"Kamu mau masuk?" Aku menawarkan dengan enggan, tahu kalau Dera ada didalam. Dan ku yakinkan dunia akan kiamat kalau dia melihat aku pulang dengan Lucas.
Lucas menatapku, membuat aku hanya mampu terdiam dengan detakan jantung yang membuat aku heran. Separah inikah pengaruh dari tatapan sekelam malam itu?
"Mami meminta kamu datang besok. Kamu masih ingat tentunya." Entah apa maksud di balik ucapnya itu tapi aku hanya mengangguk sebagai jawaban. "Aku akan menjemputmu. Masuklah!" Tanpa mau repot-repot menunggunya aku langsung masuk.
Aku tahu keterlaluan jika kukatakan kalau sekarang aku membenci rumah ini tapi demi tuhan itulah yang aku rasakan sekarang. Aku seolah ada di tempat asing.
Mesin mobil terdengar berlalu pergi dan aku bisa menghembuskan nafas yang tak ku tahu sejak kapan ku tahan. Entah sejak kapan pengaruh lelaki itu merasuki jiwaku.
Aku berdehem, sedikit menyingkirkan sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku.
Kulangkahkan kaki dengan pelan, membuka gerbang dan menaiki undakan tangga hanya untuk membuat jantungku seolah bergetar di luar nalar.
Rasa perih itu membuat aku hanya bisa menahan airmata yang seakan tumpah saja. Bukan tamparan itu yang membuat aku sakit tapi lebih kepada kerapuhan hatiku atas rasa yang tak ku kenali.
"Kamu murahan. Seharusnya sudah dari dulu kamu pergi dari hidup kami tapi kamu seolah benalu di sini. Kamu wanita b******k tak tahu di untung." Caci maki itu hanya mampu ku simpan di dalam kepalaku tanpa bisa membalas rasa perih yang sekarang seolah menikam ku.
Aku menatap nanar kearah sosok yang selama ini kuanggap kakak yang menyayangiku. Jadi selama ini ia menginginkan kepergianku? Kenapa? Ingin ku suarakan semua resahku tapi seperti ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokanku. Aku tak mampu membalas setiap kata hinaan nya.
"Kamu tidak akan pernah tenang lagi di sini. Kamu sebaiknya mati saja." Lagi tangan itu ingin melayang kearah wajahku. Ku pejamkan mata mencoba menerima rasa sakitnya. Tapi rasa sakit itu tak kunjung datang.
Aku membuka mata mendapati mata hitam itu ada di sana, menghalau setiap serangan yang mengarah padaku. Bukan mata hitam dingin yang sekarang aku hadapi tapi lebih kepada mata hitam yang seolah berkata. Kamu benar-benar tidak waras.
Dera melepas tangannya yang di cekal dan dengan benci kesumat di matanya ia mencoba menampar lelaki yang sekarang tengah menepis tangan nya.
"Aku sungguh tidak menyukai wanita kasar." Andre berucap pelan. Bibirnya menyunggingkan senyum tapi senyum itu tak sampai matanya. Mata itu malah terkesan menakutkan.
"Siapa kamu? Orang asing yang mencoba membelanya?" Pertanyaan itu hanya mendapat senyuman geli.
Kali ini postur tubuh Andre terkesan santai, tangan nya dia masukkan kedalam saku jinsnya. "Aku bukan orang yang akan membela orang asing. Tapi Kurasa aku patut melindungi wanita milik kakakku. Aku tak suka dia terluka oleh orang lain selain kakakku." Entah aku harus senang atau malah merinding mendengar ucapan Andre tapi tetap saja itu ucapan yang tak akan aku sukai.
"Apa maksudmu?" Dera terlihat bingung tapi nada angkuh di suaranya belum juga reda. Aku tak tahu respon apa yang akan ia berikan kalau sampai dia tahu siapa lelaki yang ada di hadapannya ini. "Kurasa kamu belum tahu siapa kekasihku sampai kau berani berucap seperti itu." Nada mengancam Dera sarat terdengar.
"Aku akan suka mengetahui siapa lelaki itu?" Pertanyaan yang terkesan tak menginginkan jawaban itu membuat Dera semakin terlihat murka.
"Sialan. Lucas Abigail. Sekarang kamu patut takut." Dera menuding.
Aku menatap Andre yang terlihat menahan tawanya. Aku tak tahu seperti apa sifat Andre tapi kurasa tak akan jauh dari kakaknya sendiri.
"Beritahu Lucas Abigail, adiknya menantangnya untuk melindungimu. Kurasa aku akan suka dengan gagasan perang saudara." Andre mengangkat bahu seolah tak peduli walau Dera menunjukkan rasa kaget luar biasa.
"Kamu..."
"Kurasa aku sudah selesai disini." Andre memotong apapun kata yang akan keluar dari mulut Dera.
Dengan cepat Andre menyeretku berlalu dari sana dan aku hanya mampu mengikutinya tak bisa melawan juga saat sekarang hatiku tengah terguncang.
***
Matanya terpejam dengan terpaan angin sepoi yang cukup menyejukkan. Hari sudah sore dan berada di sini adalah hal yang tepat bagiku, entah bagaimana hatiku menjadi teramat damai sekarang. Meskipun ada perasaan kalau tak seharusnya aku bersama lelaki ini tapi aku tak bisa memungkiri kalau lelaki inilah yang menyelamatkan aku dari amukan kakakku.
"Menatapku seperti itu tak akan membuatku mau merebutmu dari kakakku. Sayangnya cinta selalu menjadi nomor dua di hatiku tapi selalu menjadi nomor satu pada kakakku." Dia berucap percaya diri tapi dengan mata yang masih saja terpejam.
"Kamu terlalu percaya diri." Aku mencibir.
"Percaya diri adalah julukan semua orang padaku." Masih dengan mata tertutup itu ia menimpali.
"Terimakasih." Akhirnya aku berucap. Kugigit bibir bawahku, terlalu takut kalau ia malah akan mengatakan sesuatu yang akan membuatku menyesal telah mengucapkan kata itu.
Dia tersenyum tipis. "Ya. Memang harusnya terimakasih." Suara terkesan penuh misteri tapi dia melanjutkan. "Untung saja aku yang ada di sana bukan Lucas."
Memangnya apa yang akan terjadi kalau itu Lucas? Kurasa aku terlalu pengecut untuk menyuarakan kata itu. Entah bagaimana ada bagian dalam diriku yang merasa tergelitik mendengar nama itu di sebut.
"Apa lukamu perlu di obati?" Aku mengangkat wajah melihat mata sekelam malam itu kini terbuka. Mata hitamnya membuat aku tertegun, dia sangat mirip.
Aku mengerjap saat sebuah tangan di ayunkan di depan wajahku. "Bukankah sudah kukatakan kalau aku tak tertarik merebutmu dari kakakku?" Nada gelinya membuat aku cemberut.
"Aku tak pernah ingin kamu melakukan itu." Jawabku marah. Tapi dia tertawa.
"Baiklah. Jadi bagaimana?"
Aku menatapnya bingung.
"Lukamu. Apa perlu di obati?" Aku ingat dia memang berucap begitu.
"Tidak. Ini tak apa." Jawabku yakin. Walau terasa perih tapi memang tak seburuk itu.
"Aku suka gagasan tak apa itu, tapi Lucas tidak akan suka. Dan kamu benar juga dia memang harus melihatnya sendiri."
"Kamu akan memberitahunya?" Ucapku kalap. Hingga nada suaraku meninggi.
"Wow.. Kamu menyakiti indra pendengaran ku." Andre menutup kupingnya seakan membenarkan kalau suaraku terlalu meninggi.
Aku menatapnya memohon. Entah bagaimana aku tahu kalau Lucas sampai tahu kejadian ini maka akhir sudah bagi keluargaku. Aku menyayangi mereka walau mereka tak terlalu menganggapku ada.
Andre tak menatapku malah sibuk memotret danau dengan ponselnya, aku tahu ia berpura-pura. "Andre, kamu mendengarku." Ucapku tegas.
"Aku tidak tuli hingga aku tak bisa mendengar." Nada geli itu lagi.
Aku memukul tanah dengan kakiku, kesal karena dia tak mau menanggapiku.
"Kurasa kamu harus pulang sendiri. Vio memintaku menjemputnya." Tanpa mendengar jawaban ku ia langsung berlalu meninggalkanku. Aku hanya mampu menatapnya dengan melongo.
***
Aku melihat pintu rumahku tak tertutup dan ada suara ribut-ribut dari dalam. Ku percepat langkahku hanya untuk melihat Mama dan Papaku sedang beradu argumen.
Kulihat Dera hanya terduduk lesu di sofa dan Mama yang terlihat ingin menangis.
Aku masuk dan menutup pintu, membuat semua mata tertuju kearah ku.
Mama mendekatiku dan langsung berlutut di depanku, membuat aku hanya mampu ikut berlutut di depannya.
"Mama minta maaf karena sudah tidak adil padamu. Maafkan mama kalau selama ini mengecewakan kamu. Tapi mama mohon jangan siksa anak mama. Jangan buat dia patah hati, biarkan ia bersama lelaki yang ia cintai." Aku menutup mulutku dengan tangan. Hancur sudah semuanya bahkan sekarang aku bukanlah siapa-siapa di sini. Hanya Dera anak mama, hanya Dera yang penting buatnya. Apa arti diriku selama ini?
Aku tak bisa lagi menahan tangisku, ku lihat Mama semakin menangis di depanku. Tangannya masih saja memohon agar anaknya mendapat kebahagiaan. Lantas aku? Tidak adakah yang mau peduli?
"Mama mohon. Pergilah!" Bagai jatuh dan di sambar petir rasanya. Ia memintaku pergi? Setelah selama ini hanya sampai di sini aku di butuhkan?
"DINA! Kamu sudah GILA." Papa berteriak murka.
"Ya. Aku memang gila tapi ini demi putri ku. Tidak ada yang boleh menyakitinya. Bahkan kamu juga tidak." Mama menuding papa, membuat papa terlihat tak habis pikir. Sekarang mama bangun, berjalan kembali kearah Papa.
"Dia anakku Dina, kamu tentu tak lupa itu." Papa terdengar marah. Dan aku seolah tahu akan kearah mana pembicaraan ini.
"Dia memang anakmu. Anak harammu, Mamanya merebutmu dariku dan sekarang anaknya ingin menghancurkan kebahagiaan putriku. Jelas aku tak akan terima itu." Ya. Itulah Mamaku. Selama ini dugaan ku benar, aku hanyalah anak haram. Aku tak pernah di inginkan.
"Jaga bicaramu." Suara Papa tertahan saat pintu di tendang dengan kasar. Aku menoleh, melihat sosok dingin yang tengah murka itu. Kulihat pintu itu masih utuh, dan aku heran karena pintu itu tak rusak saat di buka dengan kekuatan yang seolah mampu membuatmu tercengang.
"Suara kalian terlalu mengganggu." Nada dinginnya kini terkesan di penuhi amarah.
Lucas menghampiriku, mengangkat tubuhku yang terasa lemah dan di topang oleh tubuhnya agar aku bisa berdiri di sebelahnya. Aku sesenggukan tak bisa menahan airmata yang terus saja mengalir.
"Apa sakitnya di sini?" Aku mendongak menatapnya yang memegang pipiku. Aku tidak tahu apa maksudnya. "Atau di sebelah sini?" Lagi ia memindahkan tangannya kepipiku yang satu lagi.
Dan aku teringat Andre, pasti dia yang bercerita.
"Kukira kita sepakat Hendra." Dia memeluk tubuhku, cukup untuk membuat Dera mengeluarkan airmata dan juga membuat Mama tercengang.
"Aku kalah. Bawa dia." Papa berucap membuat aku menatapnya tak mengerti. Apa maksud nya kalah? Apa sebenarnya yang terjadi.
"Kamu tahu bukan hanya itu yang akan aku lakukan pada mereka. Bukankah sudah ku peringatkan padamu untuk menjaga anak bodohmu dan isterimu agar menjaga milikku?" Nada membunuh itu membuat aku semakin bingung.
Papa terlihat cemas. "Aku minta maaf tapi jangan melukai mereka." Papa menatap Lucas dengan tatapan sedih. Apa sebenarnya ini?
Aku ingin melepaskan diri dari Lucas tapi ia semakin kencang mendekap tubuhku, seolah ia tak peduli walau aku akan remuk.
"Maaf? Rasanya aku terlalu sering mendengar kata itu dari mulutmu. Anakmu melukainya, jangan kira aku akan melepaskannya begitu saja. Aku bukan orang yang akan melupakan musuhku." Kali ini aku tahu itu adalah hal yang mengerikan.
"Lucas.."
"Diam perempuan bodoh. Kamu pikir siapa dirimu hingga berani mendaratkan tangan kotormu di wajahnya?" Suara terkesiap itu entah terdengar dari mulut siapa. Tapi yang pasti bukannya merasa aman, aku malah merasa takut sekarang.
"Lepas!" Aku meronta menggeliat. Tapi tetap tak mampu berkutik.
Lucas berjalan membawaku pergi dari sana, tak peduli sama sekali dengan nada protesku.
"Papa! Papa! Tolong aku.." Aku terus beronta, kulihat Papa hanya menatapku dengan airmata. "Papa kumohon. Aku tidak mau ikut dengannya." Aku masih meminta bantuan tapi seolah mereka tak ada yang mendengar. Mereka hanya menatapku dengan tatapan yang berbeda.
***