Bab 1 – Harga Sebuah Kehidupan
"Kau hanya perlu menjadi istriku selama 365 hari. Setelah itu, kau bebas, hidupmu akan kembali."
Kalila Azzahra tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah drastis hanya dalam satu malam. Ayahnya yang terlilit hutang, menghilang tanpa jejak, dan ia dijadikan jaminan oleh rentenir paling kejam di kota: keluarga D'Avanzo—mafia berdarah dingin yang terkenal di dunia bawah tanah.
Tapi yang lebih mengejutkan bukanlah pernikahan kontraknya dengan Elvano D’Avanzo, sang pewaris tunggal yang dingin dan misterius. Melainkan kenyataan bahwa ibunya yang telah meninggal, pernah menjadi bagian dari keluarga tersebut.
Kalila mencoba bertahan dalam pernikahan pura-pura. Tapi bagaimana bila sandiwara itu perlahan terasa nyata? Dan bagaimana jika Elvano pun mulai membuka hati yang selama ini tertutup karena dendam masa lalu?
Di balik pesta pernikahan mewah, ada darah, air mata, dan pengkhianatan. Dan ketika Kalila tahu bahwa cintanya adalah bagian dari rencana balas dendam keluarga D’Avanzo, semuanya sudah terlambat...
---
Kalila Azzahra menatap kosong ke arah kalender yang tergantung di dinding kamar mungilnya. Tanggal hari ini dilingkari tinta merah tebal, seolah mengingatkan bahwa hidupnya tak akan pernah sama lagi. Dua puluh tahun hidup sederhana bersama ayahnya di gang sempit Jakarta Barat akan segera berubah dalam hitungan jam.
Ponsel tua milik ayahnya tergeletak di atas meja. Benda itu sunyi. Tak ada pesan. Tak ada panggilan. Dan tak ada kabar dari pria yang telah melarikan diri setelah meninggalkan hutang dua miliar rupiah pada rentenir paling berbahaya di kota ini.
Kalila menggigit bibir bawahnya. Masih teringat jelas ucapan pria berjubah hitam semalam—tangan kanannya memegang kontrak, dan mata dinginnya menyapu tubuh Kalila seperti menilai barang dagangan.
"Kau harus menikah dengan Elvano D’Avanzo dalam tujuh hari, atau kami akan menyeret ayahmu keluar dari tempat persembunyiannya. Dalam keadaan hidup atau mati."
Itu bukan tawaran. Itu ultimatum.
---
Gedung pernikahan itu berdiri megah di tengah kota. Langit mendung seperti merestui suasana muram di hati Kalila. Gaun pengantin putih berenda yang dikenakannya terasa seperti jerat tali yang perlahan mencekik. Ia berdiri di depan altar, sendirian, menanti pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Musik klasik mulai mengalun. Semua orang berdiri. Kalila pun menoleh—dan melihatnya.
Elvano D’Avanzo. Setelan jas hitam yang dikenakan pria itu tampak membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, menampakkan wajah tirus dengan tatapan tajam. Tapi bukan ketampanannya yang membuat Kalila menahan napas. Melainkan auranya—dingin, berbahaya, dan tak tersentuh.
Tatapan Elvano menusuk langsung ke matanya. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Seakan ia pun tak menginginkan pernikahan ini.
Pernikahan pun berlangsung. Pendeta menyebutkan janji suci, dan Kalila mengucapkan kata-kata itu tanpa benar-benar merasa yakin. Bibirnya bergerak otomatis, seiring detik-detik kehidupannya menguap.
“Dengan ini, kalian resmi menjadi suami dan istri.”
Tepuk tangan menggema. Tapi Kalila merasa seperti terjebak dalam film bisu. Ia menoleh ke Elvano, berharap ada sedikit kehangatan. Tapi yang ia dapat hanyalah suara dingin berbisik di telinganya.
“Selamat datang di neraka kecilku.”
---
Malam pertama pernikahan itu bukan malam penuh bunga atau gairah. Elvano hanya membawanya ke rumah megah di pinggiran kota—sebuah mansion bergaya Eropa dengan penjagaan ketat dan koridor sunyi.
“Ini kamarmu,” ucap Elvano sambil membuka pintu. “Aku tidak akan mengganggumu selama kau tidak membuat masalah.”
Kalila melangkah masuk. Tapi sebelum pintu tertutup, ia memberanikan diri bertanya, “Kenapa aku?”
Elvano menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
“Karena kau adalah alat tukar yang sempurna. Putri dari seorang pengkhianat. Dan bagian dari balas dendam yang telah lama kuperam.”
Kalila terpaku. Kata-kata itu seperti cambuk dingin yang menghantam d**a. Tapi sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, pintu sudah tertutup.
Dan di balik tembok itu, Kalila tahu, hidupnya baru saja dimulai—dalam dunia yang penuh rahasia, darah, dan cinta yang tumbuh di tempat yang salah.