg kita lalui terasa lambat. Itu berarti kita tidak menikmati waktunya. Yaa gimana mau menikmati. Yg ada adalah kita berada di bawah tekanan.
Satu jam yg terasa satu hari pun akhirnya terlewati. Kelas pun berakhir.
" Jangan lupa tugas dari saya dikerjakan. Kumpulkan di pertemuan selanjutnya. Terimakasih, Selamat siang. " kata dosen mengakhiri mata kuliahnya. Lalu pergi meninggalkan kelas
Semua mahasiswa bernafas lega karena usai sudah tatap muka dg dosen killer itu. Aku mengemasi buku dan alat tulis di atas meja.
" Makan yuuukkk. Ke kantin atau cafe gitu. Laper nih. " ajak Freya sambil berjalan menghampiri ku
" Ayoo. " jawabku singkat lalu aku beranjak dari tempat duduk
" Eh tungguin. Kalian mau ninggalin aku? Apa udah lupa sama aku? " kata Fay kesal karena merasa di lupakan
" Ngga usah drama deh. Ayoo buruan. " kata Freya yg membuatku tersenyum
" Aya kamu masih hutang penjelasan ke aku yaa. " kata Fay yg berbicara dg nada semakin lirih dan tatapan yg membulat saat melihat ke arah depan
Aku dan Freya pun mengikuti arah tatapan Fay. Kami terkejut karena yg ada di depan adalah Satria. Yaa Satria menghampiri ku ke kelas. Oh My God, ternyata dia semakin menunjukan keberaniannya untuk mendekati ku. Aku jadi malu. Pasti ini akan jadi bahan gosip lagi. Apalagi masih ada anak anak yg di dalam kelas. Ada dari mereka yg mulai bisik bisik tetangga.
" Satria. " ucapku terkejut. Satria hanya tersenyum manis padaku
" Oke kalo gitu aku dan Fay duluan yaa. Bye Aya. " kata Freya sambil menarik tangan Fay
" Aya jangan lupa curcol yaa nanti. Inget kamu masih ada hutang sama aku. " teriak Fay karena ditarik dg cepat dan sudah mulai jauh jaraknya dg ku. Aku hanya menghembuskan nafas berat
" Mau makan bareng? " tawar Satria sambil tersenyum dan menaikkan alisnya
" Boleh. " ucapku dg cepat sambil tersenyum. Satria pun tersenyum bahagia mendengarnya
Yaa aku ngga mau mengecewakannya lagi. Dan aku pun ngga mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena aku ngga mau menyesal nantinya. Ngga ada salahnya juga kan kita berteman dekat dulu. Walaupun rasa suka itu udah mulai tumbuh dari awal bertemu. Tapi aku kan belum tau perasaan Satria yg sebenarnya.
Lalu kami berjalan beriringan menuju Cafe. Seperti biasa saat berjalan keluar dari kelas, semua selalu tertuju pada kami. Semua bibir pun masih dg senang membicarakan kami. Aku mencoba untuk cuek terhadap itu semua. Meski tak di pungkiri kalo aku sangat risih dg hal itu.
Saat aku ingin belok menuju Cafe dekat kampus. Satria mencegah ku.
" Aya, kita ke Cafe lain aja gimana? Aku punya rekomen Cafe yg bagus dan kamu pasti suka. " kata Satria yg hendak memegang tanganku tp aku segera menjauhkan tubuhku sedikit
" Eeemmmm gimana yaa? Yaa udah boleh deh. " jawabku sedikit ragu
Akhirnya kami berjalan menuju parkiran mencari mobil. Karena Satria ingin mengajakku ke Cafe yg di pilihnya. Dan tempatnya lumayan jauh dari kampus. Jadi harus naik mobil deh.
Satria membukakan pintu mobilnya untukku. Aku ragu untuk masuk. Karena seumur hidup aku belum pernah satu mobil dg laki laki kecuali Papah. Haduh gimana ini yaa? Jantungku berdegup sangat kencang. Tanganku mengeluarkan keringat dingin. Aku benar benar gugup dan gerogi. Apa aku batalin aja yaa? Tapi kasian Satria. Ucapku dalam hati.
Cukup lama aku mematung di depan mobil Satria yg terbuka pintunya. Dan mungkin Satria pegal memegangi pintu mobilnya. Sampai akhirnya Satria membuyarkan lamunanku.
" Aya. Hello. Kamu baik baik aja kan? " Ucap Satria sambil melambaikan tangan di depan wajahku
" Eh maaf Sat. Aku ngga papa ko. Eeemmmm.. aku naik mobil sendiri aja yaa. Biar nanti pulangnya gampang. " jawabku sedikit ragu
" Nanti pasti aku anterin pulang Aya. Kamu tenang aja. Aku ngga mau berniat jahat ko sama kamu. " kata Satria sambil tersenyum tulus
" Terus mobil aku gimana? " tanyaku memastikan
" Aman ko kalo di taruh disini. Kan ada security dan cctv-nya. " jawab Satria yg mencoba meyakinkan ku
" Tapi nanti pasti aku diomelin Papah kalo mobilnya ditinggal. Aku juga ga tau harus bilang apa nanti ke Papah. " kataku mengungkapkan kegelisahan
" Iyaa udah nanti aku anterin kamu ke kampus lagi ambil mobil. Oke? " ucap Satria yg sangat mengerti ku
" Beneran yaa Sat? Janji? " tanyaku lagi memastikan. Karena aku takut Satria berbohong
" Iyaa Ayara Minara, Aku janji. Silahkan. " jawab Satria dg tegas dan yakin. Lalu mempersilahkan aku masuk ke dalam mobil
Aku duduk di dalam mobil. Lalu memasang seatbelt. Satria pun duduk di belakang setir. Sebelum menyalakan mesin, ia melihat ke arah ku dan tersenyum. Aku pun membalas senyumnya, lalu menundukkan kepala. Kemudian Satria menyalakan mesin dan mobil melaju ke luar kampus menuju Cafe.
Ini adalah pengalaman pertama ku, satu mobil dg laki laki. Maka dari itu sepanjang perjalanan, tak ada obrolan apapun di dalam mobil. Aku sibuk memainkan hp untuk menutupi rasa gugup ku. Sedangkan Satria, Satria terlihat sibuk menyetir. Meski beberapa kali ia terlihat melirik ke arah ku sambil tersenyum.