Ibu Hamil

1478 Kata
Mengetik hasil bab empatku dengan begadang semalaman membuat hari ini amat melelahkan. Pasalnya pagi tadi saat bimbingan hasil revisi bab empat, dosen pembimbingku meminta perbaikanya diserahkan nanti sore. Parah..... Mentang-mentang sibuk sama urusan di luar kota membuat kami para mahasiswa bimbingannya harus pasrah menyesuaikan jadwal beliau. Belum hilang rasa lelah dan kantuk yang sedari tadi kutahan, sudah ada tugas lagi menyusul. Aaaarrrrrggggghhhhhhh...... Sembari mengetik bagian yang direvisi aku duduk ditemani Dian. Kami berdua menunggu Ani yang tengah menghadapi ujian skripsi di dalam. Jadwal Dian masih besok, dan semoga aku menyusul minggu depan jika bab empatku kali ini beres. Untuk bab lima dan enam bisa dikerjakan semalam saja. Mudah! "Kami udah mirip zombie banget Bi" Ledek Dian yang melihatku menatap layar laptop dan jilidan kertas secara bergantian dengan kantung mata hitam dan muka kusut bin lecek. "Diem aja. Aku lagi konsentrasi" Ujarku dingin dengan pandangan masih fokus ke layar laptop berwarna hitam dihadapanku. "Ya ya ya aku paham banget deritamu" Sialan nih orang. Udah tau temenya yang cakep gini lagi susah malah recokin mulu. "Nih minum dulu" Dian memberikanku minuman dingin rasa teh melati yang dibelinya sejak tadi sembari menunggu Ani. Dian orang yang royal masalah makanan. Apalagi jika kami menginap di rumahnya pasti 'servis' makanan yang disediakan lebih dari memuaskan. Yah... anak orang kaya,makanan mahal bukan masalah lagipula ada pembantu yang menyiapkan juga. "Harus sore ini ya Bi?" "Ya. Orangnya mau seminar di Semarang. Untung revisinya gak banyak" Jawabku tetap tanpa melihatnya. "Ara........." Teriak Dian yang membuatku menoleh kearah Ani yang berjalan kearah kami, sepertinya dia sudah selesai dengan ujianya. "Gimana Ra susah gak?" Tanya Dian antusias. Aku menarik tanganya agar duduk meskipun dia tengah asyik meneguk minuman dari Dian. "Sebel sama lakiku. Masak ngasih soal susah amat, Dosen yang lain aja gak susah malah lancar banget aku jawabnya" Curhat Ani yang ditenangkan Dian. Aku tak begitu memperhatikan mereka berdua karena pikiranku masih fokus pada revisi dan revisi. "Bi, ke kantin yuk aku laper" Ajak Ani yang segera kuangguki. Setelah mendapat tempat yang masih kosong kami duduk bertiga. Ani dan Dian memesan makan sedangkan aku hanya kopi hitam sebagai pengganjal kantukku. Mereka berdua tetap saling melempar curhatan seputar persiapan ujian, apa saja yang ditanyakan, revisi bagian mana saja dan lagi-lagi aku masih berkutat dengan benda persegi panjang ini saja. "Bi, masih lama gak? Mau kita bantuin?" Tawar Dian. Akhirnya kuperlihatkan bagian yang harus direvisi pada mereka berdua. Kusesap kopi hitamku dengan nikmat. Sedikit memejamkan mata dan melabuhkan kepalaku ke meja agar lelah ini sedikit berkurang. Entah sudah berapa lama aku tertidur saat Dian membangunkanku. Kulihat isi tasku berceceran. Buku-buku refrensi terbuka dan beberapa catatan milikku sudah berhamburan menjadi satu di meja. "Nih Bi udah beres. Coba lo cek" Pinta Ani sambil menyerahkan laptop ke arahku. Kuamati bagian-bagian yang peelu direvisi sesuai lembar bab empatku. Tak begitu buruk karena masalah pembebasan tanah yang menjadi judul skripsiku terlihat beberapa point tambahan sebagai penguat sudah diketik oleh Ani dan Dian tanpa sepengetahuanku. "Sip. Kalian jago juga jadi lawyer" "Yah.. kita-kita udah melewati bab empat jadi udah tau apa yang perlu ditambah atau dikurangi. Lagian di tiap paragraf yang direvisi udah jelas catetan dari pembimbingnya kok. Kita sih cuma ngasih sedikit poin tambahan buat menguatkan hasil studi kasus kamu aja" Jelas Ani "Dan aku berpedoman juga sama catatan interview sama skripsi ini" Lanjut Dian sambil menunjuk skripsi milik Tria. Hebat... Beruntung banget aku punya sohib kayak mereka. "Hehehehe.... thanks semua. Aku jadi gak enak hati" "Sama-sama Bi. Biar kita bisa wisuda bareng. Lagian revisinya gak banyak juga kok. Lo mending langsung nemuin sekarang daripada balik lagi ntar sore" Saran Dian yang langsung kuangguki semangat. Setelah saling berpamitan kami meninggalkan kantin. Aku segera mencari rental komputer untuk print out sedangkan Ani dan Dian pulang ke rumahnya masing-masing. Segera aku menemui dosenku dengan harap-harap cemas semoga tidak revisi lagi. Beberapa menit menunggu di depan ruangan beliau , akhirnga aku dipersilahkan masuk. Mengoreksi bagian yang direvisi dan yap... tanda tangab acc sudah kudapatkan. Dengan hati riang aku pulang. Baru saja sampai di depan rumah hendak membuka pintu handphoneku berbunyi, Papa " Baik Pa" "......" "Udah kelar tinggal dikit" "Ya.." Klik Hem... harus segera cari tiket nih. Yah... Papa memintaku pulang untuk menjenguk mama yang katanya rindu dengan diriku. Aku kan bukan anak kecil. Segera aku mencari tiket menuju Balikpapan, dan menyiapkan beberapa pakaian yang hendak kubawa. Baru saja aku ingin istirahat tiba-tiba pintu rumahku diketuk dengan paksa, benar-benar tidak sabaran tamu ini. Saat kubuka dengan tak sabar pula ternyata Ani tengah berdiri dengan membawa tas, wajahnya nampak kesal. "Bi, Aku sebel sama Mas Ari. Masak dia ngasih soal susah banget, mana aku jawabnya mpek keringat dingin lagi, bener-bener gak berperasaan" Cerocosnya masih dengan amarah. "Brati dia profesional. Gak pilih kasih meskipun kamu istrinya" Belaku. Ingin kurengkuh ke dalam dekapan agar rasa kesalnya mereda namun aku tahu diri, kini aku bukan orang yang berhak dengan sesuka hati meraihnya. Lagipula entah kenapa rasa cinta yang dulu menggebu seakan menguap perlahan. Dan dia benar-benar hanya menempati sudut hatiku sebagai seorang sahabat sama dengan Dian. "Kamu mau kemana Bi kok bawa tas gede?" Tanyanya melihat tas ransel yang penuh dengan baju tergeletak di sofa. "Mau pulang bentar ke Kalimantan" "Akh ikut ya" "Izin suamimu dulu" "Iya ntar gampang. Please.. Aku ikut ya.. ya..." pinta Ani memohon dengan wajah memelasnya. "Ya sudah habis ini berangkat. Pesawatnya dua jam lagi" Ani tampak girang dengan keputusanku namun di sisi lain aku sangsi dengan suaminya. Pasti Ani lagi marah sama suaminya sampai kabur ke sini. Tak berapa lama kami sampai di bandara. Tiket yang kubeli mendadak memang agak mahal namun tak apalah. Untungnya masih ada kursi kosong karena memang hari ini bukan libur jadi penumpang juga tidak penuh. Selama perjalanan aku tidur begitupun Ani. Aku yang kelelahan karena tidur semalam yang kurang begitu menikmati perjalanan di pesawat. Kehamilan Ani yang belum besar memudahkan proses 'terbang' karena jika sudah lebih dari tujuh bulan akan sangat susah mendapat izin naik pesawat. Sesampai di bandara aku langsung menyewa mobil. Menuju kota tepian membutuhkan waktu dua sampai tiga jam perjalanan. Beberapa kali Ani meminta berhenti untuk membeli makanan. Ibu hamil memang mudah lapar. Akupun tak masalah. Tapi aku sempat bingung karena permintaan Ani aneh-aneh. Minta jagung rebus tapi makanya di samping gerobak bakso yang lagi mangkal, beli tahu sumedang yang antrinya gak ketulungan tapi minta cabenya yang merah sedangkan cabe yang ada cuma hijau. Alhasil aku minta di warung soto ayam di dekat penjual tahu sumedang dan lagi minta minum air mineral botolan tapi minumnya dari gelas kaca. Yah terpaksa aku pinjam di warung. Aneh-aneh aja nih orang. Untung dia sahabatku kalau bukan udah aku tinggalin aja sama sopir travel. Hahahaha sadis. Sesampai di rumah mama menyambutku dengan kaget. Bagaimana tidak kaget seumur-umur aku belum pernah mengenalkan pacar apalagi sampai diajak ke rumah. Lah ini bawa cewek hamil ke rumah. Untung mama gak pingsan karena aku buru-buru menjelaskan. Kukira 'keinginan' ibu hamil satu ini cuma dalam perjalanan tadi saja. Eh ternyata saat kuajak berkeliling di tepian sungai mahakam dia minta kepiting dengan porsi yang wow bikin aku geleng-geleng kepala. Yah... daripada gak keturutan nanti kepuhunan kalo orang daerah Kalimantan sini bilang. Keinginan yang tidak terlaksana bisa menimbulkan sakit yang obatnya hanya menuruti keinginan tersebut. "Ni, aku pantes gak dicintai?" Tanyaku saat kami berdua tengah kenyang menikmati makan malam dan sekarang duduk menikmati Sungai Mahakam. "Layak banget. Kamu baik Bi meskipun pernah hampir bikin diriku hancur, tapi itu diluar kendali dirimu aja aku paham. Kenapa emangnya?" "Aku takut karena kesalahan waktu itu bikin seseorang benci dan aku gak layak buat dia" "Bentar-bentar. Kamu lagi jatuh cinta Bi?" Selidik Ani yang kujawab dengan mengangkat bahu. "Entahlah. Aku gak yakin" Jawabku bingung. "Sumpah Abinaya....... aku tahu banget sikapmu yang cuek masalah cewek. Hello.. sikapmu udah nunjukin kalo saat ini dirimu lagi galau" "Emang kamu sama Dian bukan cewek ya? Emang selama ini aku cuek sama kalian?" "Itu sih beda Bi. Kita kan udah jadi trio kwek-kwek yang gak terpisahkan. Cewek yang kumaksud tu selain aku sama Dian. Maksudnya cewek yang membuat kamu tertarik memperhatikan dia" "Sampai masuk ke mimpi dan bikin aku pengen deket dia terus?" "Yup betul. Emang siapa tuh cewek yang berhasil menaklukkan hati seorang Abinaya? Selain diriku pastinya." Kekeh Ani yang membuatku tersenyum. Memang hanya dia yang pernah aku cintai namun sayangnya cintaku bertepuk sebelah tangan. Sekarang rasa itu sudah mulai hilang. Aku sadar jika kami lebih cocok dan nyaman bersahabat. "Anak SMA di sebelah rumahku" Jujurku. "Hem.. hebat juga dia bisa bikin kamu move on" "Hem" "Aku juga sempet dikasih tau Dian kalo kamu bawa cewek ke rumahnya dan ketemu kalian pas di Mall juga. Berarti hubungan kalian udah jauh Bi?" "Belum apa-apa" Ani pun hanya menepuk pundakku menyemangati. Selesai dengan aksi curhatku kamipun pulang. Tanpa sepengetahuan Ani aku menelpon Pak Ari memberitahukan keberadaan istrinya. Bagaimanapun juga hal ini penting agar urusan keluarga mereka tidak berlarut-larut. Re.... aku kangen sama kamu. Gimana kabarmu di sana? ----------------------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN