Zahra memang sudah mengetahui affair suaminya, dia bahkan sudah tidak perduli lagi jika suaminya itu mau pulang atau tidak, ia juga tidak pernah lagi menghubungi suaminya itu.
Yang ia pikirkan adalah Zidan saat ini, dia lah penguat nya sekarang, Zahra sekarang ini masih bersikap biasa saja, bahkan minggu lalu suaminya mengatakan keluar kota ia hanya mengiyakan saja tanpa bertanya, entah iya atau tidak nya itu urusan Carlos.
Zidan sudah tidak seperti dulu yang selalu merengek dan meminta papa nya untuk pulang, tapi sesekali aku pernah memergokinya menangis sambil menatap pigura keluarga yang bahagia, aku pun juga ikut menangis, sedih rasanya melihat anak yang sekecil ini dipaksa harus menerima keadaan.
Carlos kembali namun hanya sebentar lalu ia pergi lagi "aku malam ini tidak pulang sayang, kantor memang sibuk akhir-akhir ini." Selalu alasan itu yang ia dengar hingga ia sudah hapal
" tidak masalah, toh kami sudah biasa tampa mu."balas Zahra seraya tersenyum manis.
"Hey jangan begitu cantik, setelah urusanku selesai aku akan mengajak mu dan Zidan jalan-jalan." Rayu nya.
"Tidak perlu papa, jangan berjanji lagi, janji itu adalah hutang dan setiap hutang harus dibayar, dan papa tidak pernah membayar janji itu. jangan berjanji lagi kalau papa tidak bisa menepatinya." Kata Zidan dengan pandangan masih menatap televisi
"Hey papa bukan nya tidak mau membayar janji papa ke kalian, tapi saat ini papa benar-benar sibuk."kata Carlos dengan lembut kearah zidan.
"Dulu papa juga sangat sibuk, tapi papa masih bisa pulang tepat waktu, kadang papa juga suka membawa pekerjaan papa kerumah tampa harus menginap ditempat lain, papa tau aku lebih baik hidup sederhana dari pada harus seperti ini, apa papa sibuk dengan tante Lisa sampai papa lupa pada ku dan juga mama."untuk pertama kali Zidan mengutarakan isi hatinya, anak itu bahkan tampa sadar berteriak.
PLAK
Sebuah suara tamparan menggema keseluruhan ruangan, Zahra kaget mendengar penuturan anak nya, bagai mana anak yang baru SD akan berbicara hal seperti itu dan lebih kaget nya lagi ia melihat sendiri perlakuan kasar suaminya kepada malaikat kecilnya itu.
"Papa capek berkerja agar kau bisa merasakan hidup nikmat." Bentak Carlos tampa sadar.
Zidan menatap papa nya dengan takut, ini pertama kalinya papanya berlaku seperti ini, seakan tersadar Carlos pun meminta maaf kepada zidan namun anak itu menghempas tangan Carlos kasar.
Zahra langsung memeluk Zidan seraya menatap Carlos dengan tajam "kau sudah puas, kau boleh pergi sekarang." Kata Zahra dengan datar.
"Sayang maaf kan papa.zahra." Panggil Carlos kepada anak dan istrinya. Carlos menjambak rambut nya kasar seraya mengumpat dirinya.
Carlos memutus kan untuk pergi, namun bukan untuk bermesraan dengan Lisa tapi ia ingin mengatakan sesuatu kepada wanita itu.
"Hey kenapa mukanya kusut begitu."ucap Lisa seraya mengelus wajah Carlos
"Aku ingin berbicara sesuatu pada mu Lisa."kata Carlos melemah
"Apa."tanya wanita itu, mereka pun duduk saling berhadapan
"Maaf jika kata-kata ku menyakitimu Lisa, tapi aku benar-benar sudah memikirkan nya, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi, aku mencintai Zahra begitu pun dengan anak ku Zidan, aku juga mencintai mu tapi ketahuilah, kita tidak mungkin bersama."jelas Carlos
Lisa kaget mendengar penuturan kekasih nya, bulir air mata mengalir di pipi "aku mau jadi istri simpanan mu mas, aku tidak apa-apa menjadi yang kedua, tidak diberikan apa-apapun juga tidak masalah agar kau selalu bersama ku."kata Lisa memohon.
"Maaf Lisa,kali ini benar-benar tidak bisa, aku begitu menyayangi keluargaku, kau pasti dapat lelaki yang bisa menerima mu Lisa tapi bukan aku, aku sudah memiliki keluarga" kata Carlos dengan mantap
"Terimakasih untuk semuanya, apa yang sudah aku beri padamu aku tidak akan mengambil nya, itu semua untuk mu, anggap saja sebagai balasan kebersamaan kita yang indah selama ini."Carlos mengecup kening Lisa lalu keluar dari apartemen itu.
"b******k, kau pikir aku p*****r mu, setelah kau pakai terus kau buang."teriak Lisa marah, namun Carlos tidak mengindah nya, ia takut akan luluh oleh tangisan wanita itu lagi.
Saat dirumah, Carlos merasa sepi, Zahra mau pun Zidan tidak lagi menganggap nya ada, bahkan Zidan sudah tidak ingin bermain dengan nya seperti dulu.
Begitu pun istrinya lebih memilih tidur bersama Zidan dari pada bersama nya.
Pagi hari nya, Zidan tengah bersiap-siap untuk melakukan lari pagi yang seperti biasa mereka lakukan jika hari libur.
"Ayo ma."ajak Zidan tak sabar seraya menarik tangan Zahra. Carlos mengikuti nya dari belakang.
Dan lagi-lagi ia harus menelan kecewa saat Zidan lebih memilih berjalan berdua bersama Zahra dari pada dengan nya.
Saat di lapangan mereka berpapasan dengan Bastian, dan seketika Zidan memanggil pria itu dengan riang "om Tiaaaan." Seru Zidan sembari memeluk Tian erat.
Bastian tertawa seraya membalas pelukan Zidan "wah om bersama Ayu."kata Zidan seraya menatap Ayu dengan tersenyum dan gadis itu pun membalas dengan senyum malu-malu genit.
"Hy calon suami nya Ayu."sapa Ayu dengan pedenya,
Zidan membalas dengan senyuman "kita masih kecil Ayu, belum boleh mengatakan calon suami."balas Zidan polos.
Bastian terkekeh geli "kena kan kau setan kecil, kau bahkan ditolak." Seketika sebuah sendal melayang ke kepala Tian.
"Bisa-bisa nya lo bikin anak gue malu."kata tiffany seraya melotot kearah Bastian
"Kamu lihat zahra, jangan percaya dengan nya, di tv itu dia pencitraan, aslinya dirumah bar-bar kaya induk singa."kata Tian kepada zahra.
Tiffany melotot "pantas kau jadi bujang tua, mana mau wanita dengan mu kalau mulut nggk bisa disaring tiap ngomong, diluar sok sok cool aslinya anak mami." Kata tiffany dengan jutek.
Zahra tertawa melihat keakraban kedua nya, sayang ia hanya anak tunggal.
Carlos yang melihat Zahra yang kian dekat dengan Bastian pun seketika kesal, ia langsung memeluk pinggang Zahra lalau mengecup pelipis istrinya, sedang kan Zidan ia gandeng dengan sangat kuat hingga anak nya tidak bisa melepas pegangan nya.
"Maaf kami harus pergi, permisi"pamit Carlos dengan wajah datar seraya membawa anak istrinya menuju rumah.
Saat dirumah Zidan menatap papa nya kesal, Zahra menghela nafas saat carlos berulang kali membujuk anak nya sembari mengucap kan kata maaf.
"Kamu keluar saja dulu, biar aku bicara dengan Zidan."kata Zahra dengan lembut, yah bagai mana pun Carlos masih suami nya yang harus ia hormati.
"Sayang maaf kan aku."kata Carlos penuh sesal, Zahra mengangguk dan tersenyum, ini lah yang ia suka dari Zahra yang selalu memaafkan nya walau pun kesalahan nya teramat sangat fatal, ia berjanji akan berubah demi rumah tangga nya. ia berjanji Tidak akan menyianyiakan lagi keluarga nya.
Dikamar Zidan tengah berbaring sambil menatap kosong kearah jendela samping tempat tidurnya.
"Sayang." Panggil Zahra dengan lembut
"Mama" balas Zidan sambil menduduki tubuh nya, zahra pun berjalan lalu duduk dipinggiran tempat tidur Zidan, ia membelai waja anak nya dengan sayang.
"Zidan tidak boleh begitu dengan papa, papa sudah meminta maaf kepada Zidan, biar bagai manapun papa tetap lah papa nya Zidan yang harus Zidan hormati, papa mungkin salah sudah bentak Zidan itu mungkin karena papa terlalu capek bekerja tampa lelah untuk kita, jadi Zidan harus maafin papa, yah. anak yang soleh itu anak yang senantiasa suka memaaf kan"kata Zahra mencoba menjelaskan dengan lembut
Zidan pun melirik kearah pintu dimana Carlos berdiri sambil memandang anak nya dengan sedih, Zidan pun turun dari ranjang nya seraya menghampiri Carlos. "Zidan sayang papa." Kata anaknya dan memeluk Carlos.
Hati Zahra menghangat, ia memutus kan untuk tidak memberi tau niat nya sekarang, ia masih sabar menunggu suami nya untuk berubah, ia tidak bisa egois, Zidan masih membutuhkan sosok ayah.
Hari demi hari Carlos tidak pernah lagi pulang larut seperti biasa, namun ia melihat ada keanehan dimata pria itu, seperti memikirkan sesuatu.
Walau pun dia sudah tidak seperti dulu tapi dia sibuk mengurung diri diruang kerja nya, Carlos mengajak nya bermain pun dengan halus ia menolak karena ia sibuk.
Zidan hanya mengangguk mengerti , itu terus berlanjut hingga sekarang.
Tak jarang Carlos termenung dan sesekali mengumpat.
Zahra tidak berani menanyakan apa yang sedang ia pikirkan.
Aku dan Zidan memutus kan untuk berjalan-jalan tampa mengajak Carlos, kami pergi ke mall dan membeli sesuatu yang disukai anak nya.
Senyuman Zidan tidak lepas dari bibir nya, ia sangat menikmati waktu berdua.
Saat di kafe mereka memesan makanan dan seseorang menepuk bahunya "intan." Panggil Zahra
Wanita yang menepuk nya tadi pun tersenyum "hay." Sapa nya
"Ini anak lo"tanya nya
"Iya anak gue, sayang beri salam sama tante Intan." Kata zahra pada anaknya
"Hallo tante nama aku Zidan, senang bertemu dengan tante." Kata Zidan seraya menunduk sopan.
"Keren nggk tuh anak gue, cuman satu aja yang kaya gini." Kata Zahra jenaka.
Zahra jika bersama temennya ia bisa bersikap santai dan apa adanya seperti ini, pembawan zahra dari dulu memang asik, disekolah pun banyak yang menyukainya, selain pintar dan cantik ia juga sempat menjadi ketua OSIS. Disekolah ia cukup ternama dan tidak terlalu banyak memilih teman dan juga sangat ramah.
"Ck anak gue juga pinter keles." Kata intan tak mau kalah.
"Dito, sini nak kenalan dong sama tante Zahra." Dan anak yang bernama Dito menghampiri mereka.
Ia menatap Zidan lama lalu ia melihat kearah Zahra.
"Saya Dito, salam kenal." Setelah mengatakan itu, anak itu langsung berlalu.
Intan dan zahra melongo melihat kecuekan Dito,namun Zidan menatap nya dengan lama
"Lo dulu ngidam tembok ya ntan, datar banget anak lo kaya spatula semen."seketika intan mengusap wajah zahra.
"Kira-kira lo, anak gue itu. Dia anak nya memang kelewat cuek dari lahir, turunan ayah nya." Zahra melihat kearah dimana Dito duduk, ia melihat pria yang duduk disebelah nya.
mereka saling menatap, pria itu mengangguk menyapa nya dan dibalas oleh Zahra dengan mengangguk juga.
"What sumpah Demi apa, jadi lo nikah sama keanu? Cowo yang super duper nyebelin itu."kata zahra kaget.
yah saat intan menikah Zahra tidak datang, selain ia mengikuti suami nya yang saat itu tengah merintis di kota seberang, pada saat itu kami tidak seperti sekarang, sudah banyak suka duka kami lalui hingga bisa dititik seperti sekarang ini.
"Yah mau gimana lagi, tu laki pada akhirnya kepincut juga ama gue, setelah sekian lama gue selalu ngejer dia." Zahra sangat tau bagai mana usaha sahabat nya ini mengejar keanu, Zahra dan Fajri sempat kesel melihat Intan mau menurunkan harga dirinya untuk pria tembok seperti keanu.
"Ngomong ama gue, lo berguru didukun mane."tanya Zahra sok serius, Zidan yang menyimak sedari tadi pun mengerut kening nya seraya berpikir
"Mama dukun itu apa."tanya Zidan, seketika tawa intan menyembur
"Mam tu dukun, makanya kalau ngomong lihat situasi, kena kan lo."kata Intan seraya menyuapi kentang ke mulut Zahra dan berlalu pergi.
"Aah bukan apa-apa Zidan salah denger, ayo makan lagi."elak Zahra
Setelah makan Intan mengajak nya untuk bergabung, Zahra cukup kaget melihat Zidan yang begitu akrab dengan Dito, Dito yang hanya beda satu tahun dengan ramah mengajak anak nya itu untuk bermain.
Sesekali Dito menyuapi es krim yang ia pesan tadi kearah Zidan.
"Uuuh romantis banget, ini harus diabadikan." Kata Intan, ia pun langsung memotret keduanya.
Zahra membiar kan anak nya bermain bersama Dito, ditempat permainan anak dan diawasi oleh keanu.
Sedang kan Intan besama zahra tengah sibuk duduk santai sambil menunggu keduanya selesai.
"Lo udah tau situasi kantor." Tanya intan.
"Nggk, carlos nggk bilang apa-apa." Kata Zahra
"Sekarang kantor sudah nggk seperti dulu lagi, Lisa jadi gosip terhangat saat ini di kantor dan lebih parah nya lagi perusahaan suami lo sudah diujung tanduk.
Zahra mengerut kening nya" lah kok bisa? gue bener nggak tau masalah itu." Kata Zahra kaget.
"Manajer keuangan sudah banyak menggelap kan dana dan sekarang pria botak itu masih dalam pencarian dan untuk lisa wanita itu sering kepergok sama OB sedang merayu suami lo sambil nangis-nangis gitu."kata Intan
"Lah, kan biasanya nya juga begitu."kata Zahra berusaha untuk tidak perduli, padahal hatinya sangat sakit.
"Nah itu dia masalah nya, suami lo selalu nolak ajakan Lisa, mereka juga jarang bersama, dan menurut gosip terpercaya gue, mereka sudah lama putus, terlihat dari Carlos selalu menolak kadang membentak ketika waktu wanita ular itu sudah kelewat batas mengganggu nya, emang nggk tau diri banget tu perempuan." Kata intan menggebu-gebu
Ia ingat beberapa hari ini Carlos selalu kurang tidur, ia sibuk berada diruang kerja, bahkan untuk makan saja pria itu selalu telat.
Tak lama Zidan pun datang dengan peluh yang sangat banyak, "Zidan capek ya." Kata zahra khawatir
"Iya ma, tapi seru." Kata Zidan dengan senang.
Tak lama Dito pun datang bersama keanu.
"Makasih om kak Dito, Zidan senang bisa bermain dengan om sama kak Dito ."kata Zidan sambil tersenyum.
"Tante intan beruntung banget punya kak Dito, kelak kak dito bakal jadi pria yang baik seperti om keanu, zidan merasakan itu." Kata Zidan seraya tersenyum.
"Zidan juga kalau besar bakal jadi pria yang baik dan juga tampan."kata intan seraya memeluk zidan
"Hahaha semoga saja begitu."kata Zidan dengan pelan.
"Zidan kapan-kapan kita main lagi ya."ajak Dito.
"Hmmm nggk bisa."kata Zidan sedih
"Kenapa"Dito bertanya dengan bingung
"Karena Zidan mau pergi."katanya dengan sedih
Keanu intan dan juga Dito menatap kearah Zahra, Zahra pun menatap mereka sambil menggeleng, seolah mengatakan tidak tau
"Pergi kemana sayang."tanya Zahra
"Rahasia, Zidan nggk boleh kasih tau, tapi tempat nya bagus banget ada sungai sama bunga-bunga cantik."jelas anak nya itu, kerutan dahi Zahra kian terlihat.
"Aku boleh ikut."tanya Dito.
"Nggk boleh." Kata Zidan seraya menggeleng dan muka Dito berubah jadi muram
"Nantik kalau kakak ikut tante intan sama om Keanu bakal sedih, mama sama papa juga bakal sedih tapi mereka bisa kuat, sedih mereka bakal terbayar kan dengan kebahagiaan."kata Zidan semakin tidak jelas.
"Zidan mau kemana ninggalin mama,kata Zahra sedih, anak nya tersenyum seraya menggeleng.
"Mama kita pulang yuk." Zahra pun mengiyakan ajakan anak nya, mereka pun berpamitan dengan intan dan keanu dan Dito
Dijalan Zidan sudah tertidur lelap, saat sampai dirumah Zahra dikagetkan dengan kedatangan bunda dan juga ayah nya, Zahra pun memeluk keduanya.
"Kenapa nggk bilang mau datang sih."tanya Zahra pada keduanya
"Yah takut ngerepotin kamu, Bunda mu selalu ngotot mau kesini."kata Ayah seraya melirik bunda
"Bunda kangen nak, beberapa hari ini bunda kepikiran kamu terus."kata Bunda memeluk nya dengan erat
"Uuh cucu opa kenapa, sakit ya."tanya ayah kepada Zidan
Bulir-bulir keringat sangat jelas terlihat di wajah kecil itu "nggk papa opa, zidan nggk sakit."kata zidan seraya tersenyum
"Tapi muka Zidan pucat, dan panas juga."kata ayah nya seraya menggedong Zidan kekamar nya.
Dengan cekatan ayah nya membuka seluruh baju zidan lalu mengelap tubuh anak nya yang terbaring diatas kasur dengan lemas, namun senyum itu masih terus terlihat diwajah punya nya.
Jantung Zahra berdetak sangat kencang "Zidan tidak apa-apa sebentar lagi sakit nya juga hilang." Kata anak nya seraya menenangkan ayah nya yang panik
"Uuh cucu opa sayang."kata sang ayah seraya membelai cucunya.
"Bunda tidur dikamar saja dulu biar Zidan ayah yang jaga."kata ayah nya seraya mengambil sebuah kitab suci al-qurna dalam tas nya.
Jantung Zahra kian berdetak kuat. Takut apa yang ia pikirkan sedari tadi bakal terjadi.
"Jangan menangis, lebih baik kau sholat."perintah ayahnya.
Zahra mengikuti perintah ayah nya, cukup lama ia berkutat dalam doa Carlos pun menghampirinya.
"Ada apa, mengapa tiap solat kau selalu menangis." Kata carlos seraya mengusap pipi istrinya.
"Tidak apa-apa, kau mandilah. Aku siap kan makanan."Carlos menuruti perintah Zahra.
Tak lama carlos turun seraya menyalami bunda dan ayah Zahra "kapan datang ayah bunda." Tanya carlos.
"Tadi sebelum magrib nak." Kata ayah
"kamu pulang malam." Tanya bunda kepada suaminya
"Iya bunda, ada masalah dikantor."kata suaminya seperti kelelahan, nampak raut kacau suaminya itu.
Sepertinya yang dikatakan intan benar, suaminya itu lagi ada masalah yang pelik dikantornya itu.
"Sesibuk-sibuknya dikantor, kamu juga harus menjaga kesehatan nak."kata bunda dengan lembut, Carlos tersenyum masam.
terlihat rau rasa bersalah diwajah tampan nya itu.
"Iya bunda."balas nya dengan lembut
"Ayah sama bunda sudah makan."tanya Carlos.
"Sudah, tadi. bersama Zahra."balas ayah nya
Carlos pun pamit untuk keruang makan, ia sangat lapar karena siang tadi tidak sempat makan, ia terlalu sibuk sendiri hingga kecolongan, menejer keuangan nya korupsi,kerugian tidak lah sedikit.
Beberapa orang yang ikut terlibat sudah diaman kan polisi, dan pria buncit botak itu sangat pandai bersembunyi.
Belum lagi ia selalu dipusingkan dengan rengekan Lisa setiap hari, membuat kepalanya mau pecah.
"Makan dulu habis itu istirahat, kerjanya dilanjutkan besok saja." Kata Zahra seraya duduk untuk menemani suaminya makan.
"Tidak bisa, ada banyak yang belum aku selesaikan."kata Carlos seraya menghembus nafas lelah.
"Jangan egois, tubuh mu juga membutuh kan istirahat."ujar zahra seraya membelai punggung tangan Carlos.
Carlos tersenyum hangat sembri mengangguk, istirahat sebentar mungkin tidak apa-apa pikirnya.
Setelah selsai makan Carlos hendak berjalan menuju kamar anak nya, namun dicegah oleh ayah.
"Jangan, biar kan dia istirahat, Zidan baru tidur setelah mengeluh sakit tadi."kata ayah zahra.
"Ah baik lah yah."
Carlos pun memilih undur diri kekamar nya.
Dikamar ia melihat Zahra sudah terlelap, saat ia makan tadi Zahra pamit untuk kekamar terlebih dulu karena mengantuk.
Melihat istrinya yang tertidur dengan baju yang sedikit tersingkap membuat nya harus menahan sesuatu dibagian bawah nya.
Carlos memeluk zahra dari belakang, ia sengaja semakin merapat agar zahra bisa merasakan nya.
"Mas aku sangat mengantuk." Zahra berkata seolah tau apa keinginan suaminya, entah kenapa ia merasa risih melihat suaminya yang seperti itu, jika ia tidak tau kelakuan suaminya selama ini mungkin ia akan senang hati menerima segala sentuhan itu, namun sekarang sudah berbeda.
Tubuh nya sudah tidak seperti dulu yang akan merespon setiap sentuhan suaminya itu, sekarang yang ia rasakan hanyalah ke tidak nyamanan.
Namun Zahra membiar kan suaminya itu tetap memeluk nya dari belakang walaupun sebagian dirinya ingin menolak.
Tbc