Entah sudah berapa hari aku tidak mau berurusan dengan Abi. Aku patah hati, bahkan sakitnya lebih parah dibanding Dirga menghianatiku dengan taruhan dulu. Bolehkah aku berharap pada kenyataan agar membuatku lebih kuat menghadapi rasa kecewa ini? Kenapa harus kamu yang singgah di hatiku? Kenapa kita tidak bertemu jauh sebelum rencana pernikahanmu itu terjadi? Kenapa aku harus memendam perasaan yang jelas tidak terbalas ini? Air mata tak hentinya berlinang saat kulirik ratusan panggilan memenuhi handphoneku. Bahkan aku sudah menumpang tidur di kontrakan Riana untuk menghindari Abi yang mungkin saja mencariku. Mencari? Memangnya aku siapa yang perlu dicari oleh calon suami orang lain? Mengabarkan tanggal hari istimewanya kah? Atau memamerkan padaku bahwa dia sudah menemukan tambatan

