Menatap nanar layar laptop yamg sedari tadi menampilkan foto kebersamaanku dengan Rere empat tahun lalu. Dia yang tertawa saat kami menghabiskan waktu di Ragunan, cantiknya dia saat wisuda kelulusan, anggunya ketika dia menghampiriku pada wisuda strata satu di Jakarta. Semua kusimpan rapi dalam folder khusus begitu pula letak dirinya yang teramat khusus di bilik hatiku. Harusnya tadi tidak kuajak dia ke rumah untuk mengambil berkas kasus perebutan hak asuh salah satu klien yang berdomisili di Jakarta. Seharusnya hari ini hingga besok aku bisa menikmati waktu bersama sebelum lusa aku harus berangkat ke Jakarta. Namun semua gagal karena Rere mendengar pembicaran Papa mengenai pernikahan. Dan semua kacau, Rere tiba-tiba marah entah karena apa. Aku tidak akan mengingkari janji menemaninya

