Sudah dua minggu lebih Carlos dan juga Lisa berada diluar negri membuat kedua nya merasa sedih, pasal nya mereka akan berpisah.
"yaa, kita harus pisa sampe disini dong mas." kata Lisa dengan nada manja.
Carlos mencium puncak kepala kekasihnya itu lalu kecupan itu turun menuju bibir mungil Lisa.
"kita masih bisa bertemu dikantor dan juga Apartemen, sayang " seketika kedua nya terkekeh, seolah isi kepala kedua nya tengah mengancang sesuatu yang nakal dan juga nikmat tentu nya.
mereka kembali berciuman begitu mesra, tanpa tau dimana mereka sekarang.
dari kejauhan Carlos bisa melihat istri dan anak nya, tengah celingukan mencari keberadaan nya.
"maaf sayang, aku harus pergi."
carlos pun menghampiri istri dan anak nya itu.
dibandara zahra tengah tersenyum menatap suaminya sedangkan zidan tengah berlari menghampiri ayahnya.
"Papa pulang." Teriak zidan begitu riang, zahra tersenyum senang melihat keceriaan anak nya.
Carlos menangkap tubuh mungil zidan lalu membawa kegendongan nya.
"Kenapa lama sekali sih." Bisik zidan lirih.
Carlos terkekeh lalu mengecup dahi zidan
"papa kerja sayang." Ia memang tidak bohong bilang berkerja bukan? yang pasti nya dengan bonus mengerjai sekretaris nikmat nya itu.
"Ayo kita pulang." Ajak zidan.
"Ayo."
"Apa kabar cantik."tanya nya pada Zahra, zahra tersenyum manis mendengar panggilan Carlos untuk nya.
"Sangat baik, setelah melihat mu pulang dalam keadaan sehat. doa ku begitu tulus itu, membuat nya tertegun.
terbesit rasa bersalah dihati nya.
Carloz menghampiri istrinya,saat ia hendak memeluk dan juga mencium Zahra, dengan halus Zahra menolak dengan alasan kebelet.
Dibelakang Lisa menatap dengan iri sekaligus cemburu, memang begini lah resikonya menjadi simpanan bos, ia harus rela melihat kemesraan bosnya dengam istrinya itu, belum lagi Zidan yang berada ditengah-tengah mereka yang membuat tampak seperti keluarga bahagia.
saat masuk menuju toilet, Zahra melihat Lisa tengah memperbaiki dandan nya.
"Hey Lisa,apa sangat menyenangkan diluar negri itu."tanya Zahra dengan akrab dan nada biasa.
"Iya buk, sangat menyenang kan. Makanan disana sangat enak dan juga lezat." Kata lisa penuh makna seraya tersenyum penuh kepuasan.
Zahra mengangguk tersenyum menanggapi ucapan Lisa.
"Seperinya sangat menyenang kan ya." Kata Zahra seraya tersenyum.
mereka pun keluar bersama, berjalan menghampiri Carlos dan Zidan yang sedang munggu Zahra.
Carlos melihat istri dan selingkuhan nya berjalan bersama pun terlihat sedikit panik, padahal Zahra menanggapi perkataan Lisa dengan raut biasa saja, bahakan sesekali mereka tertawa.
Carlos segera menarik Zahra pelukan nya.
"Sayang kita pulang, pak budi sudah datang." Ajak carlos kearah istrinya.
"Saya duluan Lisa, maaf tidak bisa mengantar dan sampai bertemu besok dikantor."kata Carlos diam-diam menggenggam tangan Lisa seraya mengelus nya sebentar lalu pergi tampa menoleh lagi.
disana Lisa tersenyum senang, ia tidak sabar menunggu hari esok.
***
Makin hari Carlos makin berubah, dulu ia tidak pernah telat pulang kini pria itu selalu pulang sangat larut, kadang Carlos juga tidak pulang kerumah dan lebih suka berada diapartemen dengan alasan "disana lebih dekat dari kantor. Beberapa hari ini kantor sangat sibuk."ujar Carlos dengan nada memalas.
Zahra percaya saja dengan ucapan suaminya, lain Dengan anak nya itu,Zidan selalu protes jika papa nya selalu pulang telat, ia sudah terbiasa sebelum makan malam Zidan pasti bermain dengan Carlos terlebih dahulu.
Zidan begitu merasa kehilangan, sosok ayah yang selalu ada untuk nya dikala ia merasa sepi.
Seperti sekarang ini anak nya itu kini berbaring dikamarnya dari sore tadi, dengan tubuh membelakangi pintu.
Zahra menghampir Zidan dengan jalan begitu pelan, saat Zahra membalikan tubuh anak nya, betapa kaget nya ia melihat anak nya kini tengah berkeringat dan juga bibir sedikit membiru, belum lagi nafas nya tidak teratur.
Dengan sigap zahra menggendong zidan lalu membawa anak nya menuju mobil milik nya.
Ia mencoba menyetir setenang mungkin, walau pun perasaan nya tidak menentu namun ia tetap harus fokus.
Beda hal dengan Carlos tengah asik b******u dengan kekasih nya itu,tak ia hirau kan panggilan dari istrinya.
Air mata zahra mengalir disaat seperti ini ia sangat butuh dukungan seorang suami.
"Sabar ya sayang, kita hampir sampai."ucap zahra ke anaknya yang terbaring lemah dijok belakang.
Tak lama mereka pun sampai, dokter seketika dengan cekataan memeriksa kondisi anaknya.
"Begini bu zahra, kangker lambung yang diderita Zidan kini mulai menyebar."kata dokter thea.
"terus bagaimana dok?" kata Zahra dengan suara bergetar karena panik.
"kita harus lakukan hasil setelah kemoterapi tersebut, namun ia akan berusaha untuk kesembuhan anak nya.
****
Zahra tengah menemani anak nya dengan sabar, Zidan hanya diam dan menurut saja, itu yang membuat nya tidak tega.
lebih baik anak menangis berteriak dari pada melihat anak nya harus menahan semua rasa sakit nya itu.
Ia sudah menelfon Carlos berulang kali namun tidak ada juga jawaban, jadilah ia harus menunggui anak nya sendiri.
Zahra sudah tidak karuan lagi. Ia sangat berantakan sekarang, sayup terdengar suara Adzana berkumandan, pertanda subuh telah tiba.
Zahra turun berjalan menuju mushola, awal nya ia ragu, namun hati begitu kuat mendorong nya untuk masuk.
Zahra mulai mengambil wudhu dan berjalan menuju ruang sholat, untuk pertama kali nya setelah menikah ia tidak pernah lagi memegang mukena dan juga sejadah.
Dalam sholat ia selalu merutuki dirinya sediri "betapa celakanya hamba yang mengingat mu disaat dalam keadaan terjepit seprti ini."
ucap Zahra sambil terisak pilu
"Demi jiwa dan ruh yang berada ditangan mu, maaf kan hamba yang sudah melupa kan mu ya allah. Kau yang mencipta setiap insan dan aku tau semua pasti mendapat kan kematian, namun untuk kali ini hamba mohon dengan sangat, jaga anak hamba yang terbaring dalam jiwa yang berperang menghadapi mautnya, biar kan hamba melihat nya lebih lama ya allah, beri hamba kesempatan untuk menjaga titipan mu lebih lama lagi, sebelum ajal yang dijanjikan benar-benar datang menghapiri."doa nya dengan setulus hati.
Zahra terisak perih, entah kemana suaminya saat ia membuntuh kan, pekerjaan apa sehingga ia melupakan rumah nya sendiri.
"Jika dia memang bekerja dengan niat yang baik tolong jaga lah dia, jika tidak, tolong tunjukan kebesaran mu ya allah, pria seperti apa yang aku pilih yang sekarang menjadi imam ku." Kata-kata itu meluncur saja dibibir Zahra
Setiap ia berusaha untuk percaya, namun hati berkata sebaliknya.
Zahra kini sudah kembali ketempat nya semula dan tak lama pintu ruang operasi terbuka mendapatkan dokter keluar dari sana.
"Bagaimana keadaan anak saya dok." Tanya zahra penuh harap.
"Puji tuhan semua berjalan dengan lancar, namun sekarang keadaan anak anda masih lemah, sekarang ia masih tidur akibat pengaruh obat bius dan sebentar lagi akan sadar." Jelas dokter thea kepada zahra yang sedang menghela nafas nya lega.
"Alhamdulillah ya allah, kau mendengar doa ku." Ucap zahra begitu senang.
" mari saya antarkan keruangan rawat inap." Mereka pun berjalan beriringan dengan dokter menjelaskan beberapa hal tentang penyakit anak nya itu.
Diruangan beberapa suster mendorong tempat tidur zidan.
"Permisi ibu, silahkan ambil obat nya ya, tiga obat ini diminum tiga kali sehari ya buk dan satu obat ini diminum jika waktu sakit saja, dan sebentar lagi anak anda akan sadar dari pengaruh bius." Jelas suster itu dengan sangat ramah.
"Terimakasih sus." Ucap zahra begitu tulus.
"Sama-sama ibu, kalau begitu saya permisi dulu ya buk." Pamit suster tersebut dan tinggal lah zahra bersama zidan diruangan ini.
Ia melihat anak nya yang tertidur begitu tampan.
Ia sudah berniat tidak akan meninggal kan lagi sholat nya.
Sedangkan Carlos tengah sibuk menjaili kekasih nya dengan mesra.
"Sayang kamu disini aja, kan istri kamu juga tau kalau kamu sibuk dikantor." Rayu Lisa dengan manja, wanita itu tengah duduk dipangkuan Carlos.
"Iya sayang, apapun buat kamu."kata carlos seraya mengecup bibir Lisa.
Lisa terkekeh senang, Carlos nya sangat menyayanginya dan lebih mengutamakan keinginan nya.
"Tidak apa-apa menjadi yang kedua asal diperlakukan sebagai yang pertama." Kata nya dalam hati.
Mereka kembali b******u, seolah tampa lelah dan bosan. Seks adalah hal yang wajib mereka lakukan setiap harinya, berdua dalam satu ruangan membuat nafsu keduanya selalu mengebu.
Carlos tidak tau jika hukuman nya tengah berjalan menghampirinya, hukuman yang akan ia kenang seumur hidup nya begitu pula dengan Lisa. setiap insan tidak ada yang tau rencana tuhan.
Menyakiti hati orang lain itu berati menyakiti diri sendiri, mereka sendiri lah yang telah memillih cambuk sebagai hukaman hidup atas kesalahan yang mereka lakukan.
Cambuk itu memang tidak mengenai tubuh kita, namun cambukan itu akan terasa saat mereka sadar atas kesalah yang selama ini mereka lakukan.
Cambukan itu akan terasa sakit tepat mengani ulu hati, lukanya akan selalu terasa samapi seumur hidup.
***
Tepat seminggu Carlos diapertemen nya bersama Lisa, hp sengaja tak ia hidup kan agar tidak ada yang menganggu nya bersama Lisa.
Zahra dan Zidan kini sudah berada dirumah, saat pulang pun ia tidak melihat keberadaan suaminya.
Ia hanya menghela nafas.
Zidan sedari tadi hanya diam "kenapa sayang." Tanya Zahra
Zidan pun tersenyum manis "nggk papa." Jawab Zidan seraya tersenyum.
***
Carlos kini membujuk kekasihnya yang tengah merajuk "tolong mengerti lah Lisa, aku masih mempunyai tanggung jawabku dirumah, aku masih memiliki istri dan anak."kata Carlos sedikit mendesah lemah.
"Ck kenapa tidak kau ceraikan saja dia."kata Lisa dengan marah. Tubuh Carlos tersentak
"Aku tidak bisa menceraikan istri ku Lisa,aku mencitai nya, aku pergi."kata carlos dengan datar, seketika Lisa menyesali perkataan nya.
"Maaf sayang, sayaang. Tunggu." Teriak Lisa sambil terisak, namun Carlos tidak mengidah kan nya.
Carlos pulang dengan keadaan rumah begitu sepi, entah kemana anak dan istrinya itu.
"Zahra."panggil Carlos, namun tidak ada jawaban. Carlos pun membuka kamar anak nya dan ia melihat zahra tengah tertidur dengan Zidan, mereka saling berpelukan.
Melihat pandangan itu ia tersenyum, ia mengecupi kedua nya dan lalu pergi untuk membersihkan diri.
Dikamar mandi ia tengah menatap dirinya sendiri, ia sadar dengan apa ia lakukan itu salah, namun hati terlanjur mencintai wanita lain dan ia juga tidak bisa meninggal kan zahra. Karena wanita itu juga sangat penting dalam hidup nya.
Carlos tau ia begitu egois dan serakah menginginkan keduanya, ia harus tegas memilih jika tidak ingin menyesal akhir nya.
Saat selesai membersihkan diri Carlos pun turun, ia berjalan menuju dapur dan melihat istrinya tengah sibuk memasak untuk makan siang.
Zahra melihat kearah suara hentak kaki, ia tersenyum kearah suami nya "sudah siang, makan lah, kau tak apa-apa kan makan sendiri, aku harus kekamar Zidan untuk menyapi nya makan."kata zahra dengan lembut.
"Zidan kenapa." Tanya Carlos.
"Ia sakit, nantik aku beri tau pada mu, saat ini ia sudah lapar ingin makan,kamu juga makan lah."kata zahra.
Carlos mengangguk dan menatap punggung zahra dalam diam.
Dikamar, Zidan tengah berbaring sambri menatap bintang yang tertempel cantik di langit-langit kamar.
"Sayang makan dulu ya."Zidan pun menoleh ke arah Zahra ya membawa napan.
"Mama pasti capek."kata Zidan lemah.
"Tidak sayang, mama tidak capek. Zidan makan ya."Zidan pun mangangguk seraya memakan makanan nya dengan lahap, walau pun sebenarnya ia sedang tidak lapar, namun untuk menghargai usaha mama nya yang sudah lelah menjaga nya sedari kemarin ia pun memkasa nya.
"Wah anak mama pintar." Kata Zahra seraya bertepuk tangan, zidan tersenyum lemah melihat tingkah mama nya itu.
"Hey boy."panggil Carlos didepan pintu.
Zidan tersenyum "hy papa." Carlos menghampiri anak nya lalu mengecup kening anaknya begitu lama.
"Zidan sakit ya, maaf papa nggk tau."kata Carlos sedih.
"Tidak apa-apa,aku mengerti papa sibuk bekerja untuk kehidupan ku yang lebih layak dan bisa sekolah dengan layak agar bisa jadi anak kebanggaan mama papa."kata Zidan masih dengam senyum lemah nya.
"Kenapa Zidan jadi sangat pintar."kata Carlos gemes sambil memeluk anaknya penuh kasih.
"Mama yang mengatakan begitu mepada Zidan."tunjuk anak nya, Zahra tersenyum.
Mereka kini tengah berkumpul seperti semula, yang diaman dulu yang sering mereka lakukan.
Binar bahagia terlihat jelas dimata anak nya walaupun masih begitu lemas.
Kini sudah sangat larut malam dan Zidan telah tertidur begitu pulas.
Carlos dan Zahra tengah berbaring ditempat tidur, entah kenapa mereka tersa begitu canggung.
"Sayang, kenapa waktu itu hp kamu tidak bisa dihubungi." Tanya Zahra.
"Maaf aku memang sibuk seminggu ini, ada masalah dikantor dan beberapa hari yang lalu aku juga keluar kota"bohong nya.
"Hmm begitu ya, kau tau saat Zidan sakit aku panik dan takut."kata Zahra lirih.
"Maaf kan aku sayang, Zidan sakit apa sebenarnya." Saat zahra ingin menjawab hp Carlos berbunyi dengan kesal ia mengangkat telfon itu.
Zahra melihat suami nya berbicara dengan raut kesal dan marah.
"Hmm mungkin memang benar masalah kantor."kata Zahrah saat melihat suaminya seperti begitu kesal saat berbicara dengan si penelepon itu.
ia begitu kuat untuk mencoba membohongi dirinya namun itu membuat nya merasa tersiksa.
Zahra pun memaksa untuk memejam kan mata, mungkin belum waktu nya ia menjelas kan tentang penyakit anak nya sekarang.
akibat merasa lelah zahra pun terlelap, samar ia bisa merasakan usapan dan juga kecupan dari suami nya.
Tbc