Langkah-langkah Kalila menggema di lantai marmer. Setiap pijakan seperti mengukir jejak ketakutan dalam benaknya. Rumah itu terlalu besar, terlalu sunyi, terlalu asing. Dindingnya dipenuhi lukisan klasik yang tampak muram, nyaris seram. Kalila merasa seperti ditelan dunia lain.
Kamar yang diberikan padanya ternyata mewah, jauh dari apa yang pernah ia impikan. Tempat tidur empat tiang dengan kelambu putih. Karpet Persia. Cermin besar. Semuanya terlihat mahal—tapi dingin. Tidak ada satu pun yang membuatnya merasa di rumah.
Ia duduk di pinggir ranjang, lalu meremas ujung gaunnya yang masih ia kenakan. Tidak ada pelukan hangat di malam pernikahan. Tidak ada senyuman. Bahkan, Elvano tidak menyentuhnya sedikit pun. Dan entah mengapa, itu malah membuat hatinya bergetar dalam arti yang tak bisa ia pahami.
Pikiran Kalila kembali ke kata-kata Elvano tadi: “Putri dari seorang pengkhianat.”
Apa maksudnya? Ayahnya hanyalah seorang pedagang buku kecil. Tidak punya koneksi. Tidak punya kekuatan. Lalu kenapa disebut pengkhianat?
“Kalila.”
Suara pelan dari arah pintu membuatnya tersentak. Ia berdiri dengan cepat. Seorang wanita paruh baya muncul, mengenakan seragam abu-abu. Raut wajahnya ramah, tapi sorot matanya hati-hati.
“Saya Maria, kepala pelayan di rumah ini. Tuan Elvano memerintahkan saya untuk memastikan Anda nyaman. Kalau Anda butuh apa pun, beri tahu saya.”
Kalila mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Maria menatap Kalila sejenak sebelum berkata pelan, “Hati-hati di rumah ini, Nona. Banyak hal... yang lebih baik tidak ditanyakan.”
Lalu wanita itu pergi, meninggalkan Kalila dengan berjuta pertanyaan yang terus menumpuk di dadanya.
---
Keesokan paginya, Kalila bangun lebih awal. Ia ingin mencari udara segar, mungkin berjalan-jalan di taman rumah itu untuk menjernihkan pikirannya. Tapi ketika ia membuka pintu kamar, dua pria berbadan besar berdiri di lorong. Mereka mengenakan jas hitam dan kacamata gelap.
“Maaf, Nyonya. Anda tidak boleh ke mana-mana tanpa izin Tuan Elvano,” kata salah satunya dengan suara datar.
Kalila menatap mereka tak percaya. “Aku hanya ingin berjalan-jalan. Di halaman rumah sendiri.”
“Perintah Tuan.”
Kalila kembali masuk dengan hati terbakar. Apakah ini yang dimaksud Elvano dengan neraka kecil? Ia seperti burung yang dikurung dalam sangkar emas—tak bisa terbang, bahkan sekadar bernapas lega pun tak bisa.
---
Siang itu, Elvano baru muncul.
Ia masuk ke ruang makan dengan langkah tegap dan wajah yang selalu dingin. Kalila sudah duduk di ujung meja panjang itu, menunggu dengan gugup. Ia mengenakan blus putih dan celana panjang sopan, berusaha menyesuaikan diri.
Elvano duduk tanpa menyapa. Hanya mengambil garpu dan mulai makan dengan tenang. Kalila menatapnya beberapa saat sebelum memberanikan diri berbicara.
“Kalau aku tetap dikurung seperti ini... kenapa kita menikah?”
Elvano meneguk anggurnya sebelum menjawab, “Pernikahan ini bukan tentang cinta, Kalila. Ini tentang kesepakatan. Dan kamu hanya perlu menjalani peranmu selama 365 hari.”
“Tapi apa salahku? Kenapa aku yang harus menanggung semua ini?”
Tatapan Elvano berhenti di wajahnya. Sorot matanya tajam, penuh kemarahan yang ditahan.
“Karena ayahmu mencuri data transaksi senjata milik keluarga kami. Karena dia membocorkan informasi ke pihak lawan. Karena dia membuat kakakku mati ditembak di pelabuhan dua tahun lalu.”
Jantung Kalila berhenti berdetak sejenak. “Itu… tidak mungkin. Ayahku bukan—”
“Elvano!” Suara keras memotong dari arah pintu. Seorang wanita cantik berambut pirang masuk dengan sepatu hak tinggi yang berdetak keras di lantai. Matanya menyapu Kalila dengan jijik sebelum menghampiri Elvano.
“Kau menikah? Tanpa memberitahuku?”
“Eliza, aku tidak punya kewajiban menjelaskan apa pun padamu,” ucap Elvano dengan nada tajam.
Eliza menoleh ke Kalila dan tersenyum miring. “Jadi ini pengantinnya? Gadis toko yang dipungut dari pinggiran kota?”
Kalila menggenggam sendoknya erat. Tapi ia memilih diam.
“Keluar, Eliza,” ucap Elvano tanpa emosi. “Sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran.”
Wanita itu mendengus lalu berjalan keluar sambil menyenggol bahu Kalila. “Selamat menikmati neraka, sayang. Dia lebih dingin dari es di Antartika.”
---
Malam itu, Kalila tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit, bertanya-tanya apakah hidupnya akan seperti ini selamanya. Tapi kemudian, ia menemukan sebuah pintu kecil tersembunyi di balik lemari pakaian. Dengan rasa penasaran yang mengalahkan rasa takut, ia mendorong pintu itu—dan menemukan lorong sempit gelap yang mengarah ke bagian dalam rumah.
Langkah-langkah kecilnya menuntunnya ke ruang bawah tanah. Di sana, ia menemukan sesuatu yang membuat napasnya tercekat: foto lama ibunya—berdiri di sebelah seorang pria tua yang sangat mirip dengan Elvano.
Kalila mendekat. Matanya membaca tulisan kecil di bawah foto itu:
"Claudia D’Avanzo – 1996"
D’Avanzo?
Ibunya?
Hatinya menjerit.
Apa sebenarnya yang terjadi?
Siapa dirinya sebenarnya?
Dan... apa hubungan ibunya dengan keluarga mafia ini?