Hah... udah seminggu lebih gak cuci mata lihatin Kambing muda sebelah rumah. Ke mana sih tuh orang. Dikangenin sama cewek cantik begini masak gak terasa? Apa sinyal hatiku loadingnya lama ya. Walah.... sok kangen padahal kalo ketemu juga sok gak peduli. Itu sih aku banget hahaha.
Eits.. kangen berantem sama dia maksudku. Udah agak lama gak berantem lagi sama dia entah kenapa akhir-akhir ini sikapnya jadi manis dan peduli amat. Ada seneng ada gaknya sih. Seneng karena ternyata ada juga spesies belalai depan yang rela ikut campur dengan masa laluku, peduli, perhatian. Gak senengnya jadi gak seru tanpa berantem sama si embek.
Aduh... kambing.. rumput di sana lebih hijau ya kok lama bener gak balik-balik?
Aku kan kangen..... berantem.
"Gimana Re hasil beasiswanya?" Mama tiba-tiba datang membuyarkan lamunanku.
"Lolos Ma. Rere mau ambil kedokteran sesuai cita-cita Rere ya Ma?"
"Terserah kamu sayang. Kamu yang menjalani selagi ada biaya cuma-cuma manfaatkan sebaik-baiknya" tutur Mama mengusap bahuku.
Ya.. tadi pengumuman beasiswa dari sekolah yang menyatakan aku termasuk salah satu penerina beasiswa. Satu orang lagi yang berhasil lolos adalah Fahri. Cowok cupu berkacamata dengan otak encer kelas wahid. Meskipun setiap hari dia korban bully di sekolah tapi pengetahuanya tak diragukan. Namun karena dandananya yang terkesan lucu menurut 'kelompok borjuis penindas' menjadikanya bahan ledekan. Dia satu jurusan denganku namun berbeda kelas dan jurusan yang dia ambil kelak juga berbeda.
* * * * * * *
Kambing : Pagi jelek...!
Jam berapa sih ini handphone sudah berdenting pesan.
Kuraih handphone di nakas. Melihat nama pengirimnya saja membuatku terlonjak bangun. Begitu membaca isinya langsung membuatku mendelik sebal. Pukul 05.00 masih subuh sempat-sempatnya dia sms.
Aku : Subuh woi..... ganggu ja
Kambing: lupa klo kita beda waktu
Aku: Di mana?
Kambing: Borneo
What? Jadi nih embek di Kalimantan? Kirain ke Bandung makanya sinyal kangenku lama sampainya
Aku : Kenapa ganggu pagi-pagi?
Kambing: Kangen
Eh... beneran nih si kambing kangen diriku? Owh...loncat-loncat dulu saking senengnya.
Kambing : Brownis Mama kamu.
Yaelah..
Udah GR duluan aku. Sialan tuh embek gangguin pagi buta cuma bilang kangen brownis nyokap.
Kambing : Re.... kok gak bales. Bangun... udah subuh belum kamu?
Kambing : Re....
Kambing : Gak bales aku gigit hidungmu biar ilang
Kambing : Re... kamu ke mana sih woi...
Kambing : Bener-bener mau kuiket jempolmu di pohon mangga ya?
Hahahahahha si embek udah balek lagi usilnya. Masak aku mau digigit sama digantungin di pohon? Kubiarkan saja dia ngomel lewat smsnya tanpa balasan. Bahkan beberapa panggilan darinya kuabaikan. Lha aku masih menunaikan ibadah wajib gimana mau balas dia?
* * * * * *
Fahri datang ke rumahku sore tadi membawakan brosur SMPTN. Sebenaranya aku sudah mendaftar jalur PMDK beberapa bulan lalu. Namun prosentase kegagalan pasti ada maka dari itu aku menerima tawaran brosur dari Fahri padahal dia juga ikut jalur PMDK sama sepertiku.
Mungkin merasa sama-sama mendapat beasiswa dia datang kerumahku padahal setahuku dia tidak pernah mempunyai teman dekat apalagi sampai datang berkunjung ke rumah temanya. Aneh bukan? Tak apalah toh sepertinya dia laki-laki yang tidak berbahaya.
Saat dia datang aku sempat mengernyit bingung. Bagaimana bisa dia yang dikenal penyendiri rela datang ke rumahku hanya memberikan info brosur? Meski terkesan canggung karena sepanjang kami duduk berdua di teras tidak banyak percakapan yang terjadi diantara kami.
Hari mulai malam. Menatap langit malam di teras rumah memang sering kulakukan. Tawaran Fahri tadi memang membuatku ingin memcoba namun sebaiknya aku menunggu pengumuman PMDK dua minggu lagi.
Kuarahkan paandanganku pada taxi yang berhenti didepan rumah embek. Dan keluarlah sosok yang selama hampir dua minggu ini menari-nari telanjang di mimpiku. Walah... omes banget mimpiku.
"Hai Re" Sapanya saat langkahnya hampir mencapai teras rumah dan badanya sejajar dengan pagar pembatas rumah kami.
"Hem.. udah pulang Mbing? Kok malem?" Tanyaku sembari mengahampirinya yang menempel di pagar pembatas. Jadilah kami saling berhadapan.
Duh... kuyu amat tuh muka. Mana bau pesawat lagi. Tapi tetep cakep kok.
"Iya pesawatnya sore. Kamu belum pengen tidur kan?" Tanyanya melihat jam di pergelangan tangan kiri.
"Belum. Kenapa emang?"
"Bantuin aku beres-beres barang. Tenang ja aku punya oleh-oleh kok buat kamu"
Dasar nih orang emang aku pembantu? Tapi gak papa lah kalo dapat oleh-oleh. Siapa tahu aku dibawain ikan pesut yang konon tersohor di Pulau Borneo.
"Yah mau ngasih aja pakek suruh bantuin. Rese amat !" Sungutku.
"Mau gak oleh-olehnya?"
"Ya mau lah. Bentar bilang mama ntar dicariin"
"Ma..... Rere ke rumah Kak Abi....." Teriakku sambil berjalan keluar pagar menuju rumah Abi. Kalau didepan mama aku manggil tuh Embek emang Kak Abi. Yah.. masak mau manggil Kambing ntar malah dijitak sama nyokap. Secara Abi udah dianggep anak sendiri disayang banget sama Mama terbukti dengan rutinya mama mengirimi Abi kue buatanya.
Masuk ke rumah Abi dengan berjalan dibelakangnya. Tas ransel dan sebuah kardus ikut dibawanya masuk. Dengan semangat 45 aku membuka kardus yang tergeletak di samping meja sedangkan si pemilik rumah pamit mandi.
Kardus berlakban hitam pun terbuka. Isinya beberapa bungkus amplang dan roti durian Panglima. Selain itu ada dompet berlapis manik-manik yang kutaksir hasil kerajinan daerah sana. Ngapain juga beli dompet begini. Tapi bagus juga modelnya gak mirip buat mak-mak belanja di pasar. Kalau buat anak nuda sih cocok juga, gak mewah tapi unik.
Kukeluarkan untuk menjawab rasa penasaran isi kardus namun tak lupa aku tata kembali agar tidak berantakan.
Tak berapa lama Abi datang masih memakai handuk yang meliliti bagian terlarangnya. Rambut basah dengan beberapa titik air menetes di d**a bidangnya membuat kesan seksi. Ditambah harum sabun yang menusuk hidung membuatku memejamkan mata menikmati aroma segar ini.
"Kamu bongkar isinya Re?" Tanyanya yang kini sudah duduk di kursi membongkar tas ransel yang berisi baju-bajunya sedangkan aku jongkok disamping meja masih dengan kardus yamg isinya belum selesai kumasukan kembali menjadi tersadar dari keterpesonaan sejenak.
"Iya cuma lihat aja isinya apa" Jawabku tanpa memandangnya lagi bisa-bisa aku gak fokus.
"Ni oleh-oleh buat kamu" Abi mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel
Kuterima bungkusan itu, kubuka dengan tergesa. Sebuah dress tanpa lengan selutut dengan motif bunga hijau tosca dan sebuah dress polos dengan bunga hiasan di pundak lebih panjang sedikit di bawah lutut.
"Besok temenin aku ke nikahan" seketika aku yang bingung dengan kedua gaun ini langsung menatapnya bingung kuadrat.
"Kok gitu?"
"Kamu gak lagi ada janji sama cowok lain kan? Besok malem jam tujuh aku jemput di depan kamarmu langsung"
Eyah... ni orang ngajak kok maksa. Kuamati baju pemberian Abi. Bagus banget ya tapi pantes gak aku memakainya? Seumur-umur aku gak pernah punya gaun begini. Ke acara formal paling baju biasa aja yang penting sopan.
"Maksa amat lagian jemput kok di depan kamar sih. Tungguin aja di rumah ntar aku ke sini"
"Oke brarti kamu setuju. Dandan yang cantik biar sekali-kali jadi cewek beneran"
Sialan tuh embek emang selama ini aku bukan perempuan? Untung udah baik hati bawain aku baju bagus kayak gini.
"Tuh yang di kardus ada makanan, kamu kasih Tante, oleh-oleh dari Mamaku di Kalimantan. Titip salam juga makasih udah baik sama anaknya yang sering kelaparan ini"
"Kasih aja sendiri. Udah ya aku pulang makasih bajunya" pamitku berdiri hendak berjalan kearah pintu namun tangan Abi malah meraih pergelangan tanganku menariknya hingga tubuhku jatuh tepat disamping tubuhnya yang masih polos dan hanya berbalut handuk di bawahnya.
Glek.....
Nelen ludah kok susah amat ya?
Pundak kami bersentuhan menimbulkan sensasi yang amat sangat panas. Seperti aliran listrik tegangan tinggi sedang merajai persendianku.
"Ih pake baju sana" Kualihkan pandanganku kesamping agar tak semakin memanas aura saat ini.
"Hehehe sory lupa. Lagian kamu seneng banget kayaknya lihat badanku. Mau peluk ya? Sini sini....." disodorkan dadanya mepet ke pundakku yang langsung kutepok jidatnya dengan baju yang masih kupegang sampai badanya terjungkal ke belakang.
Dasar omes nih orang. Meskipun mengaduh kesakitan akhirnya dia pergi ke kamar mengambil kaos dan celana pendek selutut.
Padahal dalam hati udah ketar-ketir mengingat spesies macam Abi bisa saja khilaf dan nerkam diriku yang unyu-unyu ini. Yah... sahabatnya aja hampir diterkam apalagi aku yang cuma tegangganya? Eh emang dia tertarik sama tubuhku?
* * * * * *
Malam minggu yang ditunggu. Aku sudah memakai dress polos yang diberikan Abi kemaren. Rambut panjang kugerai dan mengepang bagian pinggir kemudian disatukan kebelakang. Make up tipis hasil tutorial buka youtube dan peralatan minjem dari Mama.
Aku datang ke rumah Abi yang tidak terkunci karena sebelum ke sini terlebih dahulu kubilang akan datang langsung menemuinya.
Masuk kedalam rumah tidak tampak bau embek yang siap seperti diriku. Kuputuskan menuju kamarnya. Begitu sampai di depan pintu kamarnya ternyata dia baru saja keluar.
Oh My God
Itu malaikat berbulu embek lagi membenarkan dasinya, sedang berdiri di depanku. Wow.... Abinaya... kok tumben ganteng yah...
"Eh Re udah di sini? Sorry lama masih masang dasi gak bisa-bisa" Akunya sambil sesekali memperhatikan dasinya yang memang belum rapi.
Kubenarkan letak dasi biru yang menemani kemeja putih dan jas yang membuatnya terlihat amat menggiurkan.
Wajah kami berhadapan meski tak sejajar. Aroma maskulin menusuk indra penciumanku. Nafas kami saling menerpa wajah masing-masing serta tatapan mata yang saling menyelami pesona diri malam ini.
"Udah. Ayo berangkat" Wajahku tiba-tiba memanas dengan tatapanya. Jika saja Abi tidak buru-buru menyadarkan mungkin kejadian yang tak terduga lainya akan semakin parah mengingat setan sudah berkeliaran di otaku.
Menggunakan taxi karena lokasinya lumayan jauh dan tidak memungkinkan membawaku dengan motor dalam kondisi baju seperti ini.
Kami tiba di sebuah hotel berbintang lima. Menunjukkan undangan sebagai bukti menandakan acara ini tidak dihadiri sembarang orang. Mungkin bagiku terkesan terlalu mewah untuk ukuran pernikahan teman Abi. Ah iya Abi kan gak bilang ini nikahanya siapa.
Beberapa tamu nampak hadir dengan pasangan masing-masing. Tanganku mengamit erat lengan Abi takut kesasar di tempat asing seperti ini.
Kuperhatikan gaun-gaun yang membalut para tamu undangan, para wanita begitu glamour dengan perhiasan menyilaukan mata bertengger dari atas sampai bawah membuatku merasa minder dengan penampilan ala bocah yang terlalu sederhana.
"Kita langsung kesana" Ajak Abi yang langsung kuangguki. Kami berjalan menuju beberapa orang yang sedang berkumpul.
Abi menyapa mereka dan memperkenalkan dirinya tak lupa diriku sebagai calonya. Calon apa nih maksudnya aku juga gak paham, mungkin sekedar basa-basi saja. Selesai dengan sapa menyapa orang yang gak aku kenal, tibalah kami memberi selamat pada pasangan pengantin yang sedang berbahagia di depan.
"Kok diem aja dari tadi Re?" Tanya kambing mencoba menerka tingkahku yang amat canggung. Selama diperkenalkan aku hanya membalas jabat tangan, tersenyum, angguk-anguk selebihnya hanya menempel di ketiaknya.
Tak berapa lama kami berpamitan pulang menggunakan taxi seperti saat kami datang.
"Tadi siapa yang nikah Mbing kok mewah banget?" Tanyaku penasaran.
"Anak temen Papa yang nikah. Karena Papa ada di Kalimantan makanya minta aku mewakili beliau" Terangnya yang kubalas dengan anggukan
"Kamu gak nyaman ya di sana?" Tanyanya sambil menatap wajahku dari samping. Kutolehkan wajahku balas menatapnya.
"Gak terbiasa saja dengan pesta mewah seperti itu. Lagian yang dateng pada nyalon semua perempuanya. Cuma aku yang ala kadarnya" Curhatku yang membuat tanganya menggenggam erat telapak tanganku.
"Sorry ya aku ngajak kamu ke tempat kayak gitu. Tapi... kamu paling cantik kok menurutku"
Owh... tidak... pujian yang membuat pipiku memanas.
"Karna baju darimu aja aku jadi cantik" Balasku mengurangi rasa gugup
"Tanpa baju malah lebih cantik" Kekehnya yang langsung kucubit lenganya hingga ia mengaduh.
Udah seneng dipuji malah omesnya keluar. Dasar embek......!
-------------------