BAGIAN.6

3490 Kata
Carlos sangat kesal dengan Lisa yang terus merengek memintanya untuk kembali, saat ini ia tidak bisa, zidan masih butuh perhatian nya, ia tidak bisa egois memikirkan dirinya sendiri. "Menangis lah sesuka hati mu, saat ini anak ku membutuh kan ku." Kata Carlos kesal seraya menutup telfon dari Lisa. Setelah sekian lama, baru kali ini pertengkaran hebat nya dengan Lisa, ia sampai pusing harus menghadapi nya seperti apa. Saat ia menuju tempat tidur, ia melihat raut lelah dari wajah istri nya, betapa b***t nya dia membiarkan istrinya mengurus anak nya sendiri. padahal Zahra begitu membutuhkan nya saat itu, ia malah asik-asikan bermesraan bersama Lisa. "maaf kan aku, zahra. maaf kan aku." kat Carlos penuh sesal Keesokan harinya Zidan masuk kekamar Carlos dan Zahra, dia melihat orang tuanya tengah tidur sambil berpelukan, cahaya dari mata hari yang menyorot keduanya seakan tidak merasa terganggu. Zidan menaiki tempat tidur lalu mengecup pipi Carlos dan Zahra bergantian, hingga mata itu perlahan terbuka, seakan tersadar kalau diluar sudah sangat terang,seketika zahra duduk lalu berdiri dengan cepat, hingga ia terhuyung merasakan pusing. "Hey hati-hati sayang." Carlos menarik tangan Zahra seraya membawa istrinya untuk duduk. Zidan tertawa melihat wajah panik mamanya yang begitu lucu. "Ooh sayang maaf kan mama ya, kamu jadi telat sarapan gara-gara mama telat bangun ya."kata Zahra sedih. "Ma, aku tidak apa-apa, aku saja baru bangun."ucap Zidan dengan lembut. "Gimana hari ini kita sarapan diluar sambil olah raga."ajak Carlos dan anggukan semangat oleh Zidan. "Hore ayo pah."kata Zidan dengan semangat menarik tangan carlos. "Hey, sabar boy. Kamu harus mandi dulu begitu pun dengan papa" kata Carlos terkekeh. "Siap bos." Jawab Zidan seraya hormat ala tentara. Zidan pun keluar dari kamar orang tua nya tersebut, Carlos menatap istrinya dan tersenyum genit. "Mau mandi bersama mama." Seketika muka Zahra memerah, belum Zahra menjawab ia sudah diangkat ke gendongan suaminya, Zahra mengalungi tangan nya dileher carlos. Cukup lama mereka melakukan nya dikamar mandi hingga teriakan nikmat mengakhiri percintaan mereka. "Sekarang kita benar-benar mandi."kata Carlos terhengah. Dan mereka pun terkekeh bersama. "untuk sesaat biar kan aku menikmati kebahagian ini, sebelum semua nya, benar-benar berubah. Mereka berjalan mengitari lapangan didekat komplek, hari ini cukup ramai walau masih dalam keadaan hari kerja. "Pak carlos." Panggil seorang pria "Oh pak samuel."balas Carlos sopan seraya menjabat tangan nya. Saat ia melirik kearah Zahra mereka berdua pun sama-sama kaget. "Loh mas Tian."kata zahra. "Oh hai Zahra dan bocah tampan Zidan." sapa Bastian seraya mengacak rambut milik Zidan. "Hallo om Tian."sapa Zidan seraya tersenyum manis. "Seperti biasa, kau sangat manis."kata Tian sambil mencubit gemas pipi Zidan yang masih tersenyum. "Om juga sangat tampan, besar nantik Zidan mau seperti om yang tinggi dan juga tampan."kata Zidan dengan polos, entah kenapa Carlos tak suka mendengar perkataan anak nya itu Dia kan papanya harus nya zidan mengatakan itu untuknya. "Kau harus rajin olah raga agar bisa tinggi nak."ucap Tian lembut. "Tidak bisa."kata Zidan dengan waja murung. "Kenapa?" Tanya Tian lagi. "Kalau aku terlalu kecapean, disini akan berdetak sangat kuat dan sakit."jawab zidan sambil menunjukan d**a nya. Zahra sedih dengan penuturan anak nya itu. "mas Tian kenapa bisa ada disini." Tanya zahra seolah mengalih kan pertanyaan keduanya. "Ooh kebetulan saya sedang ada keperluan disini."jawab Bastian dengan tersenyum sopan. Carlos melihat interaksi keduanya seketika merasa kesal dan cemburu. "Maaf pak samuel,kami harus pergi."kata carlos seraya memeluk pinggang istrinya dan menggendong Zidan. Bastian hanya mengangguk dan tersenyum, sedangkan zahra menatap suaminya itu dengan bingung. "permisi mas Tian,salam juga sama tante Fitri." "iya, bakal saya sampai kan." Mereka sekarang tengah duduk disebuah cafe yang tak jauh dari lapangan tadi, zahra memperhatikan Zidan yang begitu lahap menyuapi sup cream kedalam mulutnya dengan sesekali zahra membersih kan bibir anak nya yang belepotan. "Kau kenal Bastian samuel zahra." Tanya carlos "Hmm iya, kami pernah tidak sengaja bertemu beberapa kali, dulu dia tetangga ku, namun kami tidak begitu dekat, dan juga ibunya adalah sahabat kecil bunda."jelas zahra, Carlos hanya mengangguk. "Kau bertemu dimana?"tanya carlos penasaran. "Di mall sekali dan juga di Restoran dekat rumah sakit Nusa indah dan dia bersama mama nya, jangan cemburu begitu, peria tampan memang banyak dan akan selalu ada, tapi ketahui lah hati ku sudah terkunci cuman untuk kamu, lagian sudah ada kamu yang baik dan mencintaiku dengan tulus, untuk apa cari yang lain lagi jika dirumah ada yang halal dan bisa aku peluk tampa takut dosa." Ucapan zahra memang biasa saja, namun sangat tepat sasaran mengenainya. Perkataan zahra berhasil membungkam Carlos, ia baru sadar jika dia sudah terlewat b******k, ingatan dulu saat masa-masa sulit nya, saat dimana ia meminang istrinya namun pada saat itu ia belum punya apa-apa, istrinya menerimanya tampa takut ia akan susah jika bersama nya, karena ketulusan zahra lah ia menjadi pria pekerja keras agar ia bisa menghidupi istrinya dengan layak, tapi sekarang setelah berjaya ia seakan lupa bagai mana perjuangan nya dulu bersama istrinya. ** Semenjak hari itu Carlos kembali seperti dulu, ia tidak lagi menemui Lisa, bahkan di kantor pun ia tidak mengindahkan wanita itu, Zidan perlahan mulai pulih dan bisa bersekolah seperti biasa. Hari-hari mereka lalui dengan bahagia, bahkan carlos mengajak anak istrinya untuk jalan-jalan, dua bulan mereka lalui dengan bahagia. Dikamar Zahra tengah berbaring dengan lengan carlos menjadi bantalnya, mereka saling bercerita dan sesekali carlos menjaili Zahra. "Sayang beberapa hari ini aku bermimpi sangat aneh." Kata Zahra "Oh ya? Mimpi apa." Balas carlos seraya membelai surai hitam milik zahra. "Aku bermimpi berada dipandang rumput yang begitu indah, disana banyak bunga yang sangat cantik, namun ada dua bunga yang begitu langka dengan warna yang berbeda dari warna yang lain, setelah itu aku memetik dua bunga itu dan aku berjalan menuju sungai, tiba-tiba aku terjatuh bunga yang ku pegang tadi hanyut, entah kenapa aku sangat sedih dan hati ku sangat sakit,tetapi aku mencoba ikhlaskan karena aku masih memiliki satu lagi yang indah, pas aku melihat setangkai bunga yang masih ditangan ku dan betapa terkejutnya aku melihat bunga itu sudah mati, dia begitu layu dan kering dan entah kenapa sakit nya berkali-kali lipat,aku menangis dan meraung, bangun-bangun eh malah aku nangis beneran." Cerita nya panjang lebar, Carlos menyimak saja . "Ooh itu bunga tidur sayang, jangan terlalu dipikirkan, ayo kita tidur, ini sudah larut malam." Ajak Carlos seraya menarik istrinya agar lebih merapat kedalam pelukan nya, namun Zahra masih belum puas akan jawaban carlos. Mereka pun tertidur, namun tiba-tiba deringan hp carlos seketika berbunyi nyaring, namun pria itu mengabaikan nya, tapi layar itu terus berkedip seraya terus bergetar hingga Carlos kesal dibuat nya. "Angkat saja sayang, siapa tau penting." Kata Zahra dengan suara serak Dengan kesal Carlos mengangkat telfon tersebut tampa melihat siapa yang menelfon "Hallo ada apa." Jawab carlos kesal Namun setelah itu pria itu langsung bangun dan menyambar kunci mobil nya, zahra bingung melihat suaminya yang begitu panik. "Ada apa sayang."tanya zahra "Aku harus pergi, kemungkinan aku akan pulang lama, ada masalah di kantor dan mungkin aku bakal menginap di apartemen untuk beberapa hari" kata Carlos seraya terburu-buru, ia bahkan tidak pamit seperti biasa yang selalu mengecup dan memeluk zahra sebelum pergi. Kini zahra berbaring sambil menatap langit-langit kamar, air mata nya mengalir,seketika. apa yang membuat mu begitu terburu-buru. Zahra merasa ada yang aneh pada suaminya. Zahra terisak begitu pilu, entah kenapa perasaan nya mengatakan bahwa suami nya itu berbohong. Sebuah tangan kecil memeluk nya dari belakang, "jangan menangis ada Zidan disini, mama. mama harus selalu bahagia."mendengar perkataan anak nya itu Zahra makin terisak, dengan sabar dan penuh kasih sayang Zidan membelai lengan mama nya. "Mama harus kuat." Kata itu yang terakhir ia dengar dari bibir anak nya, setelah itu ia tertidur dan disusul oleh Zidan setelahnyA. Sesuai dengan perkataan carlos pria itu pun tidak pulang bahkan sudah hampir seminggu, Zidan yang sudah terbiasa tampa kehadiran Carlos pun tidak menanyai papanya, ia hanya selalu mengatakan "mama lebih dari segala apapun, aku tidak butuh yang lain lagi selain mama yang selalu menemani ku hingga disisa hidup ku sekali pun." Ucap Zidan dengan polos Zahra tersenyum haru mendengar penuturan anak nya, mendengar perkataan Zidan, Zahra pun membenar kan anak nya dalam hati "yah dia tidak butuh apapun lagi selain anaknya, seandainya memang benar suami ku seperti apa yang aku pikirkan, itu biar lah jadi urusan tuhan, sekarang aku bahagia memiliki Zidan yang selalu menguat kan nya, ia tidak butuh apa-apa lagi." Zahra sudah memikirkan hal terburuk sekali pun. *** Sekarang zahra berada di gerbang sekolah Zidan, setiap pagi ia wajib mengantar anak nya, seperti sebuah keharusan. dulu carlos lah yang melakukan semuanya mengantar kadang menjemput, karena suaminya akhir-akhir ini menjadi super sibuk jadilah dia yang mengambil alih tugas Carlos. seperti biasa setiap ia ke sekolah Zidan, ia pasti bertemu dengan Bastian, pria tampan itu selalu bersama bocah kecil yang sering ia lihat tiap pagi jika keluar untuk olahraga bersama Zidan, kalau tidak salah namanya Ayudiah. Lucu juga, dengan wajah bule seperti itu tapi nama nya Ayudiah. Jadi nya agak gimana gitu. "Selamat pagi mama Zidan yang cantik." Sapa anak imut itu yang masih dalam gendongan Bastian. "Hallo juga Ayu yang cantik."sapa Zahra balik. "Hehehe makasih , aku memang sudah cantik dari lahir, itu uma loh yang bilang sendiri."kata Ayu dengan polos nya Bisa Zahra dengar decakan sebal dari bibir Bastian. "Setan kecil, lebih baik kau masuk kelas sana, dari pada omongan mu melantur kemana-mana." Kata Tian seraya menuruni Ayu. "Iiss om, ndak bisa liat orang seneng aja, Ayu kan lagi ngobrol sama calon mertua."kata Ayu dengan kesal melihat kearah Tian yang melongo mendengar perkataan ponakan nya. Sedang kan zahra sudah tertawa geli mendengar celetuk polos dari Ayu "ck kaya ngerti aja, sok sok bilang calon mertua, belajar dulu yang bener." Kata Tian sambil mengusap waja Ayu. Gadis itu terkekeh "ya sudah, dari pada om naik darah karena terlalu lama ngeliat aku yang cantik, mending aku masuk dulu. Bye om, by calon mertua eeh mama Zidan." Ralat nya. Zahra terkekeh melihat tingkah lucu Ayu yang suka seenaknya. "Maaf kan dia, Ayu memang anak nya suka nyablak begitu,seperti mama nya."kata Tian . yah zahra pernah beberapa kali bertemu dengan orang tua Ayu, pertama kali bertemu ia kira ibunya Ayu adalah istri Tian, ternyata bukan, dia kembaran Tian. Wajah Tian dan tiffany memang seperti bule, zahra denger dari cerita bunda nya, mama nya bastian pernah menikah dengan orang kebangsaan jerman, jadi tidak heran jika wajah keduanya lebih mirip wajah asing dari pada wajah pribumi asli. Dan suami ibu Fitri yang sekarang pun juga seorang warga asing, pria asal turki yang sudah lama bekerja di indonesia dan sekarang sangat sukes , ia memiliki beberapa supermarket berlogokan halal dibeberapa tempat di asia, bahkan ia juga memiliki beberapa hotel dan restoran di berbagai tempat, terkahir yang ia dengar suami ibu Fitri juga mendapatkan penghargaan sebagai pria tersukses seluruh asia diusia yang tidak lagi muda.Dan entah berapa banyak kekayaan yang pria itu miliki yang semua orang tidak tau. Tapi walau pun begitu ibu Fitri tetap rendah hati, pakaian nya saja tidak seperti ibu sosialita kebanyakan, dia sosok wanita yang tidak suka berlebih-lebihan. Dan lebih salut nya lagi keluarga ibu Fitri sangat lah religius, seperti tiffany yang sekarang mendapat gelar ustadzah dan suka membagikan dakwah nya diberbagai tempat dan nama nya juga cukup terkenal dikalangan selebritis, dia di juluki ustadzah bule karena wajah nya sangat mirip orang eropa dengan mata biru alaminya. Zahra sangat salut dengan ibu Fitri yang membesar kan anak nya sangat baik, ibu Fitri seperti panutan buat nya, kelak ia akan seperti ibu Fitri yang bisa membesar kan zidan dengan baik dan menjadi pria yang beragama baik tentunya. "Tidak apa-apa pak, Ayu sangat lucu dan menggemas kan." Kata Zahra dengan tersenyum manis. "Aku selalu melihat kau yang mengantar Ayu, orang tua nya kemana." Tanya Zahra setelah cukup lama mereka terdiam dengan keadaan canggung. "Iyah, mama nya Ayu tengah hamil besar dan tidak mungkin aku membiar kan mommy yang mengantar Ayu, sedang kan papa nya sedang ada urusan diluar negeri, jadi lah aku yang mengantar nya."jelas Tian. Zahra mengangguk-angguk. "Hmm mau minum bersama ku, kita tidak pernah berkenalan secara langsung, itu pun jika kau mau."ajak Tian. "Boleh, di kafe depan saja."balas Zahra dan dianggukan setuju oleh Tian. "Tante Fitri sehat? Aku tidak pernah bertemu dengan beliau lagi semenjak di restoran dulu."tanya zahra seraya menyeruput minuman nya. "Iya akhir-akhir ini mommy memang sering sakit, jadi harus banyak istirahat." Zahra mengangguk menanggapi ucap Bastian. "Lalu ada apa dengan Zidan, aku setiap memperhatikan nya, seperti nya dia tidak sehat."kini giliran Bastian yang bertanya, "kenapa harus orang lain yang lebih peka dengan keadaan anak nya dari pada suaminya sendiri."kata zahra membatin. "Iya. ia memiliki gejala kanker lambung, semenjak beberapa bulan ini di kemoterapi, kondisi nya sedikit membaik." "Aku turut prihatin, sayang sekali, padahal zidan anak yang manis dan. Juga sangat ramah."kata Tian, ia juga bisa merasakan kesedihan yang dipancarkan oleh wanita didepan nya itu. "Terimakasih." Mereka mengobrol cukup lama, Bastian merasa tertarik dengan Zahra, karena wanita itu sangat lah asik dan juga ramah, senyuman nya yang manis mengingat kan nya kepada seseorang yang sudah lama pergi dari hidupnya. Dalam diam Bastian beberapa kali meyakinkan dirinya bahwa wanita yang dihadapan nya itu bukan lah dia yang kini sudah tenang disana. **** Sudah beberapa bulan ini Carlos tidak pernah tidur dirumah, ia hanya pulang sebentar lalu pergi lagi, selalu saja begitu, tak jarang saat suaminya itu mengacuh kan istri dan anak nya jika ia bertanya apa pria itu akan pulang atau tidak. Beberapa hari yang lalu Zahra mencoba menghubungi teman nya yang bekerja perusahaan Carlos, ia memang jarang bertukar kabar mengingat kesibukan nya mengurusi zidan dan juga wanita itu juga sibuk dengan karir dan keluarga nya. Dan informasi yang ia dapat kan membuat nya tertegun " sorry ra, dari dulu gue pengen ngehubungin lo, karena terlalu sibuk hingga penyakit lupa suka timbul mendadak, gue pernah lihat pak bos dengan sekretarisnya masuk kesalah satu apartemen yang deket kantor, terus beberapa karyawan juga suka mergokin suami lo sedang jalan-jalan berdua dengan tu cewe." Jelas Intan, jantung Zahra berdetak tak karuan mendengar kabar yang ia dapat kan. "Sebenar ada lagi ra." Kata Intan dengan ragu. "Kenapa?" Tanya Zahra dengan suara sedikit bergetar. "Lo masih ingat teman sekelas kita dulu, si Irfan yang kuliah USA." Kata Intan "Irfan si tiang listrik itu?" tanya Zahra tampa dosa, seketika tawa Intan tersembur, mendengar celetuk Zahra dengan polos "Yeah, dia pernah nanya ke gue, dia tanya apa lo masih sama suami lo dan gue jawab masih, terus dia kirim beberapa foto yang menurut gue, mm gimana ya jelasin nya." Kata Intan ragu. "Kirim fotonya sekarang."kata Zahra dengan tegas "Ok, tapi gue harap apa pun itu permasalahannya lo tetap tanya baik-baik. ingat, ada zidan yang akan terluka jika tau orang tuanya berantam."ujar Intan Dan panggilan itu pun selesai, lima menit kemudian muncul sebuah notif w******p pertanda dari Intan, saat ia membuka nya seketika tulang nya melemah, Zahra terduduk dipinggiran kasur. Intan menelfon nya lagi "hallo" jawab zahra begitu lirih. "Zahrah Irfan pernah mengatakan kalau dia sempat mengikuti Carlos hingga ke hotel, yang dimana hotel itu milik paman nya,jadi dia memiliki akses untuk masuk dan betapa terkejut nya dia melihat carlos dan Lisa memasuki ruangan yang sama, Irfan juga beberapa kali melihat mereka berjalan layak nya sepasang kekasih, Irfan ingin bilang langsung ke elo tapi dia nggk enak dan ragu, takut lo nggk percaya.sebagai teman cuman itu yang dapat ia lakukan buat lo, dan dia bilang anggap sebagai balas budi karna lo sudah mau membantu nya saat tertimpa masalah Dulu, dan dia berharap lo lebih memikirkan mulai dari sekarang langkah apa yang harus lo pilih, dan semuanya ada ditangan lo sekarang."jelas Intan. Irfan Trinanda pria itu memang selalu baik padanya dan beberapa kali membantunya saat sekolah, ia dan zahra terbilang cukup dekat atau bisa dibilang sahabatan, tapi mereka murni hanya bersahabat tampa melibatkan perasaan yang lebih, mereka mulai renggang semenjak kekasih pria itu melabrak nya karena cemburu, perlahan hubungan kedua nya mulai renggang, hingga lulus kuliah, zahra yang dipinang oleh carlos sedang Irfan mulai melanjut kan pendidikan nya diluar negeri. Ingat dimana dulu irfan difitnah mengatakan memperkosa seorang wanita dan semua orang membully nya, saat irfan disidang di kantor kepala sekolah, zahra yang menawarkan diri untuk membantu irfan, zahra bertanya hari apa tanggal berapa pada jam berapa kejadian itu terjadi, zahra bahkan bertanya sangat detail. " pada waktu itu ia masih bersama ku, bahkan ia masih dirumah ku hingga larut malam, karena kami mengerjakan tugas kelompok bersama, kalau tidak percaya kau bisa menanya kan orang tua ku dan juga intan teman satu kelas dan satu kelompok kami, bagai mana ia bisa memperkosa mu jika, pada hari itu ia masih dirumah ku hingga malam, bahkan hari itu kami tidak keluar sama sekali."jelas zahra pada semuanya yang berada diruang tersebut. Seketika gadis itu tergagap hingga dengan desakan zahra, wanita itu mengakui kesalahan nya, ia marah karena Irfan menolak nya hingga ia berani berbuat nekat seperti itu. Seakan tersadar kalau ia masih dalam panggilan,zahra pun memanggil teman nya itu "Hallo Intan."panggil Zahra "Ya" jawab Intan diseberang sana "Ucapkan terimakasih banyak kepada Irfan ya, jika dia pulang, suruh ia mengabari ku." Kata Zahra "Akan aku sampai kan." Dan sambungan itu benar-benar terputus. Semalaman zahra menangis lagi dan seperti biasa Zidan selalu menemani dan memeluk nya sembari mengucap kata-kata agar dirinya kuat. "Entah apa yang membuat mu melukai ku seperti ini Carlos." Gumam Zahra begitu lirih. Ia hancur, rumah tangganya juga hancur, apa ini arti dari mimpinya, setelah sekian lama dan mimpi itu selalu muncul setiap ia tertidur akhir-akhir ini. **** Sekarang Zahra bertekad ingin mengunjungi mertuanya, sekalian mengajak anak nya untuk jalan-jalan karena sekarang hari libur. "Assalamualaikum eyang." Salam Zidan seraya mencium punggung tangan kakek nya. "Waah cucu eyang udah gede, eyang nggk bisa gendong lagi karena cucu eyang sudah makin besar." Kata papa herman seraya mengelus rambut coklat milik Zidan. "Tidak apa-apa eyang, lagian Zidan juga udah besar, malu kalo masih digendong."kata Zidan sambil tersenyum manis. "Uuu manis nya." Kata herman seraya mengecup pelipis Zidan dengan sayang. "Sudah ayo makan tadi nana sudah membuat sup kesukaan zidan." Zidan pun bersorak riang. "Suami mu kenapa nggk ikut nak."tanya mama Minah pada zahra. "Sibuk kerja ma, akhir-akhir ini carlos memang suka keluar kota."kata zahra seraya tersenyum kearah papa mertua nya. "Uuu kerja apa sampai nggk ingat orang tua nya, anak itu sesekali harus diberi pelajaran." Ucap herman kesal, zahra hanya menanggapi dengan tersenyum saja. Zidan sangat senang bisa bermain bersama kakek nya, bahkan herman mengajak cucu nya ke kolam ikan yang berada dibelakang rumah, Zidan sangat senang. Sedang kan zahra sibuk membantu mertuanya membuat kueh. Saat hari beranjak sore zahra memutuskan untuk mengatakan niat nya datang kesini. "Zidan main sama mbak sum dulu ya sayang, mama mau ngobrol sama eyang kangkung sama nana." Anak itu mengangguk seraya mengikuti mbak sum menuju taman. "Begini ma pa, zahra kemari ingin menyampai kan sesuatu, ini mungkin kabar buruk."kata zahra dengan ragu. "Ada apa sayang, kata kan lah." Kata herman dengan serius. "Begini pa ma, zahra meminta izin kepada mama dan papa untuk berpisah dengan Carlos." Bisa ia lihat mata tua dari keduanya membulat. "Ada apa nak, apa Carlos menyakiti mu, biar papa hajar dia kalau memang sudah berlaku kasar pada mu."kata herman dengan tegas, bisa ia lihat raut kemarahan dari wajah papa mertuanya itu. "Tidak, bukan begitu pa, Carlos pria yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarga nya, dia bahkan tidak pernah menyakiti fisika ku, ia sangat menghormati ku sebagai istri dan sebagai ibu dari putra nya, ada satu hal yang tak bisa aku cerita kan, tapi kami, terutama Zahra akan berusaha untuk menjadi orang tua yang baik walau pun tidak lagi bersama Carlos, makanya Zahra meminta izin kepada mama dan papa agar tidak begitu kaget saat mendengar kabar ini nanti nya."kata zahra seraya menunduk. "Zidan sakit." Kata zahra lagi. Ia menatap dua orang itu dengan mata yang berlinang. "Zidan memiliki kangker lambung dan beberapa bulan ini aku selalu membawa nya untuk kemoterapi dan Alhamdulillah nya, sedikit demi sedikit agak membaik. maaf zahra tidak memberi tahu papa dan juga mama, karena pada saat itu zahra panik jadi lupa untuk menghubungi , ayah sama bunda juga tidak tau perihal ini. Zahra mau pun carlos memang tidak pernah ribut, namun akhir-akhir ini hubungan kami semakin berjarak, Zahra kasian melihat Zidan yang akan terkena imbas nya jika Zahra terus memaksa untuk bertahan." Jelas zahra lagi. "Apa Carlos menyetujui niat mu ini nak."tanya mama Minah. Zahra menggeleng lemah "dia belum tau ma, tapi untuk sekarang jangan beritahu Carlos dulu, tunggu sampai ia waktu nya, zahra akan mengutarakan niat Zahra kepada Carlos jika waktu nya tepat."kata Zahra dengan air mata yang sudah mengalir deras. "Jika itu keputusan kalian, kami sebagai orang tua bisa apa, tapi kami juga berharap untuk kebaikan kalian berdua."kata papa dengan lembut, mama minah sudah terisak sedari tadi disebelah suaminya. "Mama jangan sedih, kami akan selalu selalu berkunjung kesini jika mama rindu dengan Zidan atau dengan ku."Minah mengangguk sambil memeluk menantu nya dengan erat. Zahra tidak bisa terlalu lama dikampung halaman suaminya, karena Zidan harus bersekolah. Zahra kini sudah kembali kerumahnya, anak nya sudah tertidur sedari tadi karena kelelahan, ia mengingat kejadian saat dirumah mertua nya tadi dan sesekali menghembus nafas panjang "aku berharap keputusan, sudah benar." tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN