Good Bye

1168 Kata
Membuka kado yang diserahkan Rere untukku, berharap bukan bom maupun hewan melata. Bukan tidak percaya dengan ketulusan Rere hanya saja masih awam menerima kado seperti ini terlebih dari Rere yang kadangkala usil. Kubuka kotak tersebut, menyobek bungkus kado bergambar batik. Dan muncullah benda berbentuk tabung dengan gambar shaun the sheep dan foto kami berdua yang diambil saat rekreasi ke Ragunan. Masih terngiang kata-kata Rere jika kado ini sebagai ucapan selamat atas wisudaku Mengingat hari wisuda, memoriku masih menangkap jelas bagaimana terkejut sekaligus senangnya diriku mendapati gadisku, Madesu Rere datang memberikan selamat. Setelah kedatangan orang tua menjadi saksi keberhasilan diriku meraih IPK tertinggi tingkat fakultas, kemudian Rere datang mengucapakan selamat dan pelukan. Masih terekam jelas betapa cantiknya dia dengan khusus datang menemuiku bahkan sekarang memberikan hadiah pula. Sungguh menggemaskan bukan Madesuku? Kusunggingkan senyum mengamati mug bergambar kambing dan foto kami yang menghiasinya. Ada selembar kertas menyertai mug tersebut yang digulung dan dimasukkan dalam mug. Dear Abinaya...... Selamat atas keberhasilanya menyandang gelar Sarjana Hukum. Semoga kedepanya dapat menjadi penegak hukum sejati. Jadilah pahlawan untuk setiap orang, termasuk aku. Bukan hadiah istimewa yang bisa aku berikan, hanya sedikit sketsa betapa miripnya anda dengan pemeran utama Shaun The Sheep. Oke just kidding. Pokoknya semoga lancar selalu, habis ini langsung cari kerja buat modal kasih makan anak istri. Aku juga akan mengikuti jejakmu untuk sukses. Miss you kambing Penjinak Kambing –Rere Kukulum senyum membaca surat dari Rere. Empat tahun aku mengenalnya, selama itu pertemuan kami hanya diisi pertengkaran semata. Akhir-akhir ini saja seakan takdir memberi ruang damai pada kami. Bukankah benci dan cinta hanya setipis benang? Benarkah aku memang mulai mencintainya? Ataukah sekedar pelarian semata atas kegagalan cinta pertama. Itulah mengapa aku masih ragu dengan perasaanku sendiri. * * * * * Dua bulan setelah wisuda aku disibukan dengan pelatihan PKPA sebagai syarat mengikuti ujian PERADI yang gelombang keduanya akan diselenggarakan akhir tahun ini. Meskipun papa sudah memberiku wewenang pada perusahaan sebagai konsultan hukum, tetap saja kredibilitasku sebagai ahli hukum harus benar-benar mumpuni bukan sekedar modal nama besar pemilik perusahaan. Ujian dilaksanakan serentak se indonesia pada bulan Desember mendatang. Untuk gelombang pertama sudah diumumkan hasilnya melalui website resmi PERADI. Selama ini pula aku belum pernah bertemu Rere dengan leluasa seperti dulu saat ia masih SMA. Rere sibuk dengan OSPEK, kemudian kuliah perdana yang mengambil paket 24 sks di semester awal membuat intensitas pertemuanku denganya menjadi berkurang. Kami masih saling menyapa, bercanda lewat ponsel, atau sekedar dia datang membawakan kue buatan Mamanya namun tidak sesering dan selama dulu. Bahkan kami belum pernah sekalipun keluar jalan berdua menikmati jalanan ibukota dengan byson kesayanganku semenjak wisudaku. Kesibukan seolah merenggangkan kedekatan kami yang semakin hari semakin damai pasalnya kami tak lagi terlinat cekcok, pertikaian mulut dan aksi melempar kerikil, lagi. Aku merindukanmu Madesuku Ponsel berbunyi membuyarkan lamunanku. Selesai dengan panggilan yang amat mendebarkan dari Dian membuatku segera meraih kunci motor, saat hendak menyalakan motor kulihat Rere berjalan menuju rumahku, melirik sebuah kotak ditanganya yang menandakan jatah kue untukku datang. Tanpa pikir panjang kugandeng tanganya, meletakkan kue kedalam rumah sekaligus mengambil helm yang langsung kupasangkan pada kepala Rere. Tanpa banyak komentar dia menurut pada permintaanku untuk segera naik, memengendarai byson secepat mungkin karena aku tidak ingin melewatkan sedetikpun menemui Ani yang dengan tiba-tiba harus melahirkan saat ini juga padahal usia kandungannya masih sekitar tujuh bulanan. Sesampai di rumah sakit segera mencari ruangan sesuai yang dikabarkan Dian. Ani... sahabatku ..... Dia masih belum sadar setelah melahirkan secara caesar. Setelah menemui Ani yang masih belum sadar, aku dan Rere melangkah menuju ruangan bayi Ani di tempatkan. Bayi mungilnya begitu merah dan teramat kecil untuk ukuran bayi normal. Memang Ani melahirkan prematur karena tekanan darahnya tinggi akibat strea yang teramat. Bayi laki-laki yang di letakkan di dalam inkubator itu menyita perhatianku. "Kenapa bisa begini Pak?" Tanyaku pada Pak Ari yang terlihat begitu cemas melihat istrinya masih belum sadar dan sekarang ikut memperhatikan anaknya, berdiri disampingku. "Aku belum tahu Bi, yang jelas pasti ada alasan kenapa Ara begitu stres hingga melahirkan prematur" ungkapnya. "Bi, setelah Ara sadar aku minta bantuanmu menyelidiki penyebab Ara melahirkan dini" Pintanya yang kuangguki. Aku dan Rere mencoba mencari makanan di kantin rumah sakit. Jujur saja perutku teramat lapar karena sedari pagi belum sempat sarapan. Rere hanya memesan minuman sedangkan aku memesan soto ayam. "Maaf Re aku ngajak kamu sedikit maksa" ucapku saat semangkuk soto masih menanti hadir di mejaku. "Gak papa Mbing santai aja, lagian aku pas libur hari ini" "Kamu beneran gak makan Re?" Tanyaku melihatnya asyik mengaduk jus mangga kemudian menyeruputnya dengan cepat. Tak lama kemudian soto pesananku datang. "Anaknya Kak Ara cakep ya Mbing? Maknya cantik bapaknya juga cakep. Pas deh!" "Cakep mana sama aku?" "Kamu lah, ups" Rere tampak salah tingkah dengan ucapan spontanya. Dalam hati begitu riang dapat pujian tak sengaja langsung dari mulut Rere. "Akhirnya mata kamu terbuka juga ngakuin diriku cakep" Kekehku melihat dia melengos menghindari rasa malunya. "Anaknya lucu ya Re, meskipun dia terlalu mungil. Aku sampai gak tega lihatnya tadi" ungkapku mencairkan suasana canggung "Iya Mbing, semoga aja mereka baik-baik aja" "Kira-kira kalo anak kita mirip siapa ya Re?" "Uhuk.. uhuk" Segera kusodorkan air mineral di sampingku melihatnya tersedak jus. "Duh hati-hati dong Re, sampek keselek gini" Khawatirku melihat wajahnya memerah akibat tersedak "Iya.. udahan kok ini" Selesai makan kami kembali ke ruangan Ani, tampak kedua keluarga berkumpul saling berbincang dan tertawa. Seperti ada kabar gembira hingga langkahku semakin cepat tak lupa menggandeng Rere. Selesai mengucapkan selamat pada Ani, kami segera berpamitan pulang. Selama perjalanan aki mendengarkan dengan antusias Rere bercerita tentang pengalamanya mengikuti OSPEK, kegiatan perkuliahan, teman-teman barunya dan tak lupa Fahri, ada dalam daftar cerita membuatku mengerem motor mendadak. "Aduh Mbing kok berhenti tiba-tiba sih" Gerutunya Menghentikan motor hanya untuk diam meredam rasa sesak dalam hati. Tanpa menanggapi gerutuan segera kutancap gas kembali. Sesampai di rumah aku segera beristirahat. * * * * * Pagi-pahi Papa mengabarkan jika Mama mengalami sakit dan dilarikan ke rumah sakit di Singapura, dengan begitu Papa memintaku pulang menggantikan sementara di perusahaan. Tanpa pikir panjang aku segera mengemasi semua barang pribadi. Beberapa barang seperti buku-buku, barang-barang berat yang masih sangat kubutuhkan aku bungkus dan mengirimnya lewat paket. Selesai memberesi barang, aku pergi ke rumah pemilik kontrakan menyerahkan kunci sekaligus berpamitan. Barang-barang milikku yang masih didalam rumah sementara masih tetap pada tempatnya karena Tria sudah kuminta menjualkan barang-barangku yang tidak mungkin kubawa pulang. Sehari penuh aku disibukkan dengan mengemasi barang. Hari sudah hampir tengah malam. Ingin mendatangi rumah Rere namun kurasa ini bukan jam sopan untuk bertamu. Pagi hari aku berangkat ke rumah Ani yang saat ini tengah mengadakan reaepsi. Sekedar memberi selamat karena aku terburu-buru harus segera ke bandara. Dalam masa menunggu pesawat kucoba berkali-kali menghubungi ponsel Rere namun tetap nihil tanpa jawaban. Pagi tadi sebelum berangkat kuluangkan waktu berpamitan padanya, namun hanya mamanya saja yang di rumah sedangkan Rere sedang mengikuti workshop fakultas yang mengharuskanya menginap. Dengan berat hati aku hanya menitipkan surat dan sebuah bingkisan. Rere.... semoga kita bertemu kembali. Kejarlah impianmu sayang.... Meski aku jauh, yakinlah aku selalu menjadi orang pertama yang akan melindungimu. Selamat tinggal ----------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN