Kabar yang baru saja Qiandra terima membuat suasana pagi yang tadinya indah berubah suram dalam sekejap. Sinar mentari tak lagi menarik, seperti halnya harmoni alam di halaman depan tak lagi memiliki pesona. Bahkan hari yang indah, berbalik dalam sekejap. Rencana bulan madu sederhana yang tadinya Nathan rencanakan, tak lagi terealisasi. Keduanya kembali ke Jakarta, ke kediaman orang tua Qiandra. Suasana duka terasa kental. Tangisan masih terdengar di mana-mana. Tak banyak kerabat yang dihubungi, mengingat kedua orang tua Qiandra sama-sama anak tunggal dan tak lagi memiliki orang tua. Kematian Bapak mengejutkan banyak orang. Beliau tampak sehat, tidak menunjukkan tanda-tanda sakit parah. Hanya saja, semalam beliau mengeluh kepalanya pusing. Kata Ibu, Bapak terbiasa migrain, hadi han

