Bab 3 – Nama yang Disembunyikan

675 Kata
Kalila berdiri terpaku di depan foto tua itu. Dadanya sesak. Pikirannya kacau. Wajah dalam foto itu jelas sekali milik ibunya—wanita lembut yang selalu berkata bahwa mereka tidak punya siapa-siapa selain satu sama lain. Tapi nama di bawah foto itu—Claudia D’Avanzo—mengatakan sebaliknya. D’Avanzo. Itu nama keluarga Elvano. Tangannya gemetar saat menyentuh bingkai kayu yang berdebu. Apakah ibunya dulunya bagian dari keluarga mafia ini? Kalau begitu... berarti Elvano dan dirinya mungkin...? Tidak. Itu tidak mungkin. Atau... mungkin saja? Suara langkah kaki mendekat dari arah lorong membuat Kalila tersentak. Ia cepat-cepat menutup kembali pintu kecil itu dan berlari ke kamarnya. Ia berhasil masuk dan duduk di tempat tidur sebelum pintu kamarnya diketuk dengan cepat. “Kalila.” Suara berat Elvano terdengar. Ia tidak menunggu jawaban dan langsung masuk. Wajahnya tegang. “Apa kamu keluar dari kamar tadi malam?” Kalila mencoba tenang. “Aku tidak bisa tidur. Aku hanya... berjalan-jalan sedikit.” Elvano mendekat. “Kamu masuk ke ruang bawah?” Kalila menggeleng cepat. “Aku tidak tahu ada ruang bawah.” Elvano menatapnya lama. Tatapannya tajam, menyelidik. Tapi akhirnya ia mundur satu langkah dan mendesis pelan. “Jangan pernah menyentuh pintu-pintu yang tertutup di rumah ini, Kalila. Jangan cari tahu apa pun. Semakin kamu tahu, semakin kamu terlibat. Dan aku tidak akan menjamin keselamatanmu kalau kamu melanggar itu.” Kata-kata itu seperti cambuk di hati Kalila. Tapi jauh di dalam dirinya, ada suara kecil yang memberontak. Aku harus tahu... siapa aku sebenarnya. --- Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Kalila dikurung di rumah yang megah tapi sunyi. Ia mulai memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Maria, kepala pelayan yang tampak menyembunyikan banyak hal. Dua pengawal yang seakan bukan sekadar penjaga. Dan tentu saja, Elvano—pria penuh misteri dengan luka dalam di balik mata dinginnya. Setiap malam Elvano pulang terlambat, dengan wajah lelah dan jas berdarah. Kalila tak pernah bertanya, tapi ia mulai mengerti bahwa Elvano tak hanya menjalankan bisnis ilegal. Ia memimpin dengan tangan besi. Suatu malam, Kalila duduk di perpustakaan rumah itu—satu-satunya tempat yang memberinya rasa damai. Ia menemukan sebuah buku tua tentang sejarah keluarga mafia Italia. Di salah satu halaman, tertulis daftar keturunan keluarga D’Avanzo. Namanya tidak ada. Tapi nama Claudia—ibunya—ada. Dengan catatan: dihapus dari keluarga karena pengkhianatan cinta. Kalila terdiam. Jadi... ibunya diasingkan? Karena cinta? Apakah itu berarti—ayah Kalila adalah orang luar? Dan kalau Claudia dulu mencintai orang di luar mafia, mungkin ia memang melarikan diri untuk menyelamatkan anaknya. Dirinya. “Kalila.” Suara Elvano muncul tiba-tiba di belakangnya. Ia menutup buku dengan cepat, jantungnya berdegup kencang. “Kenapa kamu baca itu?” tanya Elvano tajam. “Aku hanya ingin tahu... siapa diriku sebenarnya.” “Kamu adalah istri dari musuhku,” ucap Elvano pelan, tapi dingin. “Itu sudah cukup jadi identitas.” “Lalu kenapa kamu menikahiku?” Kalila berdiri. “Kalau kamu membenciku begitu dalam, kenapa kamu tidak membunuhku saja seperti keluargamu membunuh ayahku?” Tatapan Elvano berubah. Ada luka di sana. Dan sedikit... rasa bersalah? “Kamu bukan ayahmu,” katanya akhirnya. “Dan aku... punya janji yang harus kutepati.” “Janji dengan siapa?” “Elvano!” Suara pria tua tiba-tiba menggema di ruang tamu. Elvano menegang. Ia langsung berjalan keluar, meninggalkan Kalila yang membeku. Kalila mengintip dari celah pintu. Ia melihat pria tua dengan tongkat perak berdiri di ruang tamu. Matanya tajam, penuh otoritas. “Kenapa gadis itu masih hidup?” tanyanya dingin. “Janji itu sudah tidak berlaku. Claudia sudah mati.” “Dia istriku sekarang,” jawab Elvano. “Dan aku akan menyelesaikan ini dengan caraku.” Pria itu mendesis. “Kalau kamu lengah... kau akan jatuh, Elvano. Gadis itu adalah kunci dari kehancuranmu. Jangan pernah lupa, darah pengkhianat mengalir di tubuhnya.” Kalila mundur perlahan. Air matanya jatuh satu per satu. Darah pengkhianat? Atau... darah korban? Ia tidak tahu lagi siapa yang bisa ia percaya. Tapi satu hal pasti: ia tidak bisa terus diam. Ia harus mencari tahu masa lalu ibunya. Dan mencari tahu... kenapa Elvano terlihat begitu tersiksa setiap kali memandang wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN