“Apa kamu mau langsung pulang?” tanya Anggara pada Tasya yang terlihat sudah memasukan ponselnya ke dalam tas. “Iya, kenapa memang? Apa kamu masih mau memesan yang lain? Kopi? Makanan?” tanya Tasya mencoba menebak. Anggara terkekeh, “Tidak, ini sudah malam. Apa kamu tidak masalah pulang sendiri?” tanyanya memastikan. Tasya tersenyum. “Hahaha. Ini sudah menjadi masalahku selama ini. Apa yang harus aku takutkan lagi selain jatuh cinta? Bagiku pulang malam adalah hal yang sangat dasar” guraunya namun hatinya berkata ini sangat serius. “Dasar!” sela Anggara, “Apa keberatan jika aku antar?” tawarnya. Deg! Jantung Tasya terasa terhantam sesuatu yang sangat keras saat mendengar tawa

