Saingan

1262 Kata
Kupandangi wallpaper handphone bergambar diriku dengan muka bantal karena memang baru bangun tidur saat Rere menyeretku mengantarnya ke sekolah namun tetap saja tampan seperti biasa, merangkul Rere dengan make up minimalis yang dipadukan dengan kebaya. Rambut disanggul dengan menyisakan sedikit poni samping. Cantik Dengan senyum manis serta kedua jari tengah dan telunjuk direntangkan membentuk huruf V sedangkan diriku mengangkat ibu jari. Serasi bukan? Memandangnya tanpa lelah meski berkali-kali, di manapun kusempatkan membuka handphone sekedar menatap wallpaper , galeri foto yang menyimpan berbagai pose foto kami berdua dari ekspresi serius sampai konyol yang kusimpan rapi dalam folder khusus. Kenapa dia semakin cantik saja? Padahal empat tahun lalu dia masih bocah ingusan yang kurus kerempeng, sedangkan sekarang oh lihatlah saat kebaya itu menempel membentuk lekuk tubuhnya menandakan dia benar-benar mampu membuat laki-laki meneguk liurnya bahkan tersedak pula. Ah.. Madesuku sudah beralih ke level Madein. "Bi, kamu jadi kapan ujianya?" Pertanyaan Dian yang baru datang membuyarkan pikiranku dari sosok Rere. "Lusa. Itupun gelombang terakhir sebelum bulan depan wisuda" "Semangat ya Bi. Biar kita bisa wisuda bareng" sahabatku satu ini meskipun kadang ngeselin dengan traktiran DVD nya tapi tetap saja dia baik. Kaya sih tapi gila gratisan. "Dari tadi senyum-senyum sendiri emang ada apa sih Bi?" Tanyanya mengikuti arah pandangku ke layar HP "Cantik ya Yan" "Gak serasi amat. Dia dandan cantik gitu nah kamu belek aja masih nempel" protes Dian melihat foto walllaperku "Gak keburu Yan kasihan Rere udah telat" belaku "Aku mau ke tempetnya Ara, kalo kamu butuh apa-apa buat ujian ntar bisa hubungi aku. Dah Bi" Pamit Dian meninggalkanku. Kulihat jarum jam sudah semakin siang. Tujuan ke kampus siang ini mencari refrensi untuk ujian juga udah kelar. Ehm.. mungkin ngajak Rere ke Ragunan boleh juga mumpung bukan weekend jadi tidak begitu ramai. * * * * * Karena sampai di rumah sudah siang dan aku sendiri ketiduran sampai sore akhirnya rencana ke Raguna kutunda esok hari. Meski awalnya Rere menolak ajakanku ke Ragunan karena dianggap seperti rekreasi anak TK namun dengan segala bujuk rayuku akan membelikanya es krim jumbo, kembang gula dan balon akhirnya dia setuju. Lihat sekarang siapa yang mirip anak TK. Dasar! Mama Rere selalu mengizinkan jika aku mengajak anak gadisnya pergi mungkin karena beliau percaya denganku. Bahkan saat kami berpamitan akan pergi ke Ragunan pagi ini Mamanya membekali kami dengan berbagai snack dann kue sisa catering. Hah.... bahkan semakin mirip akan pergi rekreasi. Pukul delapan kami berangkat. Setelah membeli tiket, berdua berkeliling melihat jerapah, gajah dan aneka satwa lainya. Tak lupa berfoto bersama beberapa satwa atau memberi mereka makan. Kami menikmati rekreasi anak TK ini. Sangat! "Mbing aku foto sama patung itu ya?" Pinta Rere menunjuk patung orang hutan dengan pose goyang itik. Rere pun melakukan pose yang sama berlainan arah dengan p****t mereka beradu. Astaga Rere.... makin seksi aja sih. Kemudian foto kami berdua memegang ular. Tidak ada rasa takut sama sekali bahkan si ular terlihat manja dengan Rere. Dasar si ular genit. Kalo dia manusia berjenis kelamin laki-laki sudah kupastikan tulangnya remuk. Lelah berkeliling kami memilih sebuah kursi dengan pohon yang rindang untuk istirahat. Dikeluarkan bekal yang Rere taruh di tas ranselnya. Sedangkan diriku pergi membeli minuman dingin. "Iya Bu terima kasih doanya" Samar kudengar suara Rere yang melambai pada seorang ibu-ibu. Aku berjalan kearahnya dan menyerahkan sebotol minuman dingin. "Siapa tadi?" Tanyaku ikut duduk disebelahnya dan mengambil risoles lalu memakanya. "Oh Ibu tadi tanya kok aku sendirian" "Trus kamu jawab apa?" "Sama tetangga" Gak elit banget ngakuin diriku cuma sebagai tetangga. Temen kek, kakak kek atau pacar mungkin. "Kok gitu?" Gak terima aku "Lah emang bener kan kamu tetanggaku. Masak mau jawab 'sama kambing piaraan saya Bu' gitu?" Aku mendesah kecewan, pengakuan apaan itu, Menyebalkan. Kulihat ibu itu berjalan kembali ke arah kami duduk "Nak Rere boleh minta nomornya? siapa tau anak saya juga naksir sama nak Rere setelah saya lihatkan foto tadi" Ucap ibu itu yang langsung membuatku tersedak. "Maaf Bu maksudnya apa ya?" Tanyaku pelan sambil melirik Rere yang menggaruk kepalanya sambil nyengir. "Ini loh tadi nak Rere bilang lagi sendiri alias jomblo jadi ibu tawarin anak saya siapa tahu berjodoh. Anak saya sudah kerja jadi sudah mapan" Kukepalkan tanganku mendengar penjelasan kagum penuh harap dihadapanku. "Ehm maaf bu tapi Rere sudah punya pacar. Bahkan kami akan segera menikah saat Rere kuliah nanti" Ucapku seembut mungkin membuat penolakan tersopan. "Oh jadi ini pacarnya nak Rere? Lah tadi bilangnya lagi jomblo. Ya sudah kalo begitu saya gak jadi jodohkan. Permisi" tampak kecewa Ibu itu berjalan menjauh. Kutatap Rere yang cuek makan kue bolu bahkan sambil bersenandung. "Kok kamu nawarin diri sama anaknya?" Geramku "Ibu itu sendiri yang nawarin. Lagian lumayan juga diriku ada yang minat" Acuhnya. Kutarik pergelangan tanganya hingga tubuhnya mendekat bertubrukan dengan tubuhku. "Jangan lagi" Bisikku pelan membuatnya mengerjapkan mata. "Ih apaan sih main tarik aja. Udah yuk pulang capek nih" ditarik kembali tanganya kemudian berdiri. Akupun ikut berdiri. Kugandeng tanganya sepanjang jalan menuju pintu keluar. "Re, jangan mudah menerima laki-laki" Ujarku tanpa meliriknya. Pandangan kami seakan sama hanya menatap lurus jalanan. "Kenapa?" "Aku takut kamu akan kecewa dan tersakiti lagi" bukan itu Re... kamu cuma milikku. "Ehm iya Mbing aku tahu" Dia berhenti tiba-tiba dan mengahadapku. "Makasih Mbing kamu selalu jadi penolongku. Tapi aku yakin setelah ini bakal lebih hati-hati" Ucapnya sambil tersenyum digamitnya lenganku dan disenderkan kepalanya kebahuku. Oh astaga jantungku... Jangan sampai dia denger Tidak.... ah kenapa debaranya semakin kencang.. Beberapa detik kami hanya berdiri diam dan debaran jantung dua kali lipat semakin kencang. "Kenapa berhenti di sini sih Re. Ayo jalan" Pintaku sedikit menormalkan debaran tak biasa ini. "Jawab dulu Mbing ucapan makasihku" "Iya iya Re sama-sama. Anggep aja aku kakak yang siap sedia buat adiknya" Bodoh banget sih nawarin diri jadi kakak. Kalo kakak mana boleh nikah? Ah... coba tadi tawarin 'anggep aku pacar' pasti lebih berguna. * * * * * * Hari ini aku ujian ditemani Dian dan Ani yang menunggu sedari pagi karena jadwalku memang pagi. Semua pertanyaan dapat kujawab dengan lancar bahkan refrensi yang diminta pun cukup membuat jawabanku kuat. Aku berharap nilai A untuk ujian ini. Selesai ujian Ani dan Dian menyambutku dengan semangat bahkan mereka sampai membelikanku minuman, nasi kotak segala berasa sedang ikut seminar saja. Tapi begitulah mereka, sahabat terbaikku yang selalu mendukung langkahku. Sesampai di rumah aku menghubungi Rere mengajaknya mencari jas dan kemeja untuk wisudaku bulan depan. Namun entah kemana Rere tidak ada di rumah. Mamanya bilang dia tadi pergi dengan Sania temanya. Meskipun agak kecewa namun tetap saja aku pergi belanja selagi uangku masih belum terpotong bayar kontrakan. Uang kiriman? Masih utuh karena aku menabungnya dan kuambil saat keperluan mendesak. Sehari-hari hanya mengandalkan uang usahaku sendiri di dunia maya. Dengan berat hati aku pergi ke salah satu pusat berbelanjaan sendiri. Memilih jas yang sesuai meski berganti-ganti kucoba hingga kuputuskan salah satu yang paling pas. Selesai membayar dengan tunai. Hei jangan bayangkan aku seorang yang kaya denga kartu kredit unlimited tinggal gesek beres. Aku hanya mahasiswa oke sekali lagi mahasiswa yang sebentar lagi lulus. Saat hendak berjalan keluar samar-samar kulihat seorang perempuan sedang memilih baju di deretan baju laki-laki dan seorang laki-laki yang tinggi mengekorinya. Rere.... Dari jauh saja aku tahu kalo dia Madesu. Tapi bersama siapa dia? Bukanya tadi mamanyaa bilang pergi dengan Sani? Seperti mendapat sengatan matahari langsung mengenai ubun-ubun. Rasa panas menyelimuti seluruh tubuhku. Sepertinya diriku benar-benar sudah terbakar. Dan lihatlah... Rere bahkan menempelkan baju untuk mengepaskan ukuran si lelaki. Dan sialnya kuakui laki-laki itu lumayan menarik untuk ukuran perempuan ABG seperti Rere. Sial..... siapa sih dia? Mencoba mencari perhatian dengan Rere ya? Kupastikan kau mundur lebih jauh saat kau lihat siapa yang lebih berhak atas Madesuku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN