Surprise

1206 Kata
"Rere kan?" Tanya seorang perempuan yang jelas mengenalku. "Iya. Kakak sendirian?" Tanyaku pada Kak Dian yang menenteng belanjaan. "Tadi sama Ara tapi masih ke toilet. Kamu gak sama Abi?" Tanyanya yang kujawab gelengan. Haduh... kenapa juga tanya tuh embek. Emang kalo aku jalan harus sama dia? "Antri banget Yan, eh ini Madesunya Abi kan?" Celetuk perempuan berperut buncit yang datang diantara kami. Haduh.. nama Madesu tenar amat sih. "Eh iya. Ini pasti Kak Ani eh kak Ara ya? Kam.. eh Kak Abi pernah cerita soalnya" Yah... hampir aja aku memakai nama kambing lagi. Lagipula dia ngenalin aku pakek Madesu. Impas...! "Sama siapa?" Tanyanya lembut sambil melirik kearah samping celingak celinguk. Duh cantik amat sih Kak pantesan Kambing klepek-klepek. Sayang banget dirimu Bi kalah saing sama Dosen cakep. Kalo embek yah embek aja. "Tadi sama temen tapi mereka masih ke salon" jawabku. Memang aku kesini bersama Sania dan Fahri. "O ya tadi pagi Abi ujian skripsi dan bulan depan kita wisuda. Kamu gak lupa ngasih ucapan selamat kan? Kalo dilihat dari ekspresinya keluar ruang ujian, dia sukses berat" ucap Kak Ara menjelaskan. Oh ya? Abiku tadi ujian? Wah kasih hadiah ah.. "Ya udah kami duluan ya. Kasihan ibu hamil ntar kecapekan. Bye Re..." kulambaikan tangan membalas kedua perempuan cantik yang berlalu meninggalkanku sendiri di gerai baju. Tadi Sani datang ke rumah hendak membeli kado buat kakaknya yang lusa menikah. Saat akan berangkat tiba-tiba Fahri datang. Alhasil kami bertiga berkeliling mencari kado. Dan sekarang... Sani dengan sedikit memaksa Fahri untuk merubah penampilannya di salon. Karena aku tidak begitu suka suasana salon akhirnya hanya menunggu sambil memilih-milih baju. Tak lama kemudian Sani dan Fahri datang. Oh my god... Fahri bener-bener berhasil disulap sama pegawai salon. Lihat saja rambut klimisnya sudah ditegakkan seperti kena setrum listrik, kacamatanya musnah berganti lensa kontak. Tapi... bajunya masih kemeja kecekik. "Sorry nunggu lama. Nih gimana hasil permaknya?" Dengan bangga Sani memperlihatkan perubahan Fahri dari yang klimis jadi kinyis-kinyis. Ulala....... kuangkat empat jempolku, yang dua cuma angkat dikit soalnya kan di kaki. Kalo diangkat beneran ntar akunya ambruk. "Perfect. Tapi bajunya masih jaman Pak Karno hidup" Aku berjalan menarik tangan Fahri untuk mengikuti langkahku. Memilih beberapa baju dan mengepaskan ke badanya. Setelah beberapa baju terpilih aku membantunya di kamar pas. Eh maksudnya cuma nungguin diluar sambil bawain baju. Bukan ikutan masuk. Haduh ntar ketahuan sama CCTV trus tayang di stasiun tv kan gak siap aku jadi artis mendadak dengan judul berita "Sepasang remaja terekam sedang berbuat m***m" Sudah berapa baju kupilihkan bersama Sani, Fahri nurut meskipun agak cemberut menerima tanda jempol terbalik setiap dia keluar dari kamar pas hingga..... Tiga pasang baju berhasil lolos seleksi kami. Segera setelah Fahri membayar kami bertiga melanjutkan perjalanan berburu hadiah. "Kaku amat sih jalanya" kesal Sani melihat Fahri yang berjalan macam siput kecebur got "Aku baru pertama kali jalan sama perempuan begini" Akunya yang membuatku dan Sani geleng-geleng kepala "Paling hidupmu cuma di perpus yang tenang. Dan pastinya sepi" "Iya lah" tambahku. "Makasih ya kalian udah mau temenan sama aku" ungkapnya kepada kami "Udah gak usah dipikirin santai aja. Mulai sekarang kita teman. Oh ya minggu depan kamu dateng ya ke nikahan kakakku" pinta Sani yang amat ditanggapi anggukan semangat dari Fahri. Selesai makan dan menemukan kado buat kakaknya, Sani buru-buru mengajak kami pulang karena mendapat telepon suruh bantuin persiapan nikah. Kami kesini tadi menggunakan motor Sani dengan diriku sebagai penumpang sedangkan Fahri mengendarai motornya sendiri. "Sorry ya aku pulang duluan. Re kamu bareng Fahri aja ya" Dengan tergesa Sani memberesi belanjaanya. Aku dan Fahri melambaikan tangan. "Mau pulang sekarang?" Tanya Fahri "Ntar dulu aku mau cari rumput plastik" Fahri mengernyitkan kening bingung dengan keinginanku "Udah ah ayo" Rumput plastik kan lebih awet. Bisa dipajang di kamar, di ruang tamu, kalo doyan juga dimakan gak papa. Pokoknya buat Kambing apa ja boleh. * * * * * * * Hari ini Abi wisuda, tadi pagi aku lihat dia pakai kemeja putih dan celana hitam berangkat mengendarai motornya. Lihat dari jauh aja dia kelihatan laki banget, apalagi udah mendekat pasti kelihatan jantan. Nah lo.. pikiran ngelantur kemana-mana. Setelah Abi berangkat aku kembali masuk ke kamar membungkus kado spesial sebagai ucapan selamat buat wisudanya. Selesai dengan kado yang dijamin Abi bakal terpukau segera aku mandi, berdandan rapi dengan baju cantik hasil hunting sama Sania dan Fahri saat itu. Drees warna krem dengan hiasan ikat pinggang serta sedikit make up tipis aku bubuhkan. Rambut yang biasa aku gerai kini agak sedikit kunaikan semi disanggul. Semua ini hasil tutorial dari Sani dan lumayan lah hasilnya untuk diriku yang pemula. Berangkat dengan taxi menuju salah satu hotel tempat dilangsungkan acara wisuda. Meskipun dia tak pernah bilang kapan dan di mana tempatnya, tapi aku sempat lihat undangan yang tergeletak di meja rumahnya. Sesampai di lokasi aku tidak diperkenankan masuk karena tak memiliki undangan. Alhasil aku duduk-duduk saja di ruang tunggu lantai bawah. Tak berapa lama kemudian beberapa wisudawan masih memakai baju kebesaranya ataupun yang sudah melepasnya memperlihatkan kebaya dan sanggul menawan berjalan keluar. Beberapa orang asyik berfoto dengan teman maupun keluarganya. Aku masih sibuk meneliti siapa tahu Abi sudah keluar ruangan wisuda dan berjalan disekitar lobby, hingga aku menemukan sosok itu. Dengan langkah pelan diapit kedua orang paruh baya yang kuyakin calon mertuaku hihihi. Oh Abinayaku...... Aku masih diam ditempat memperhatikan mereka bertiga yang tengah berbincang. Kemudian wanita paruh baya mencium kedua pipi Abi lalu merangkulnya hangat, pun laki-laki di sebelahnya merangkul dan menepuk pundak Abi. Keduanya seperti hendak berpamitan. Tinggalah Abi sendiri. Oke sekarang saatnya beraksi. Tegakkan kepala, busungkan d**a, senyum paling manis dan Berjalan setengah berlari kearah dia masih berdiri. Aku menubruk badanya hingga dia hampir terjungkal kebelakang. Sedikit memeluknya dengan girang, Abi melongo bingung. Cuma sebentar kemudian ia pun merengkuhku dalam pelukanya. "Rere?" Aku hanya tersenyum. Memperhatikannya masih dalam balutan baju wisuda membuatnya terlihat semakin errr..... ganteng. "Selamat ya Mbing udah wisuda" ucapku setelah kami melepaskan pelukan spontan. "Makasih Re, kok bisa dateng?" "Gak boleh ya aku dateng?" Kukerucutkan bibirku tanda kesal dan kecewa jika kehadiranku tak diharapkan "Bukan gitu. Gak nyangka aja dapat kejutan gini" Ditangkupnya wajahku dengan tanganya "Cantik banget sih" ucapnya gemas sedikit menggoyangkan wajahku kekanan kiri. "Emang biasanya jelek?" Sungutku kesal "Mau belekan, ileran, ingusan juga tetep cantik kok" Pujinya langsung membuat pipiku memanas. "Ayo kita kesana" Digenggamnya tanganku berjalan beriringan menuju teman-temanya mengabadikan kebahagiaan masing-masing dengan berfoto. Melihat seseorang yang dekat atau yang kita sayangi akhirnya mencapai keinginanya membuat kita ikut merasakan kebahagiaanya. Abinaya... semoga kesuksesan selalu menghampirimu. * * * * * * * "Kambing.... bukain dong" Kugedor pintu rumah Abi pagi-pagi sekali. "Eh Re ada apa?" Masih dengan wajah mengantuknya Abi membukakan pintu "Sorry ganggu. Cuma mau ngasih ini kemaren lupa. Sekali lagi selamat ya Mbing" ucapku tulus sambil menyerahkan kado yang kubungkus rapi hasil perburuan dengan Fahri. "Apa nih Re?" tanyanya bingung membolak-balikkan kado "Udah buka aja di dalem. Aku mau ke kampus baru. Hari ini registrasi" Kulambaikan tanganku dan berjalan pulang. Setelah diterima di kampus yang aku inginkan namun di jurusan yang tidak sesuai harapan awal, akhirnya hari ini aku melakukan registrasi. Bersama Fahri aku berangkat. Kini Fahri sudah berubah semacam power rangers, udah agak gaul sedikit. Diboncengnya diriku dengan motornya, melaju perlahan membelah padatnya ibukota di pagi hari. Setelah ini aku seorang mahasiswi. Harusnya lebih dewasa. Abi... aku juga ingin sukses sepertimu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN