Kebaya

1945 Kata
Move on? Emangnya aku harus move on dari siapa kok ngajak Abi barengan, Hah... ? Ngelihat Abi hanya melongo denger ajakan gak jelasku malah bikin pengen ketawa. Sumpah tu muka blo'on banget. Masih dengan tampang terkejutnya aku menarik tangan Kambing berjalan menuju ke parkiran motornya. Abi sih nurut aja pas kuajak langsung pulang. Lihat dia ngelus-ngelus perut bumil cantik bahenol pake rasa cinta bikin hatiku ketar-ketir. Aku kan juga pengen digituin Mbing... Masak gak peka sih! Pulang ke rumah aku cuma diam membisu. Ditanya kambing kenapa tadi lari juga bingung mau jawab apa. Masak iya aku jawab kalo hatiku rasanya seperti diremas, diperas dan disayat sampai gak berbentuk. Sakit..... Hiks... Hiks.... Setelah tahu perempuan itu cinta pertamanya Abi, sahabat tersayang, partner "main bertiga" selain dengan Kak Dian aku merasa lemes lunglai. Apa aku sebentar lagi akan menjadi partner "main berempat" juga? Hah pusing mikirin Abi mending bobok cantik aja buat menghadapi mental esok hari. * * * * * * "Aku lolos Re" Girang Fahri setelah mengetahui jika ia diterima di UI pada jurusan hukum sesuai keinginanya. Dan aku.... harus senang dengan pilihan alternatif. "Selamat ya Ri" Kuucap tulus dari hatiku. Meskipun makhluk dengan wajah cupu dihadapanku ini berhasil lolos mengalahkan diriku tetap saja aku senang karena jurusan yang kuambil tidak jauh dari bidang kesehatan. Fahri datang ke rumahku siang ini mengabarkan hasil pengumuman sambil membawa laptop miliknya. "Terima kasih Re. Meskipun kita tidak satu jurusan tapi kita satu kampus" Hibur Fahri dan akupun tersenyum. Dengan agak kecewa aku mengabarkan pada Mama yang sedang memasak di dapur jika aku tidak lolos di jurusan kedokteran. Dengan tenang dan sumringah Mama tetap memberiku selamat dan semangat. Apapun jurusan yang aku ambil mungkin sudah jalan terbaik yang harus dijalani. Dan yang terpenting beasiswa penuh sudah dalam genggaman. "Kamu pasti seneng banget ya impianmu tercapai?" tanyaku miris memikirkan nasib "Lebih tepatnya ini kemauan Papa agar aku jadi Pengacara." Kulihat matanya menerawang jauh ke depan sampai aku ikutan lihat arah pandangnya yang hanya kulihat pohon mangga lagi ranum menggoda air liur. "Tapi aku senang pada akhirnya punya teman di kampus baru" Senyumnya terukir dan kelihatan lumayan manis. Eits tapi lebih manis senyumnya Abi deh. Mau dia nyengir, mlongo, ngiler, jutek bagiku Abi juaranya. "Teman? Maksudmu itu aku ya?" Boleh GR gak? "Iya. Kamu teman pertamaku. Selama tiga tahun sekolah aku tidak punya teman. Semua orang benci denganku padahal sedikitpun aku tidak pernah mengganggu mereka" Sedihnya kamu Fahri... cup cup cup sini peyuk Mama. "Kenapa harus aku?" Bingung juga sih memang Fahri akhir-akhir ini setelah pengumuman beasiswa di sekolah, Fahri seakan membuka diri dengan datang ke rumahku padahal dari info yang tersebar sekalipun dia tak pernah bertegur sapa atau berteman dengan siapapun di sekolah. Bahkan dia pernah menawari kampus alternatif dan sekarang makhluk astral ini bertengger manis di teras rumahku mengabarkan pengumuman PMDK. "Karena cuma kamu yang peduli saat semua orang berlomba menyingkirkanku" Terangnya yang sempat membuatku sedikit punya sayap mirip peri buat melayang. "Dan aku yakin kamu teman yang baik" Imbuhnya yang benar-benar sudah membuatku semakin jauh melambung Kuingat kembali kenapa aku bersikap peduli seperti pernyataan Fahri barusan. Kuobok-obok memori di otakku bersama Joshua mencari sosok Fahri dan yang kutemukan malah sosok Abi lagi pakai handuk malam itu. Ah sial..... kenapa pikiranku khilaf mulu kalo ingat embek satu tu. Dan yah.... aku ingat. Ternyata waktu si cupu disiram air bekas ngepel Mang Dudung--penjaga sekolah—di belakang kelas tepat saat bel tanda masuk berbunyi. Alhasil Fahri yang basah kuyup tidak bisa mengikuti pelajaran. Dan aku yang tidak sengaja sedang mencari Sania mengikuti Ben cs menggiring Fahri ke belakang sekolah. Kuhampiri dia dan memberikan jaket jersey yang sedang kupakai saat itu. Berlari ke koperasi sekolah membeli seragam cadangan untuk Fahri. Dengan badan menggigil pula kuantar dia ke UKS. Yah... sampai disitu saja karena aku harus kembali ke kelas yang untungnya jam pelajaran sedang kosong. Saat kuhampiri lagi dia di UKS ternyata sudah tidak ada. "Maaf ya aku belum bilang makasih waktu itu dan jaket kamu masih ada di rumah" Ungkapnya yang kubalas senyum mengeluarkan gigi putih seharga dua ribu perak. "Gak apa-apa kok santai ja. Buat kamu juga aku ikhlas jaketnya. Oh ya ngomong-ngomong kamu betah amat sih pake kacamata emang minus berapa?" Tanyaku pengen tahu soalnya nih cowok pake kacamata model Harry Kopter eh Potter yang bulat plus gede padahal zaman udah modern dan frame kacamata udah beraneka bentuk serta warna. "Owh ini aku minus 2. Dari kecil aku suka baca ditempat remang" Kuulurkan tanganku memegang kacamatanya. Kutarik lepas perlahan penasaran dengan model kacamata jadul, Fahri memejamkan matanya karena tindakanku ini. Setelah kulepas kacamatanya, kuperhatikan lensa dan bingkai dengan mengangkatnya keatas hingga kepalaku mendongak memperhatikan setiap detailnya. "Kok masih pakek model begini sih....." Kulempar pandangan kearah wajah Fahri yang non kacamata. Astaga mak..... kok beneran mirip Harry Muter yang udah bikin bola mataku muter-muter merhatiin setiap jengkal wajahnya. Nafasku berhenti, kelopak mataku gak mau mengerjap dan mulutku ikutan ngences lihat wajah yang.... "Ekhem..." Suara siapa sih gangguin mataku lihat malaikat lagi mijet pelipis. "Ekhem" Ah apaan sih nih suara lagi keselek biji kedondong apa ya. Buruan sodok aja pake tongkat bendera di lapangan sekolah. "Sayang" Haduwh.. siapa sih manggil sayang pakai merdu begini? Apa malaikat di depanku punya suara seksi juga ya? "Re!" Teguran suara Fahri mengembalikan kesadaranku. Mengerjap-ngerjapkan mataku yang baru bangun dari mimpi indah. Kulihat Fahri menyipitkan matanya dan meminta kacamatanya kembali dengan menengadahkan telapak tangan kearahku. Dengan sigap kuberikan kacamata Fahri kemudian dipakainya kembali hingga malaikat mirip Harry Kopter lagi Muter dalam lamunanku lenyap. "Sayang" Kutolehkan kepalaku ke arah suara seksi dengan panggilan 'sayang' barusan yang ternyata disamping pagar rumahku sudah berdiri Abi lagi menyilangkan kedua tangan didadanya sambil tersenyum penuh bahaya. Yah... kayaknya manggil sayang tanpa ikhlas sama sekali. Ada kilatan emosi bercampur senyum paksaan. Nah bayangin sendiri gimana bentuknya. "Eh Kambing, Baru pulang ya?" Tanyaku basa-basi yang ditanggapi dengan anggukan singkat. Melirik Fahri dengan penuh nafsu eh penuh amarah kemudian pergi gitu aja. Mimpi apa gak sih tadi Abi bilang 'sayang' ? Au ah ...... * * * * * * "Kambing.... yuhu... spada... ada rumput hijau datang.. yuhu..." Ceklek..! "Hai Mbing..." Sapaku dengan sumringah. Kambing membukakan pintu dengan baju rapi sepertinya mau pergi. "Mau ke mana Mbing kok rapi amat?" Tanyaku ingin tahu. Jangan bilang mau kencan. Gak kuat hatiku mak... "Eh Re untung kamu disini. Ikut aku bentar dan kamu cukup senyum dan anggukin kepala aja oke? " Mau tanya mau ngapain tapi Abi udah main seret masuk ke dalam rumah. Digandengnya tanganku dengan erat bikin maknyus hati. "Sorry Ndri aku mau jalan sama pacarku. Berhubung dia udah dateng jadi maaf kalo aku gak bisa nemenin kamu" "Heh anak kecil, jangan senang dulu karna udah milikin Abi. Lihat aja aku bakal rebut dia lagi!" Dengan kesal ia mengehentakkan kakinya melangkah keluar. Aku hanya diam tidak tahu berhadapan dengan siapa. Genggaman Kambing dan rengkuhan di pundakku membuat kata-kata perempuan barusan tidak lagi mengganggu pikiran serta hatiku. "Dia siapa?" Tanyaku lirih "Tunangan" Jawabnya masih menggenngam tanganku erat. Kurasakan kakiku lemas. Kemaren Kak Dian trus Kak Ani sekarang tunangan. Ya ampun kenapa hidup embek dikelilingi cewek semua sih? "Mantan" Lanjutnya yang membuatku sedikit lega. "Owh" Padahal pengen teriak hore..... brati masih free dong..! "Ayo" Ajaknya berjalan keluar rumah sedangkan aku hanya mengikuti langkahnya. "Kemana?" Masih bingung mau diajak bersandiwara lagi atau gimana "Ganti baju kita nonton" Aku hanya nurut aja Kambing menggandeng menuju rumahku setelah mengunci pintu rumahnya. Kambing menunggu di teras depan sedangkan aku berganti baju. Yah.. setidaknya terlihat seimbang dengan penampilan Kambing. Selesai ganti baju, menggerai rambut panjangku serta sedikit bedak dan lipgloss aku keluar tentunya dengan seizin Mama. Abi mengajakku nonton film action ditemani Popcorn dan dua gelas cola. Abi hanya membeli satu pocorn ukuran besar yang membuat kami saling berebut mengambil. Setelah menonton dan makan Abi mengajakku berkeliling membeli kebaya. "Buat apa sih Mbing kok beli kebaya?" "Buat kamu, Kan bentar lagi kelulusan" "Gak usah Mbing, kebayanya bisa nyewa kok kenapa harus beli?" Aku gak sanggup beli apalagi ditempat begini mana cukup uang sakuku. "Udah diem aja" Abi menarik tanganku mengikuti langkahnya. Setelah bertanya dan memilih akhirnya Abi memberikan sebuah kebaya warna merah marun untuk kucoba. Mematut diri dengan kebaya ini membuatku terlihat cantik. Yah.. kuakui memang terlihat berbeda. Mungkin efek harga mahal kebaya ini membuat tubuhku yang mirip papan penggilasan jadi sedikit berisi. Oh My God! "Hem... udah semakin Madein" Ucap Abi tiba-tiba membuyarkan lamunanku dari keterpanaan memandangi diri sendiri. Aku hanya mengerutkan kening mendengar istilah Abi. Kebaya indah dibelikannya masih kugenggam. Sepanjang hari ini kami bersenda gurau saling meledek seperti biasa ketawa-ketiwi sampai perutku mulas. "Ayo pulang Mbing" Pintaku melirik jam sudah hampir sore. "Kenapa buru-buru sih" "Fahri mau dateng nih ke rumah. Kasihan kan kalo udah dateng aku gak ada di rumah" Jelasku karena Fahri baru saja SMS jika dia ingin ke rumah mengembalikan jaket. "Ada hubungan apa kamu sama dia?" Tanyanya penuh selidik. "Temen doang. Kasihan dia gak punya temen di sekolah soalnya dia langganan bully an anak-anak" Jelasku dengan tampang agak sedih. "Jangan deket-deket dia" Ketus amat sih ni orang. Mau aku deket sama siapa kan terserah. Dia aja 'main bertiga' juga aku gak nglarang tapi diajak gabung juga hayok. Sesampai di rumah, Fahri ternyata sudah menunggu di teras ditemani mama. Karena tatapan Abi yang mematikan membiat Fahri buru-buru pulang tak lupa ia menyerahkan jaket milikku. * * * * * * Hari kelulusan tiba. Setelah pengumuman seratus persen kami lulus, seminggu kemudian diadakan acara wisuda pelepasan murid kelas tiga. Setiap siswa akan didampingi oleh salah satu wali yang duduk bersampingan. Pagi-pagi aku sudah hampir terlambat datang karena ternyata mama ada pesanan nasi kotak buat acara rapat guru TK sebelah rumah. Alhasil mama tidak bisa berangkat bersama denganku. Meakipun undangan untuk wali murid masih jam delapan namun bagi siswa harus sudah datang maksimal pukul tujuh dan mama masih mandi. Ahhhh alamat aku telat dan gak mungkin juga aku berangkat sendiri naik sepeda motor dengan kebaya dan dandanan cantik begini. Mau tak mau aku meminta Abi mengantarku seperti tiga tahun lalu aku pernah minta antar dia saat kelulusan SMP. Dengan wajah bangun tidur kuseret dia ke arah motor milikku. Kalau dibonceng motor Abi model nungging aku trauma kejadian susah naik turun terjadi lagi. Berhubung motorku model perempuan pasti lebih mudah saat aku naik. "Apa sih Re.. aku ngantuk. Tadi habis subuh aku tidur lagi" dengan mata setengah terpejam dia menggerutu dan nurut aja pas kuseret ke halaman rumahku. "Mbing ah kamu bangun dong. Anterin aku ke sekolah" Kupencet hidungnya yang membuatnya langsung membelalakkan mata dengan lebar "Eh apaan sih main pencet hi..." Sambil mengusap hidung dia jiga lihatin diriku tanpa kedip bahkan kalimatnya gak diterusin. Kenapa sih emang dandanku aneh ya? Padahal jam lima pagi aku udah nangkring di salon langganan warga sekitar rumah yang biasa mempermak warga saat karnaval tiba. "Kenapa malah bengong Mbing... Buruan dong aku udah telat nih" Kutepok jidatnya pakai kunci motor yang akhirnya dia segera mengemudikan motor milikku. Aku duduk miring dengan berpegangan pinggangnya. Melewati jalur tikus karena aku tidak memakai helm serta agar lebih cepat sampai. Suasana dari pintu gerbang sekolahku tampak ramai. Abi menurunkanku di luar gerbang. Tidak seperti saat SMP dulu yang langsung tancap gas setelah menurunkanku, kali ini dia ikut turun dan memarkirkan motornya. "Re foto berdua dulu" Pintanya segera kupanggil seorang perempuan adik kelasku yang sedang lewat untuk memfoto kami berdua. Kemudian berselfi dengan handphone milikku serta Kambing bergantian pastinya dengan pose lucu dan aneh. Baru kali ini kami berselfi ria berdua. "Aku pulang dulu Re" Pamitnya setelah kupinta agar segera pulang karena acara sudah akan dimulai. "Kamu cantik Re" Dan dia melesat pergi meninggalkanku terpaku. Pipiku yang sudah merah terkena blush on kini semakin merah dan panas. Ya ampun jangan bikin diriku pingsan di sini saat ini juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN