Lelaki itu menatap mentari yang menyemburat merah keemasan, sebagai tanda sapaan pada dunia. Suara embusan angin di antara dedaunan masih menciptakan harmoni, saling melengkapi dengan cuitan burung yang sesekali terdengar. Sesosok punggung di atas kursi roda terlihat tegar dan kuat, seolah ia siap menantang langit hingga ke batas terujung. Kedua tangannya mencengkeram sandaran kursi roda, menunjukkan kekuatan dan pertahanan dalam dirinya. Hari masih terlalu pagi. Angin tak terlalu bersahabat. Menembus lapisan kaos polo yang lelaki itu kenakan, menyusup ke setiap pori kulitnya yang sensitif. Namun, lelaki itu tak keberatan. Pagi seperti ini adalah salah satu yang Nathan kagumi. Melihat mentari mulai merekah, membiaskan cahaya keperakan yang menawan. Pagi selalu indah. Mengiming-imingi ma

