Kisah Rumah

1272 Kata
Setelah makanan habis dan setelah beristirahat sebentar. Kami pun melanjutkan perjalanan yg tertunda. Sebelum pergi dari Resto, tentu Satria membayar pesanan yg sudah di makan. Lalu kami menuju mobil. Setelah siap, mobil pun melaju dg kecepatan sedang. Karena sudah kenyang, ditambah AC di dalam mobil yg dingin, aku pun jadi mengantuk. Beberapa kali aku menguap. Satria pun melihatnya. Aku ingin tidur tp tidak enak dan malu pada Satria. " Sayang, kamu ngantuk? " tanya Satria yg dari tadi melihatku menguap. Aku hanya unjuk gigi mendengar pertanyaannya " Bobo aja ngga papa. " kata Satria " Beneran ngga papa? " tanyaku yg terdengar aneh untuk Satria " Yaa ngga papa lah sayang. Kan kalo ngantuk emang bobo, gimana si. " kata Satria sambil menggelengkan kepalanya " Yaa ngga gitu takutnya kamu jadi ngantuk karena ngga ada temen nyetir dan ngobrol. " ucapku dg ekspresi muka di tekuk " Hehehehe ngga ko sayang. Ngga papa gih bobo aja. Toh tinggal sebentar lagi juga sampe. " ucap Satria tersenyum karena gemas melihat ekspresi ku " Iyaa udah deh iyaa. " jawabku pasrah Beberapa menit setelah obrolan itu, aku pun tertidur. Satria tersenyum melihatku tertidur pulas. Kemudian Satria menyelimuti ku dg selimut yg ada di kursi belakang. Yaa Satria menyelimuti ku dg selimut bukan dg jaketnya. Karena hari ini sebenarnya kami seperti memaki baju couple. Jika aku memakai Hoodie mocca dan celana putih. Maka Satria memakai Hoodie putih dan celana mocca. Untuk sepatu Satria memakai sneakers putih. Hoodie dan sepatu kami sama. Dg model dan desain yg sama hanya berbeda warna. Setelah menempuh 2 jam perjalanan ditambah sebelum kita makan itu kita sudah berjalan 1 jam. Jadi total perjalanan kita adalah 3 jam. Akhirnya kita sampai di kota Purwokerto. Yaa selama 2 jam itu pula aku tertidur. Satria pun membangunkan ku dg sangat lembut. " Ayara bangun sayang, kita udah sampai. " kata Satria sambil menepuk pipiku lembut " Eeemmmm. " kataku sambil merenggangkan tubuh tp mataku masih terpejam " Bangun sayang kita udah sampai. " ucap Satria sambil melepaskan seatbelt dan mengambil tasnya di kursi belakang " Hah udah sampai? " kataku sedikit terkejut mendengarnya karena aku sudah mulai sadar dari tidur dan membuka mataku " Iyaa sayang kita udah sampai setengah jam yg lalu. Dari tadi di bangunin ga bangun bangun. " kata Satria sambil tersenyum jail " Serius Sat setengah jam lalu? Ah boong yaa? " kataku seperti orang panik sambil melihat jam tangan " Hehehehe iyaa kita baru sampai beberapa menit yg lalu ko. " jawab Satria sambil unjuk gigi " Tuh kan boong. " ucapku sambil memanyunkan bibirku " Aku tidur lama banget dong yaa? " tanyaku lagi sambil unjuk gigi dan mengambil tas ransel ku " Bukan lama lagi sayang, kamu tuh tidur begitu keluar resto sampai kita udah ada disini sekarang. " kata Satria sambil tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya " Hehehehe maaf abis ngantuk banget si. Biasalah kalo udah kenyang pasti ngantuk hehehehe. " jawabku dg cengengesan yg terkesan innocent " Ayoo turun sayang. " ucap Satria mengajakku sambil membuka pintu mobil. Aku hanya mengangguk dan mengikuti Satria membuka pintu mobilnya Aku dan Satria pun turun dari mobil. Pemandangan indah terpampang di depan mata. Aku sangat takjub melihatnya. Ada sebuah rumah sederhana di tengah hamparan sawah di sekelilingnya. Rumah kayu sederhana berwarna biru dan putih. Meskipun sederhana tapi terlihat sangat cantik dan bersih. Sangat sejuk dan asri. Selain karena sawah di sekelilingnya. Di depan rumah juga terdapat banyak taman yg menghiasi. Kemudian Satria mengajakku untuk masuk ke rumah itu. " Ayoo sayang masuk. " ajak Satria yg berjalan lebih dulu dan terlihat sangat antusias Mungkinkah ini rumah almarhum Nenek Satria? Yaa aku rasa begitu. Meskipun pemiliknya sudah meninggal tapi rumah itu masih sangat terawat. Aku masih diam terpaku memandang rumah dan pemandangan disini. Yaa meski di Jogja masih bisa di jumpai sawah, tp rumah ini serasa berada. Ada rasa nyaman walaupun hanya dg melihatnya. Setelah puas menikmati keindahannya, aku pun melangkah masuk menyusul Satria. Aku berjalan dg tetap menengok ke kanan dan kiri seolah tak bisa move on dari keindahan alam yg di suguhkan. " Assalamualaikum. " salam ku saat sampai di depan pintu " Waalaikumsallam. Ini mba cantik yg barusan di ceritain mas Satria yaa? " ucap seorang wanita berusia kira-kira 60tahunan yg berjalan menghampiriku. Aku hanya tersenyum kemudian mencium tangan beliau " Perkenalan saya Lastri pembantunya mas Satria. Saya dan suami saya yg merawat serta menjaga rumah ini mba. " kata wanita itu sambil tersenyum dan mencoba mengambil tas ransel ku untuk dibawanya " Ngga usah Bu, biar saya aja yg bawa. Oh iyaa saya Ayara teman dekatnya Satria. " jawabku sambil menahan tas ranselku agar tak dibawanya kemudian aku tersenyum dan menganggukkan kepala " Dia bukan cuma pembantu sayang. Tapi dia udah aku anggap seperti nenek aku sendiri. Jadi aku manggil dia pun nenek. " kata Satria yg mengambil alih membawa tas ku dan menuntun ku masuk. Aku hanya mengangguk menanggapinya " Jangan sungkan disini yaa mba. Anggep aja rumah sendiri. Kalo ada apa apa panggil Nenek aja yaa. " kata nek Lastri sambil membuka kamar tamu untuk ku " Makasih yaa Bu eh Nek. Oh iyaa ngomong ngomong suami nenek dimana? " tanyaku penasaran " Dia di belakang mba. " sambil menunjuk area belakang rumah " Jangan panggil mba Nek. Panggil aja Ayara. " kataku yg duduk di atas tempat tidur " Iyaa mba eh nak Ayara. Silahkan istirahat dulu yaa, pasti cape. Nenek tinggal dulu. Kalo udah istirahat baru deh muter-muterin kota Purwokerto. " kata Nek Lastri sambil pergi ke dapur " Iyaa makasih Nek. " jawabku sambil tersenyum dan menganggukkan kepalaku Setelah Nenek Lastri pergi. Tinggal aku dan Satria di kamar. Aku masih penasaran dg sosok Nek Lastri itu. Aku ingin mendengar cerita tentangnya. Yaa disini aku harus tau semua tentang Satria. Tentang dibalik rasa suka dan cintanya dg kota ini. Tanpa aku menanyakan tentang Nek Lastri. Satria pun lebih dulu menceritakan tentang beliau. Jadi Nek Lastri dan suaminya itu kehilangan cucunya. Sewaktu Satria masih kecil dan sedang bermain dg teman temannya di Purwokerto, Satria sempat di ajak Nek Lastri dan suaminya menginap ke rumahnya karena di kira cucunya. Dengan kata lain Satria seperti di culik tp tidak di ikat ataupun di sekap. Justru Satria di perlakukan sangat baik oleh Nek Lastri dan suaminya. Yaa sebelumnya kalian harus tau, Satria dan keluarganya itu dulu tinggal di Purwokerto. Kemudian mereka pindah ke Jogja setelah Satria dewasa dan setelah neneknya meninggal. Karena Kakek Satria memiliki pabrik batik di Jogja, dan beliau mewariskan pabrik itu untuk Papah Satria. Awalnya saat Nenek Satria masih hidup, hanya Papah Satria yg di Jogja. Sedangkan Satria dan Mamahnya tinggal di Purwokerto. Tapi setelah Neneknya meninggal, Satria dan Mamahnya ikut Papahnya ke Jogja. Lanjut ke cerita tentang Nek Lastri. Jadi penculikan Satria itu hanya berlangsung sehari semalam. Tapi itu membuat orang tua dan Nenek Satria panik. Setelah sehari semalam hilang, kemudian esok harinya Satria di antarkan pulang oleh Nek Lastri dan suaminya. Dari kejadian itu, Nek Lastri meminta maaf dan menceritakan semua tentang hidupnya dan cucunya. Kemudian keluarga Satria pun memaafkan Nek Lastri. Dan meminta Nek Lastri beserta suaminya untuk bekerja di rumah keluarga Satria. Sehingga saat Nek Lastri merindukan cucunya, beliau bisa selalu melihat Satria. Yaa Nek Lastri sangat menyayangi Satria dg tulus. Karena itu lah Satria pun menganggap beliau seperti nenek nya bukan seperti pekerja. Nek Lastri juga lah yg merawat dan menemani almarhumah Nenek Satria dulu. Saat Nenek Satria meninggal dan Satria pun pindah ke Jogja, sebenarnya Nek Lastri berniat pergi dan berhenti bekerja. Tapi Satria, Mamah dan Papah nya melarang dan menyuruh Nek Lastri dan suaminya untuk tinggal sambil menjaga dan membersihkan rumah almarhum Nenek Satria.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN