Qiandra membeku menatap Nathan, seolah-olah jiwanya ikut merespon kecanggungan yang ia rasakan. Qiandra mengikuti pandangan Nathan yang ternyata tertuju pada fisik Qiandra di atas ranjang pesakitan, dan tidak pernah menoleh ke arah jiwanya yang berdiri di ujung ranjang. Qiandra merasa lega. Untuk sesaat tadi, dia lupa jiwanya bukanlah entitas yang mampu dilihat orang. Dokter dan perawat yang telah memasuki bangsal ICU ini telah mengonfirmasi hal ini. Di antara mereka, tak ada yang menyadari keberadaannya sama sekali. Namun, meski begitu, ada kewaspadaan alami yang Qiandra miliki, takut jika entah bagaimana ada orang yang mampu melihat jiwanya dan menganggapnya hantu. Rasanya, dianggap sebagai hantu tidak terlalu baik. Atau jangan-jangan … dia memang sudah menjadi hantu? Sebuah jiwa tan

