Mata sudah hampir mengantuk namun melihat Madesu tak kunjung beranjak dari karpet dan bantal yang menyangga kepalanya tiduran membuatku bertahan, sedangkan diriku duduk selonjoran di kursi.
Beberapa malam kami habiskan menonton drama korea pilihan Rere. Sebenarnya menarik karena film yang dipilih Rere kebanyakan berlatar kerajaan Joseon bukan yang menye-menye, drama queen, nangis bombay ala remaja sekarang. Tapi berhubung seharian ini aku lelah menemui beberapa pembeli handphone membuat rasa kantuk datang lebih cepat.
Selama hidup di Jakarta aku tidak begitu saja menggantungkan uang kiriman Papa yang terbilang amat sangat lebih dari cukup. Aku punya pekerjaan sampingan ya meskipun pekerjaan utama belum kudapatkan, setidaknya aku bisa sedikit mandiri dengan usaha kecilku ini.
Kalian sering melihat postingan jual beli di sosial media? Masuk dalam grup jual beli antar daerah maupun berdasar jenis barang yang dipasarkan? Yah... itulah kegiatanku. Menerima jasa menjualkan barang-barang mereka, lebih tepatnya teman-teman kampusku. Banyak dari mereka --teman lelaki-- yang ingin menjual barang baik baru maupun bekas melalui online karena menurut mereka bisa mendapatkan harga yang lebih tinggi dibanding langsung ke toko. Dan barang yang kujualkan bisa berupa apa saja namun kebanyakan handphone second.
Kenapa aku membuka jasa ini? Karena teman-temanku kaum adam seringkali memposting barang namun kebanyakan tidak begitu telaten menanggapi komentar, tawaran harga, spesifik barang yang kebanyakan dilakukan calon pembeli hawa, maka dari itu aku menawarkan jasa seperti ini. Kadang jika calon pembeli ingin bertemu langsung untuk melihat barang juga aku turuti. Dari setiap barang sudah kupasang harga sesuai keinginan penjual serta penjelasan spesifikasi barang. Setidaknya aku juga paham dan mengetahui mana barang bagus mana yang tidak layak jual dan kisaran harga pasaran. Ribet? Tidak bagiku karena aku sangat menikmatinya. Dan aku mendapatkan keuntungan 10-25% dari setiapa barang yang berhasil kujualkan, malah kadang ada tips tambahan jika aku berhasil menjual dengan harga yang cantik.
"Mbing... kamu ngantuk ya?" Tanya Rere melihatku menguap berkali-kali.
"Hem.. lumayan. Kamu lanjutin aja aku mau tidur duluan" Ucapku berdiri hendak melangkah ke kamar namun kakiku malah dicekal tanganya yang memang posisi Rere tiduran dibawah.
"Ntar dulu Mbing aku matiin aja sekalian pulang" Kubantu dia memberesi sisa makanan ringan, gelas serta DVD yang berserakan.
Kuantar dia menuju pintu dan tetap melihatnya hingga ia benar-benar sampai di rumahnya. Hari memang belum begitu malam namun aku tidak enak juga membiarkan Rere menonton di rumah laki-laki yang tidak mempunyai hubungan apapun lebih malam lagi. Bisa-bisa aku lepas kendali. Hem.. aku masih laki-laki normal juga.
* * * * * * *
"Madesu....... Rere" Sapaku saat melihat gadis itu menyiram bunga di halaman rumahnya.
"Apa?" Menjawab tanpa mengalihkan pandanganya dari bunga mawar yang merekah indah.
"Ada meeting nih. Ikut yuk?" Ajakku padanya.
"Di mana?"
"Kemang"
"Martabak ya?" Tawar Rere.
"Sama gerobaknya juga boleh. Buruan mandi" Perintahku yang dijawab dengan acungan jempol kirinya.
Meeting yang aku maksud adalah janji temu dengan calon pembeli barang yang kujualkan. Dan Rere sudah dua kali kuajak serta.
Setelah menunggu tak beberapa lama kami berangkat. Sebuah Mall di daerah kemang menjadi tempat transaksi kami. Sambil menikmati es krim yang kubeli dengan antrian yang lumayan panjang datanglah si calon pembeli. Mengamati, mengecek dan nego harga kami lakukan higga harga deal didapat.
Selesai transaksi aku mengajak Rere berkeliling sebentar hingga sampailah kami pada zona bermain. Berhubung Rere penggila basket maka kami beradu memasukkan bola ke ring yang jelas-jelas aku kalah. Dia benar-benar menikmati permainan ini mungkin karena sudah lama ia tidak bermain berhubung kegiatan sekolah sudah usai dan sepertinya ia sibuk mempersiapkan masuk ke universitaa. Diam-diam kuperhatikan wajahnyabyabgvtertawa lepas, dia terlihat.
Manis
Dia manis meski tanpa senyuman
Cantik
Meski tanpa kosmetik yang melingkupi wajahnya. Entah sejak kapan kami begitu dekat dengan damai. Entah sejak kapan aku begitu peduli semua masalahnya.
Aku terpana saat suatu hari kuajak menghadiri undangan pernikahan teman Papa dengan gaun yang kupilihkan dengan amat susah payah bertanya ini itu pada pegawai butik
Selesai bermain Rere meminta izin ke toilet. Saat itulah samar-samar kulihat Ani duduk di salah satu gerai makanan sendirian, dengan perut buncit dan pipi cubbynya, dia sahabat sekaligus cinta pertamaku terlihat lebih cantik.
Beberapa saat lalu aku memuji Rere dan menit berikutnya aku kembali terpana pada ruang hati yang ternyata masih tersimpan namanya. Berkali kutegaskan bahwa perasaan ini hanya sahabat namun entah karena aura ibu hamil saat ini membuatku memunculkan kembali perasaan masa lalu.
Kuhampiri dia, sejenak melepas rindu karena kesibukan kami masing-masing yang memang tinggal menunggu hari wisuda sehingga sudah tak pernah bertemu di kampus maupun di rumah bergiliran. Kuelus perutnya merasakan bagaimana kelak bahagianya menjadi calon ayah hingga tak kusadari dua pasang mata tengah memperhatikan kami.
Lirihan seorang gadis menyebut nama Kambing membuatku tersadar jika Rere... Madesu kutengah berlari menjauh serta tatapan mematikan Pak Ari seakan membuatku segera berlari begitu kencang. Permintaan maaf dan permisi kuucapkan kemudian berlari mengejar Rere.
* * * * *
Meski harus menabrak beberapa pengunjung aku tetap mengejar Rere. Walau perempuan namun jangan lupakan jika Rere seorang gadis tomboy penggila basket tentu saja soal lari bukan masalah besar.
Dan akhirnya kutemukan dia yang sedang menubruk seorang bapak hingga menumpahkan minuman yang dibawa membuat si bapak mengomel. Terlihat Rere meminta maaf, saat itulah kugunakan kesempatan meghampiri Rere. Menyekal tanganya dan meminta maafkan kesalahanya. Segera kutarik dia menjauh ke parkiran. Meski berontak tetap saja kusuruh dia naik ke motor. Kulajukan motorku kearah taman kota, tanpa kata Rere mengikuti langkahku yang tanganya kugandeng kemudian mendudukan di salah satu bangku kosong.
" Kenapa lari?" Tanyaku bingung juga kenapa dia lari
"Gak papa" ucapnya dingin.
"Maaf"
"Untuk?" Tanyanya
"Semuanya" Jawabku.
"Dia yang pernah di....."
"Iya" Aku tahu arah pembicaraanya. Ya ... dia perempuan yang hampir saja kutorehkan luka berbekas dan menghianati persahabatan kami.
"Kenapa lari?" Tanyaku lagi. Apa mungkin dia takut akan terjadi hal yang dulu dilihatnya?
"Gak mau ganggu" Emangnya dia ganggu apanya?
"Lah kok bisa?" Heranku
"Hubungan kalian sepertinya masih istimewa ya? Kesalahan fatal pun masih bisa dimaafkan bahkan kalian bisa akrab lagi" Tuturnya dingin tatapanya lurus menerawang ke depan.
"Hem... beruntungnya mereka masih menerima kehadiranku" memang benar, Ani dan suaminya akhirnya memaafkanku meski jarak mendekati Ani sebagai sahabat benar-benar terisolasi.
"Apa dia yang namanya kak Ara?" Tanya Rere akhirnya. Bagaimana dia bisa langsung menebak nama Ani?
"Ya. Ani dan Ara orang yang sama" Aku sempat menceritakan sosok Ani saat kejadian hina di rumahku dulu pada Rere namun aku belum bilang jika nama panggilan Ani itu Ara.
"Mbing?" Ditolehkan wajahnya menghadapku.
"Ya?" Balas menatapnya.
"Ayo move on"
Hah?
---------------------------